Siang, Jiwa Tetap Malam

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Minggu (12/07/2026)  Artikel berjudul “Siang, Jiwa Tetap Malam” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Wahai pagi, mengapa hari telah siang, tetapi suasana jiwa tetap malam?

“Karena ada malam yang enggan lenyap bersama fajar. Matahari telah menyelesaikan tugasnya kepada langit, tetapi belum kepada jiwa manusia. Ada bayang yang masih tinggal di dada, di jalan-jalan negeri, dan di hati mereka yang terlalu lama menunggu kabar baik.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Barangkali yang muram bukanlah hari, melainkan harapan yang letih menanti musimnya. Sebab ada luka yang tidak tampak di mata, tetapi terasa dalam langkah sebuah bangsa yang mencari arah.

Namun, manusia tidak hanya hidup dari kenyataan, melainkan juga dari harapan. Seperti seorang kekasih yang tetap menyalakan pelita di beranda, meski jalan pulang belum terlihat, demikianlah cinta kepada negeri ini: ia tetap menjaga cahaya meski malam belum sepenuhnya pergi.

Mencintai bukan berarti menutup mata terhadap luka. Mencintai berarti tetap memilih merawat yang baik ketika banyak hati mulai kehilangan alasan untuk percaya. Sebab cinta yang dewasa bukan lahir ketika segalanya indah, melainkan ketika seseorang tetap bertahan di tengah kenyataan yang mengecewakan.

Maka jangan mencari pagi hanya di langit. Carilah ia juga di dalam jiwa. Sebab sebuah bangsa tidak benar-benar memasuki siang ketika matahari telah tinggi, melainkan ketika nurani manusia kembali menyala.

Dan kelak akan tiba saatnya engkau mengerti: malam tidak dikalahkan hanya oleh datangnya fajar, melainkan oleh cahaya yang kembali menyala di dalam jiwa.”

***

Judul: Siang, Jiwa Tetap Malam
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *