MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (18/07/2026) – WISATABUMI NUSANTARA memasuki Seri ke-25 dengan mengajak pembaca menjelajahi Aspiring Geopark Ternate-Tidore di Provinsi Maluku Utara. Gugusan pulau vulkanik ini menjadi saksi bagaimana aktivitas geologi, kekayaan rempah, dan keanekaragaman hayati membentuk sejarah perdagangan dunia sekaligus melahirkan tonggak penting ilmu pengetahuan modern melalui pemikiran Alfred Russel Wallace. Kawasan ini memadukan warisan geologi, biodiversitas Wallacea, sejarah Kesultanan Ternate-Tidore, dan budaya maritim sebagai fondasi pengembangan pendidikan, konservasi, dan geowisata berkelanjutan.
Teman-teman, mari kita berlayar ke rahim legenda The Spice Islands: Kawasan Aspiring Geopark Ternate-Tidore! Gugusan kepulauan vulkanik eksotis di Maluku Utara ini menyuguhkan ruang kontemplasi mendalam tentang bagaimana muntahan magmatik purba ratusan tahun silam mampu memicu perang dagang dunia sekaligus merombak total kiblat sains global melalui kelahiran teori evolusi modern. Penjelajahan ke rahim Ternate-Tidore menuntun setiap jiwa untuk tertunduk bersujud menyadari mutlaknya Kuasa dan Keagungan Sang Pencipta Jagat Raya yang mencuatkan menara api dari dasar palung samudra sebagai episentrum kemakmuran hayati dan sejarah peradaban manusia. Kehadiran formasi cagar bumi purba ini bertindak sebagai gerbang pariwisata minat khusus yang menyandingkan kedaulatan riset biogeografi dunia dengan kemegahan tata sosial budaya masyarakat kesultanan maritim. Jalinan kosmis ini membawa pesan kuat bahwa melalui instrumen interpretasi geowisata yang mandiri, pusaka abiotik Nusantara yang merekam memori kolonialisme dan revolusi sains harus ditransformasikan menjadi kompas ketahanan nasional yang menyejahterakan masyarakat lokal secara nyata di atas kaki sendiri.
Keunggulan abiotik (Abiotic) kawasan cagar bumi berskala internasional ini dikunci oleh kolaborasi antara aktivitas gunung api aktif dan iklim tropis basah Kepulauan Maluku. Wilayah Maluku Utara ditopang oleh arsitektur vulkanik Gunung Gamalama di Pulau Ternate dan Gunung Kie Matubu di Pulau Tidore yang menjulang langsung dari dasar Laut Maluku. Endapan abu vulkanik selama ribuan tahun membentuk tanah andosol yang sangat subur, berpadu dengan bentang lava hitam Geosite Batu Angus yang membeku ketika bersentuhan dengan air laut. Aktivitas tektonik masa lampau juga melahirkan Danau Tolire yang terbentuk akibat amblesan kawah (gravity collapse), sekaligus menjadi sistem penyimpan air alami yang memperkaya bentang alam vulkanik kawasan ini.

Karakteristik tanah andosol yang subur dan kelembapan tinggi di lereng gunung secara alami menopang pilar hayati (Biotic) sebagai episentrum kawasan Wallacea dunia. Kesuburan tanah vulkanik menjadikan wilayah ini habitat ideal bagi pohon pala (Myristica fragrans), komoditas rempah yang pernah mengubah sejarah perdagangan dunia, serta pohon kenari yang menjaga kelembapan ekosistem hutan. Hutan hujan tropis Maluku Utara juga menjadi habitat berbagai fauna langka yang pernah menarik perhatian Alfred Russel Wallace, di antaranya Burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii), Kupu-kupu Emas (Ornithoptera croesus), Lebah Raksasa Wallace (Megachile pluto), Kuskus Mata Biru Ternate (Phalanger ornatus), hingga Kepiting Kenari (Birgus latro). Kekayaan hayati tersebut semakin lengkap dengan keberadaan Cengkih Afo yang legendaris, talas, sagu, kelapa, kayu manis, serta sumber daya perikanan berupa tuna dan cakalang.
Pada panggung sejarah sosiokultural (Cultural), respons peradaban manusia menyublimasikan karakteristik geologi dan biodiversitas menjadi tonggak sejarah ilmu pengetahuan, kejayaan kesultanan, serta karya sastra yang abadi. Dari sebuah rumah sederhana di Ternate pada tahun 1858, Alfred Russel Wallace menulis “Ternate Essay”, naskah yang dikirimkan kepada Charles Darwin dan menjadi pemicu lahirnya publikasi “On the Origin of Species”, salah satu karya ilmiah paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Jejak perdagangan rempah masih dapat disaksikan melalui Benteng Kastela dan Benteng Tolukko, sementara semangat perjuangan Kesultanan Ternate tetap hidup melalui Tari Soya-Soya dan armada perang Kora-Kora. Kekayaan budaya tersebut semakin diperkaya oleh puisi “Cerita Buat Dien Tamaela” karya Chairil Anwar yang menghadirkan sosok simbolik Beta Pattirajawane sebagai penjaga hutan pala. Warisan budaya Ternate-Tidore juga tercermin dalam tradisi pendakian Gunung Fere Kie, Tenun Puta Dino Tidore, serta kuliner khas seperti Papeda, umbi gori, dan Ikan Fufu.
Oleh karena itu, orkestrasi hulu-hilir antara bentang vulkanik Gunung Gamalama, kekayaan biodiversitas kawasan Wallacea, serta sejarah lahirnya “Ternate Essay” harus diposisikan sebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan (Environmentally Sound and Sustainable Development). Pengembangan situs sejarah Wallace, geowisata berbasis agroforestri pala, dan pelestarian warisan budaya Ternate-Tidore tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan sektor pariwisata, tetapi juga memperkuat identitas bangsa sebagai pemilik salah satu laboratorium alam dan sejarah ilmu pengetahuan paling penting di dunia. Upaya mendorong Aspiring Geopark Ternate-Tidore menuju UNESCO Global Geopark (UGGp) perlu mendapat dukungan penuh sebagai langkah strategis melindungi warisan geologi, biodiversitas, sejarah, dan budaya dari ancaman eksploitasi yang tidak berkelanjutan. Memahami perjalanan peradaban dari aroma pala hingga lahirnya teori evolusi modern merupakan ikhtiar merawat persatuan bangsa sekaligus menegaskan bahwa setiap jengkal tanah, rempah, dan warisan sejarah di Ternate-Tidore harus dijaga demi kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia seutuhnya.
#MalukuUtara #AspiringGeoparkTernateTidore #AlfredRusselWallace #TernateEssay1858 #PohonPalaGamalama #PuisiChairilAnwar #GarisWallacea #BentengTolukkoKastela #WawasanKebangsaan

Judul: WISATABUMI NUSANTARA #Seri-25: “Penjaga Hutan Pala Chairil dan Laboratorium Sains Dunia Wallace yang Mengubah Sejarah”
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












