MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (12/07/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Gul-Gulan”” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Warga Jawa Barat menyebutnya gul-gulan. “Gul-gulan” atau adu penalti adalah metode penentuan pemenang dalam pertandingan sepak bola apabila skor tetap imbang setelah melalui waktu normal 90 menit dan perpanjangan waktu 2 kali 15 menit. Setiap tim bergantian mengambil tendangan penalti dari titik putih hingga pemenang dapat dipastikan.

Pelaksanaan adu tendangan penalti diatur secara spesifik oleh regulasi International Football Association Board (IFAB) dengan mekanisme sebagai berikut :
Wasit melakukan undian dengan koin untuk menentukan gawang yang digunakan serta tim mana yang menendang lebih dulu. Kedua tim mendapat kesempatan melakukan 5 tendangan secara bergantian. Tim yang mencetak gol lebih banyak dinyatakan menang.
Jika skor masih imbang setelah 5 penendang awal, giliran penendang dilakukan secara sudden death (satu per satu) hingga salah satu penendang berhasil mencetak gol dan yang lainnya gagal.
Selain itu, hanya pemain yang berada di lapangan saat peluit akhir perpanjangan waktu dibunyikan yang diizinkan menjadi penendang. Hasil dari adu penalti tidak menambah jumlah gol di papan skor akhir pertandingan. Kemenangan ini murni hanya untuk menentukan tim mana yang berhak lolos ke fase berikutnya.
Orang menyukai adu penalti karena format ini menyajikan drama psikologis tingkat tinggi dalam waktu singkat.
Beberapa penyebab utama mengapa adu penalti begitu digemari penonton, karena ada ketegangan psikologis yang Intens. Setiap tendangan menjadi penentu hidup dan mati sebuah tim di turnamen. Penonton menikmati ketegangan saat melihat kekuatan mental pemain diuji secara langsung di bawah tekanan jutaan pasang mata.
Kemudian, ada drama instan dan cepat. Adu penalti memadatkan seluruh emosi pertandingan sepak bola ke dalam waktu sekitar 10 menit. Setiap detik menyajikan aksi nyata tanpa ada waktu jeda atau strategi yang membosankan. Bisa juga jadi panggung untuk Pahlawan Baru.
Momen ini sering melahirkan pahlawan tak terduga, terutama penjaga gawang. Kiper yang berhasil menepis tendangan atau pemain muda yang sukses mengeksekusi penalti penentu akan langsung menjadi legenda.
Selanjutnya, peluang bagi tim lemah (Underdog). Di babak adu penalti, perbedaan kualitas taktik dan fisik sepanjang 120 menit menjadi luntur. Tim yang lebih lemah secara teknis memiliki peluang yang sama besar (50:50) untuk menang melawan tim raksasa.
Dan terakhir sebuah taruhan emosional yang tinggi. Rasa cemas, harapan, keputusasaan, dan kegembiraan bercampur aduk dalam waktu singkat. Bagi penonton netral, ini adalah hiburan murni, sementara bagi pendukung tim, ini adalah ujian jantung yang adiktif.
Seorang sahabat malah cerita, yang paling menarik dari pertandingan sepak bola adalah gul-gulan. Dirinya, tidak terlalu senang dengan pertandingan yang 90 menit atau pun tambahannya yang 30 menit. Kalau ujung-ujungnya menunggu lahirnya gol, maka pada acara adu pinalti itulah, kita akan menyaksikan gol yang pasti.
Di sisi lain, muncul pertanyaan apakah adu pinalti ini dibutuhkan dalam pertandingan sepak bola ? Jawabannya tegas : perlu, tapi tidak di semua pertandingsn. Adu penalti dilakukan kalau babak gugur / knockout. Contoh 16 besar, perempat final, semifinal, final di Piala Dunia, UCL, Piala Asia. Kalau waktu normal 2×45 menit skornya imbang, dan tidak ada gol tandang, maka lanjut adu penalti buat nentuin siapa yang lolos.
Kemudian di turnamen yang ada aturannya. Beberapa kompetisi langsung adu penalti tanpa extra time. Contoh: fase grup Piala AFF U-23 tahun ini, atau Community Shield. Ada pinalti menjadi faktor penentu sebuah grup sepakbola untuk melanjutkan ke babak berikutnya.
Adu penalti tidak perlu kalau fase grup. Skor imbang ya sudah, masing-masing dapat 1 poin. Tidak ada adu penalti. Begitu pun dalam laga persahabatan. Biasanya selesai seri saja. Kecuali memang disepakati mau adu penalti buat sekedar hiburan.
Jadi, kenapa harus ada gul-gulan dalam pertandingan sepak bola ? Karena di babak gugur harus ada 1 pemenang buat lanjut ke pertandingan selanjutnya. Tidak mungkin main terus sampai ada yang gol. Ini artinya, adu penalti menjadi cara paling cepat dan adil untuk menentukan pemenangnya, walau memang membuat jantung deg-degan. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: “Gul-Gulan”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












