MajmusSunda News – Bandung, Jumat (17/07/2026) – Alumni STISI Bandung kembali berkumpul dalam sebuah pameran seni bertajuk Pertemuan Ruang Waktu di Hotel De Paviljoen Bandung. Sebanyak 45 dosen dan alumni lintas jurusan memamerkan karya seni sekaligus menjalin silaturahmi dan reuni.
Ya, dulu di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 581, Bandung, pada era 90-an, tepatnya 2 September 1990, pernah berdiri Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia (STISI Bandung). Kemudian, pada 2010 bertransformasi menjadi STISI Telkom dan sejak 2013 menjadi Fakultas Industri Kreatif (FIK) Telkom University.
Nah, sebagian dosen dan alumni STISI Bandung dari seluruh jurusan/prodi kini tengah berpameran, menggelar karya sambil reuni dan bersilaturahmi di Hotel De Paviljoen Bandung, Jalan R.E. Martadinata Nomor 68 (Jalan Riau), Kota Bandung, pada 10 Juli hingga 10 September 2026.

Pembukaan berlangsung pada Jumat (10/07/2026) di Hotel De Paviljoen Bandung dan dibuka langsung oleh Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. Atalia Praratya, S.I.P., M.I.Kom., serta dimeriahkan penampilan Disonansi Metafora (Musikalisasi Puisi).
Kepada para alumni STISI Bandung, STISI Telkom, maupun FIK Telkom University, serta kolektor dan publik seni Bandung yang ingin mengapresiasi karya seni, sekadar berfoto, atau bahkan membelinya, dipersilakan datang ke Hotel De Paviljoen Bandung. Demikian disampaikan Marcom (Marketing Communication) De Paviljoen Hotel, Risma Nurhadiyani.
“Caranya gampang, tinggal ke resepsionis saja. Jadi tidak usah pusing-pusing mencari senimannya. Di resepsionis sudah ada caption, daftar harga, informasi tentang seniman, judul karya, ukuran karya, teknik, dan medianya. Kalau yang mau sekadar mengapresiasi dan foto-foto juga boleh,” jelas alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sanggabuana ini dengan ramah.

Pameran karya 45 seniman, dosen, dan alumni STISI Bandung angkatan 90-an ini menampilkan beragam teknik, mulai dari lilitan kawat, arsiran, anyaman, teknik tempel, cat akrilik, cat minyak, pahatan, hingga eksplorasi mixed media. Keragaman itu menegaskan bahwa tidak ada jalur tunggal dalam berkesenian. Setiap seniman tumbuh melalui pengalaman yang berbeda, tetapi tetap membawa resonansi dari ruang pembelajaran yang dahulu mempertemukan mereka.
Tajuk pameran ini adalah “Pertemuan Ruang Waktu”. Menurut Kurator Pameran, Rahmat Jabbaril, tajuk tersebut terinspirasi dari gagasan ruang-waktu Albert Einstein. Pameran ini memandang karya seni sebagai jejak peristiwa. Setiap karya merupakan rekaman proses panjang yang membentuk kesadaran artistik para penciptanya. Ruang pamer tidak hanya menjadi lokasi dan waktu tidak hanya sekadar hitungan tahun. Keduanya berfungsi sebagai medium yang mempertemukan kenangan, masa lalu, masa kini, proses, dan pencapaian.
Rahmat juga membaca pameran ini melalui perspektif fenomenologi Edmund Husserl. Kesadaran selalu bergerak menuju sesuatu. “Pertemuan Ruang Waktu” hadir ketika pengalaman artistik yang tersebar dalam rentang ruang dan waktu kembali menemukan medan perjumpaannya. Pameran ini dapat dibaca sebagai singularitas kecil, titik temu berbagai lintasan pengalaman, gagasan, dan ekspresi yang membentuk konstelasi baru.

Pameran seni rupa yang menampilkan beragam teknik ini mendapat apresiasi tinggi dari Atalia Praratya. Hampir seluruh seniman disapa dan diapresiasi karyanya. Tampak Bu Cinta sangat menikmati pameran tersebut. Maklum, doktor Ilmu Komunikasi lulusan Unpad ini merupakan penikmat seni yang memahami dunia seni. Ditambah lagi, mendiang suaminya, Ridwan Kamil, seorang arsitek dengan banyak karya seni, serta putrinya yang kerap mengajaknya mengunjungi pameran seni rupa dan museum.
“Seni itu perjuangan yang tidak mudah karena menghadirkan banyak hal, mulai dari pengalaman, perasaan, keindahan, hingga berkaitan dengan waktu yang mematangkannya,” kata Bu Cinta.
Karya 45 seniman STISI Bandung angkatan 90-an dari jurusan/prodi Fotografi, Kriya, Desain Interior, DKV, dan Seni Lukis yang menggunakan beragam teknik dan media ini, menurut Atalia, merupakan sesuatu yang indah. Pertemuan ini tidak hanya mempertemukan mereka yang memiliki tujuan yang sama dalam dunia seni, tetapi juga menjadi ajang bernostalgia dan bersilaturahmi. Kebersamaan tersebut menunjukkan bahwa seni mampu beresonansi melalui semangat berkarya, semangat terus belajar, dan semangat menciptakan karya seni yang bermakna.
“Saya reueus (bangga) karya-karya ini bisa terus dihadirkan. Jadi, kalau ada sebuah ruang pameran, bukan hanya untuk menampilkan karya saja, tetapi juga menunjukkan bahwa seni akan selalu hadir dalam berbagai prosesnya, juga dalam berbagai ruang dan waktunya. Semoga pameran ini menjadi ruang apresiasi, inspirasi, dan kolaborasi bagi seluruh insan seni serta para pengunjung. Selamat atas dibukanya pameran ini. Semoga bisa memberikan semangat saling berbagi inspirasi. Termasuk ini juga mengayakan kebudayaan kita,” pungkas Bu Cinta sebelum menggunting pita.
Hotel De Paviljoen Bandung Dulunya Galeri Seni
“De Paviljoen Hotel ini dulunya memang rumah galeri seni. Jadi, kita tidak meninggalkan seninya. Makanya, di sini selalu ada pameran seni. Tidak hanya lukisan, biasanya juga ada pameran batik dan lain-lain,” jelas Risma Nurhadiyani.
Pameran di Hotel De Paviljoen Bandung digelar rutin tiga kali dalam setahun dengan tema yang berbeda. Untuk pengelolaannya biasanya bekerja sama dengan kurator. Pihak De Paviljoen hanya menyediakan venue (tempat) dan pembukaan (opening) saat pameran seni (art exhibition) dimulai.
Bandung Harus Jadi Dapurnya Seni Dunia
Adalah mimpi Sang Kurator De Paviljoen Hotel, Rahmat Jabbaril, yang ingin menjadikan Bandung sebagai barometer seni dunia. Karena itu, ia kini tengah giat membangun dan menghimpun komunitas seni di Bandung maupun di luar Bandung untuk balik Bandung, kebo mulih pakandangan, dan membesarkan Kota Paris van Java agar menjadi barometer seni dunia, dapurnya seni internasional setelah Prancis.

Menurut Rahmat, Bandung memiliki banyak perguruan tinggi seni, seniman yang telah malang melintang di berbagai ajang seni dunia, serta sejarah besar yang mampu melahirkan gerakan-gerakan budaya dan politik, seperti Bung Karno yang menempuh pendidikan di ITB Bandung dan melahirkan gagasan besar Konferensi Asia-Afrika. Gagasan-gagasan seperti itulah, kata Rahmat, yang harus menjadi energi.
Sejak menjadi kurator di De Paviljoen pada periode 2023–2026, Rahmat telah memetakan sembilan komunitas, di antaranya Komunitas 22 Ibu, Pelukis Wanita Indonesia Jawa Barat, Komunitas SOS, Komunitas Bandung Selatan, Komunitas Pelukis Jalanan, hingga komunitas siswa SD.
Itu belum termasuk seniman kampus, meskipun ada beberapa anggotanya yang berasal dari kalangan akademisi. Belum lagi sanggar-sanggar seni serta para seniman senior dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang dahulu pernah berkesenian di Bandung, termasuk para alumni STISI Bandung yang kini sedang berpameran.

Menurut Rahmat, apabila semuanya dihimpun, jumlahnya bisa mencapai ribuan orang dari berbagai lintas generasi. Itu baru dari bidang seni rupa, belum termasuk cabang seni lainnya.
“Dan komunitas-komunitas ini akan saya jaga, akan terus saya rawat, dan saya akan terus berkomunikasi dengan mereka. Pada saat tertentu, ketika energinya sudah kuat, kita akan membuat event bersama bertajuk Balik Bandung. Nanti kita akan mencari beberapa titik di Kota Bandung sebagai lokasi penyelenggaraannya. Mimpi saya, kegiatan ini menjadi semacam Perayaan Seni,” kata Rahmat penuh keyakinan.
Untuk itu, Rahmat berharap semakin banyak hotel seperti De Paviljoen maupun tempat usaha lain, seperti kafe dan restoran, yang bersedia berkolaborasi. Menurutnya, seniman tidak akan berkembang apabila tidak ada kerja sama dengan perusahaan, hotel, restoran, pemerintah, taman kota, dan berbagai pihak lain yang sesungguhnya memiliki ruang besar untuk dieksplorasi.
“Jadi pemerintah jangan alergi dengan itu, karena kota juga merupakan ruang. Bisa taman, kantor pemerintahan, bank, atau tempat lainnya. Kalau soal display, itu persoalan teknis. Prinsipnya, mau atau tidak mereka bekerja sama untuk menghidupkan kesenian di Bandung,” tutur Rahmat.
Menurut Rahmat, pemerintah seharusnya menjadi pihak yang mewadahi. Namun, ia tetap berharap komunikasi yang telah dibangun dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

Rahmat juga mengajak para seniman Bandung untuk membesarkan Bandung sebagai sarakan-na (tempat kelahirannya) terlebih dahulu sebelum membesarkan daerah lain. Sebab, menurutnya, perhelatan seni kontemporer seperti ARTJOG di Yogyakarta dan ARTSUB di Surabaya digagas oleh anak-anak muda Bandung.
“Bisa begitu karena memang di Bandung tidak ada ruang, pemerintahnya sulit diajak bereksplorasi. Itu sudah terjadi sejak dulu. Makanya banyak orang Bandung bereksplorasi di luar karena kecewa. Tapi saya tidak peduli siapa pun wali kotanya. Pokoknya saya asli kelahiran Ciroyom, Bandung, daerah Bronx. Masa saya tidak sanggup menghidupkan Bandung? Para legenda Persib seperti Ajat Sudrajat, Wawan Karnawan (Si Balok), Robby Darwis, dan lainnya juga berasal dari gang-gang dan kampung Kota Bandung, tetapi mampu membesarkan Bandung melalui Persib. Begitu juga Presiden Soekarno yang sekolah di Bandung dan mengharumkan nama Bandung di dunia internasional melalui Konferensi Asia-Afrika. Kenapa kita sebagai penerusnya tidak bisa? Itu harus bisa. Mungkin saya berjuang melalui kebudayaan. Saya harus mencetuskan itu. Risikonya saya harus melawan apatisme sebagian seniman senior yang frustrasi terhadap persoalan Bandung, termasuk menghadapi berbagai kebijakan dan kesulitan birokrasi yang ada,” ujar Rahmat berapi-api.
Tentang De Paviljoen, mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Bandung ini menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya. Menurutnya, De Paviljoen merupakan salah satu hotel yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan seni dan para seniman, khususnya di Bandung dan Indonesia pada umumnya.
“Semoga kerja sama ini bisa terus berlanjut sampai akhirnya kita benar-benar menyaksikan orang-orang dari luar datang ke Bandung bukan hanya sekadar makan dan menginap di hotel, tetapi juga menikmati karya seni yang bisa mereka lihat. Itulah tujuan saya,” pungkas Rahmat.
Judul: Alumni STISI Bandung Berpameran di Hotel De Paviljoen Bandung
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah













