Ayo Introspeksi!

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Rabu (15/07/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Ayo Introspeksi! ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Adanya ajakan Presiden Prabowo agar para birokrat, Aparat Penegak Hukum, Pejabat Publik dan segenap komponen bangsa lain segera melakukan introspeksi, pada dasarnya merupakan pesan penting seorang Kepala Negara, yang patut mendapat acungan jempol tinggi-tinggi dan dukungan penuh dari seluruh warga bangsa dalam melakoni kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyrakat.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Presiden tentu tidak akan menyampaikan pesan tersebut, sekiranya tidak ada sesuati yang merisaukan pikirannya. Yang saat ini sedang viral dan banyak dibincangkan masyarakat adalah adanya kekurang-harmonisan antara Aparat Kejaksaan dan Polri. Terlebih setelah para penyidik Kejaksaan Agung melakukan penggeledahan rumah Jampidsus di Sentul, Bogor.

Hasil penggeledahan tersebut betul-betul sangar mencengangkan. Ditemukannya emas batangan seberat 74 kg dan tumpukan uang tunai dalam pecahan mata uang asing dan rupiah sekitar Rp. 450 milyar, membuat warga masyarakat bertanya-tanya. Kok bisa, di rumah seorang pejabat eselon 1 yang bekerja di Kejaksaan Agung terdapat uang hingga ratussn milyar rupiah plus emas batangan.

Boleh jadi, ajakan Presiden Prabowo untuk introspeksi, salah satu pertimbangannya, dipicu oleh adanya fenomena keterlibatan aparat penegsk hukum dalam upaya penegakan hukum di negeri ini. Sebelumnya, Presidem Prabowo juga meminta agar para Pembantunya, jangan sampai terjerat kasus korupsi atau gratifikasi, karena menyalah-gunakan kekuasaan dan kewenangan yang digenggamnya.

Dari banyak literatur diperoleh gambaran bahwa introspeksi diri adalah proses mawas diri untuk meninjau, merenungkan, dan mengevaluasi pikiran, perasaan, sikap, hingga perbuatan yang telah dilakukan. Tindakan ini bertujuan untuk mengenali kelemahan dan kesalahan diri sendiri agar dapat memperbaikinya di masa depan.

Beberapa manfaat introspeksi diri diantaranya meningkatkan kecerdasan emosional. Artinya, membantu kita lebih memahami motivasi di balik tindakan sendiri dan merespons situasi sosial dengan lebih baik. Kemudian, membantu otak menciptakan pemikiran yang lebih akurat sehingga terhindar dari stres berlebih. Lalu, mengenal potensi. Tidak hanya melihat kesalahan, ini juga membantu Anda mengenali kekuatan dan kelemahan untuk menemukan tujuan hidup.

Untuk itu, agar tidak terjebak dalam overthinking atau meratapi kekurangan secara berlebihan, sebaiknya dilakukan langkah jujur pada diri sendiri. Akui kesalahan atau kekurangan tanpa perlu menyalahkan orang lain. Selanjutnya, fokus pada solusi. Pikirkan langkah perbaikan yang bisa dilakukan ke depan. Kemudion, maafkan diri sendiri. Jadikan masa lalu sebagai pembelajaran dan terus melangkah dengan lebih baik.

Praktik seperti ini ini sering dikaitkan dengan istilah muhasabah dalam ajaran agama Islam, yang berarti kemampuan untuk mengevaluasi niat dan amal perbuatan sebelum dinilai oleh Sang Pencipta. Dalam bahasa lainnya, introspeksi ibarat berkaca diri guna melihat bagaimana sesungguhnya potret diri seseorang itu.

Nilai filosofi dari introspeksi adalah pencarian hakikat kebenaran internal untuk mencapai kebijaksanaan dan keselarasan hidup. Dalam dunia filsafat, introspeksi bukan sekadar evaluasi psikologis, melainkan sebuah metode fundamental untuk memahami eksistensi diri dan hubungannya dengan alam semesta.

4 Nilai filosofis utama introspeksi adalah :
Pertama, kesadaran diri (Self-Awareness). Filsuf Yunani kuno, Socrates, terkenal dengan prinsip “Know Thyself” (Kenalilah dirimu sendiri). Bagi Socrates, hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dijalani. Introspeksi adalah kunci untuk membuka gerbang kebijaksanaan sejati tersebut.

Kedua, otonomi dan kebebasan moral. Menurut Immanuel Kant, manusia baru benar-benar bebas jika mereka bertindak berdasarkan hukum moral yang mereka sadari sendiri. Introspeksi membebaskan kita dari doktrin luar, sehingga bisa menentukan nilai hidup secara mandiri dan bertanggung jawab.

Ketiga, ketentraman jiwa (Ataraxia).
Dalam filsafat Stoisisme (Marcus Aurelius dan Seneca), introspeksi digunakan untuk memisahkan hal yang bisa dikendalikan (pikiran dan respons kita) dari hal yang tidak bisa dikendalikan (tindakan orang lain dan nasib). Hasil akhir dari proses ini adalah kedamaian batin yang kokoh.

Keempat, autentisitas eksistensial.
Filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre menekankan pentingnya hidup secara jujur tanpa kepalsuan (bad faith). Introspeksi mengupas topeng sosial kita agar dapat hidup sesuai dengan diri sendiri yang sesungguhnya.

Akhirnya perlu disampaikan, keuntungan utama jika pejabat publik melakukan introspeksi adalah meningkatnya legitimasi moral dan kepercayaan masyarakat (public trust) terhadap jalannya pemerintahan. Ketika seorang pemimpin mampu berkaca pada kinerjanya, kebijakan yang dihasilkan akan lebih berorientasi pada kepentingan rakyat, bukan ego kelompok.

Catatan kritisnya ada 5 manfaat nyata introspeksi bagi pejabat publik yaitu kebijakan lebih tepat sasaran. Refleksi mendalam membantu pejabat menyadari kegagalan program masa lalu. Evaluasi ini mencegah pengulangan proyek yang tidak efektif atau membuang anggaran. Kemudian, meredam konflik kepentingan. Introspeksi mempertegas batasan moral. Pejabat menjadi lebih peka dalam memisahkan urusan pribadi/bisnis dengan tanggung jawab jabatan guna menghindari korupsi.

Lalu, komunikasi publik lebih empatis. Pemimpin yang mawas diri tidak anti-kritik. Mereka akan mendengarkan keluhan warga dengan kepala dingin dan merespons protes sosial dengan solusi, bukan defensif. Selanjutnya, keterbukaan terhadap koreksi (Accountability). Filosofi ini mendorong sikap ksatria untuk mengakui kesalahan secara transparan. Sikap ini justru menaikkan wibawa pemimpin di mata publik daripada terus mencari kambing hitam. Terakhir, membentuk budaya birokrasi yang sehat. Keteladanan (leading by example) dari pucuk pimpinan yang rajin mengevaluasi diri akan menular ke bawah. Hal ini menciptakan iklim kerja instansi yang jujur dan berkinerja tinggi. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Ayo Introspeksi!
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *