WISATABUMI NUSANTARA #Seri-19: “Ujung Kulon, Altar Mitigasi Krakatau dan Saksi Bisu Sundaland yang Tenggelam”

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News – Bandung, Kamis (16/07/2026)  – WISATABUMI NUSANTARA memasuki Seri ke-19 dengan mengajak pembaca menjelajahi Geopark Nasional Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kawasan ini memperlihatkan bagaimana dinamika tektonik, vulkanisme, dan perubahan muka laut membentuk bentang alam yang menjadi laboratorium kebencanaan sekaligus salah satu kawasan konservasi terpenting di Indonesia. Dari kawasan ini pula kita belajar bahwa warisan kebumian bukan hanya menyimpan sejarah pembentukan Selat Sunda, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan pendidikan, konservasi, dan geowisata yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Teman-teman, mari kita singkap rahasia terdalam gerbang barat Pulau Jawa: Geopark Nasional Ujung Kulon. Di sini, kita berdiri di atas laboratorium bencana dunia sekaligus gerbang sejarah Sundaland yang hilang. Penjelajahan ke rahim Ujung Kulon menuntun setiap jiwa untuk tertunduk bersujud, menyadari mutlaknya Kuasa dan Keagungan Sang Pencipta Jagat Raya yang memahat struktur magmatik dan tektonik di Selat Sunda sebagai sasis perlindungan kemakmuran sekaligus alarm mitigasi peradaban. Kehadiran formasi cagar bumi purba ini bertindak sebagai sasis pembuka gerbang literasi yang menyandingkan penemuan ilmiah geologi dan vulkanologi dengan kemegahan tata sosial kultural masyarakat lokal di Tatar Banten. Jalinan kosmis ini membawa pesan kuat bahwa melalui instrumen interpretasi geowisata yang mandiri, pusaka abiotik Nusantara yang merekam sisa-sisa Sundaland dan dahsyatnya letusan Krakatau harus sukses ditransformasikan menjadi kompas ketahanan nasional yang menyejahterakan ekonomi masyarakat lokal secara nyata di atas kaki sendiri.

Keunggulan abiotik (Abiotic) objek cagar bumi di gerbang barat Pulau Jawa ini dikunci rapat oleh perannya sebagai jangkar fisis ujung daratan tempat bertemunya struktur aktif Pegunungan Honje dan sistem tektonik Selat Sunda yang membentuk relief pantai terjal dan tebing-tebing batuan megah. Di kawasan penyangga Sumur, proses pelarutan membentuk morfologi tebing menggantung di Geosite Cadas Gantung, bersanding kontras dengan kompleks gua laut fosil Sanghyang Sirah serta teras pantai purba (uplifted marine terrace) di Pulau Panaitan yang menjadi salah satu bukti perubahan muka laut purba di kawasan Selat Sunda. Rekaman katastrofe vulkanik Krakatau tahun 1883 masih dapat dijumpai melalui singkapan endapan tsunami berupa bongkah koral raksasa dan lapisan piroklastik batu apung di beberapa lokasi pesisir. Bukti-bukti geologi tersebut kini menjadi dasar penting dalam pengembangan kajian mitigasi bencana tsunami yang dipicu oleh aktivitas vulkanik maupun longsoran tubuh gunung api (flank landslide).

Foto: Panorama Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Sumber: Muhammad Adimaja/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Karakteristik fisik isolasi semenanjung dan tebalnya endapan abu piroklastik pascabencana Krakatau tahun 1883 tersebut secara ajaib justru merawat pilar hayati (Biotic) kasta tertinggi melalui mekanisme suksesi alami hutan dataran rendah yang steril dari aktivitas destruktif manusia. Absennya peradaban modern selama puluhan tahun menyediakan kelimpahan pakan dan ruang jelajah alami hingga sukses mengukuhkan Ujung Kulon sebagai benteng pertahanan terakhir di dunia bagi penyelamatan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan Owa Jawa (Hylobates moloch) dari ancaman kepunahan. Rahim ekologi kawasan ini juga masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang belum sepenuhnya terungkap oleh sains, bersanding selaras dengan hamparan padang penggembalaan alami di Savana Cidaon yang menjadi habitat Banteng Jawa (Bos javanicus) dan Merak Hijau (Pavo muticus), serta pesisir laut yang menjadi lokasi penting peneluran Penyu Hijau (Chelonia mydas).

Pada panggung sejarah sosiokultural (Cultural), respons peradaban manusia menyublimasikan karakteristik fisis geosfer dan fenomena biosfer menjadi magnet wisata vulkanologi dunia, cagar sejarah maritim, serta instrumen kesiapsiagaan bencana. Secara spasial, nama “Ujung Kulon” merefleksikan posisinya sebagai ujung paling barat Pulau Jawa. Keindahan bentang alamnya kini berkembang menjadi pusat pembelajaran mitigasi bencana pesisir dan konservasi kawasan tropis. Wisatawan minat khusus dapat menikmati panorama Gunung Anak Krakatau dari kawasan Selat Sunda dalam batas aman, berpadu dengan pesona Pulau Peucang yang terkenal akan pantai berpasir putih dan perairannya yang jernih. Di Pulau Panaitan, tersimpan peninggalan arkeologi berupa Arca Ganesha di kawasan Gunung Raksa yang menjadi salah satu jejak penting sejarah maritim Nusantara. Sementara itu, Mercusuar Tanjung Layar menjadi saksi bisu dahsyatnya letusan Krakatau tahun 1883 yang menghancurkan mercusuar lama sebelum akhirnya dibangun kembali pada akhir abad ke-19. Seluruh kekayaan tersebut diperkokoh oleh status Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, yang menjadi benteng hukum internasional bagi perlindungan ekosistem dan warisan alam kawasan ini.

Oleh karena itu, orkestrasi hulu-hilir antara dinamika tektonik Pegunungan Honje dan Selat Sunda, rekam jejak perubahan bentang alam Pulau Panaitan, keunikan suksesi ekosistem habitat Badak Jawa, serta kedaulatan ilmu kebumian dan mitigasi bencana di Ujung Kulon wajib diposisikan murni sebagai kompas fondasi utama dari gagasan besar pembangunan berkelanjutan (Environmentally Sound and Sustainable Development). Langkah pengungkapan laboratorium alam Selat Sunda dan pengembangan geowisata berbasis konservasi ini dirancang ksatria bukan sekadar untuk industri pariwisata komersial semata, melainkan wajib menjadi katalisator penggerak jiwa nasionalisme dalam memperkuat ketangguhan bangsa menghadapi bencana sekaligus menjaga warisan alam Indonesia di mata dunia. Pemanfaatan kawasan secara bijaksana harus selalu berjalan beriringan dengan upaya konservasi, penelitian, dan edukasi kebencanaan. Memahami kedalaman sejarah bumi dari jejak tsunami Krakatau hingga kelestarian habitat Badak Jawa merupakan cara paling mendasar untuk merawat persatuan bangsa; menegaskan bahwa setiap jengkal tanah, laut, dan warisan ekologi di gerbang barat Nusantara wajib dijaga kemandiriannya demi kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia seutuhnya.

#UjungKulon #GeoparkNasionalUjungKulon #BadakJawa #SundalandTenggelam #StephenOppenheimer #SesarSemangko #PulauPeucangKrakatau #SitusPanaitan #WawasanKebangsaan

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: WISATABUMI NUSANTARA #Seri-19: “Ujung Kulon, Altar Mitigasi Krakatau dan Saksi Bisu Sundaland yang Tenggelam”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *