WISATABUMI NUSANTARA Seri 3: Samalas, Kaldera Raksasa Rinjani, dan Jejak Kosmologi Lombok

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News – Bandung, Kamis (09/07/2026) –WISATABUMI NUSANTARA memasuki Seri-3 dengan mengajak pembaca menelusuri Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark, sebuah kawasan warisan geologi dunia yang menyimpan jejak letusan gunung api terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Dari kaldera raksasa Samalas, lanskap Gunung Rinjani, hingga kekayaan budaya dan kosmologi masyarakat Lombok, kawasan ini memperlihatkan bagaimana geologi, keanekaragaman hayati, dan tradisi lokal berpadu membentuk identitas bumi Nusantara yang bernilai universal.

Teman-teman, mari kita melangkah ke Pulau Lombok: Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark. Berabad-abad lamanya, para ilmuwan dunia kebingungan mencari sumber “letusan misterius” tahun 1257 yang menyemburkan sulfur terbesar dalam 7.000 tahun terakhir, hingga membekukan iklim Eropa dan terekam di lapisan es Kutub Utara serta Antartika. Misteri global ini akhirnya terpecahkan pada tahun 2013 ketika tim internasional yang dipimpin Franck Lavigne berhasil mencocokkan jejak geokimia abu kutub tersebut dengan abu vulkanik di Pulau Lombok. Penemuan revolusioner ini kian mencengangkan karena ternyata detak bencana kolosal tersebut telah dicatat secara akurat oleh para leluhur Nusantara dalam naskah daun lontar kuno Babad Lombok. Geowisata di bumi Rinjani hari ini mewariskan panggung sejarah agung tentang bagaimana sebuah katastrofe masa lalu memahat takdir keindahan lanskap kebumian, keunikan hayati, hingga kesucian kosmologi spiritual masyarakat lokal hingga detik ini.

Keunggulan abiotik (abiotic) objek cagar bumi di Bumi Lombok ini dikunci rapat oleh sasis awal evolusi gunung raksasa purba yang memiliki kompleks benteng puncak kembar berdampingan, yaitu Gunung Rinjani dan Gunung Samalas. Letusan mahadahsyat Samalas pada tahun 1257 berskala 7 Volcanic Explosivity Index (VEI). Letusan ini melontarkan puluhan kilometer kubik material piroklastik, menghancurkan tubuh Samalas sendiri hingga amblas membentuk cekungan tekto-vulkanik raksasa berupa kaldera Danau Segara Anak. Sementara sisi puncak Rinjani purba tetap berdiri kokoh setinggi 3.726 mdpl, dinamika magmatik pascaerupsi terus melahirkan kerucut aktif baru Gunung Barujari tepat di tengah kaldera. Aktivitas termal bawah tanah ini memicu munculnya situs mata air panas alami kaya belerang Aik Kalak, serta membentuk tebing patahan sesar utara lereng Rinjani yang menjadi hulu bagi geosite eksotis Air Terjun Sendang Gile.

Wisatabumi Nusantara
Foto: Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, Lombok. Sumber: KWRI UNESCO – Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO.

Karakteristik fisik dan ketinggian ekstrem tersebut secara otomatis memosisikan Pulau Lombok sebagai panggung episentrum transisi Garis Wallace yang unik, pembatas asimetris fauna dan vegetasi tipe Asia dan Australia. Lereng rimba bagian utara tumbuh subur dengan karakter hutan hujan tropis lebat yang khas, bersanding kontras dengan bentang lereng selatan yang didominasi oleh hamparan sabana kering bertipe Benua Australia. Rahim ekologi pegunungan ini menjadi benteng pertahanan alami bagi suaka margasatwa mamalia dan fauna purba langka, mulai dari Kakatua Kecil Jambul Kuning, Elang Flores, Rusa Timor, Musang Rinjani (Ujat), hingga burung hantu endemik asli Lombok, Celepuk Rinjani (Otus jolandae). Kelimpahan media tanah ini turut menyuburkan kekayaan pilar flora eksotis kasta tertinggi, seperti Edelweis Rinjani, Anggrek Vanda limbata, pohon budaya bernilai ekonomi tinggi kerabat kayu hitam Ajan Kelicung (Diospyros macrophylla), Cemara Gunung, hingga populasi burung Isap Madu Opior Paruh Tebal sebagai penanda kesehatan ekologi rimba.

Pada panggung sejarah sosiokultural (cultural), respons peradaban manusia menyublimasikan karakteristik fisik dan hayati pulau menjadi warisan seni, tradisi, dan destinasi populer. Geologi vulkanik purba Miosen Formasi Pengulung yang kaya batu lempung, andesit, dan tufa basalt melahirkan seni kerajinan gerabah tanah liat legendaris di Desa Banyumulek, termasuk kendi unik tanpa lubang atas Kendi Maling. Di pesisir selatan, jajaran bukit lava berstruktur rekahan tiang eksotis (columnar joint) peninggalan gunung api purba bawah laut berusia 20 juta tahun yang divalidasi resmi oleh UNESCO kini memagari keindahan destinasi superprioritas Kuta Mandalika, Tanjung Aan, dan Pantai Semeti, berpadu dengan arsitektur rumah beratap jerami berbahan tufa di Desa Adat Sade. Uniknya, dinamika oseanografi dan sasis pulau ini merajut pilar geodiversity pesisir yang magis melalui hamparan Pantai Pink (Pantai Tangsi) di ujung selatan. Fenomena pasir merah muda ini terbentuk secara alami akibat proses kikisan mekanis air laut terhadap cangkang organisme mikroskopis foraminifera (plankton berwarna merah) serta serpihan hancuran koral merah (Distichopora) yang kemudian bercampur dengan pasir putih kalsit hasil pelapukan batuan kapur pesisir. Akulturasi spiritual yang damai ini terekam utuh pada ritual Mulang Pakelem umat Hindu Bali di Segara Anak, tradisi “perang makanan” pelestari toleransi Perang Topat di Pura Lingsar, hukum adat penjaga hutan purba di Masjid Kuno Bayan, musik perkusi kolosal Gendang Beleq, mahakarya Kain Tenun Sesek Songket Sukarara, hingga gastronomi pedas Ayam Taliwang serta kelezatan Plecing Kangkung.

Oleh karena itu, orkestrasi hulu-hilir antara amukan sejarah Samalas tahun 1257, keunikan transisi ekosistem Garis Wallace, dan gairah proteksi lingkungan akibat status UGGp wajib diposisikan sebagai kompas fondasi utama dari gagasan besar Environmentally Sound and Sustainable Development (ESSD). Langkah pengungkapan sasis kaldera raksasa, petrologi vulkanik, biogeografi, hingga pengakuan internasional atas warisan pesisir purba dari puncak Rinjani hingga batuan bawah laut Mandalika dirancang bukan sekadar untuk pariwisata semata, melainkan wajib sukses memenuhi kelayakan ekonomi masyarakat, kelayakan sosial-budaya kearifan adat, dan kedaulatan mutlak perlindungan daya dukung lingkungan secara terpadu. Keberhasilan membalikkan paradigma kawasan rawan bencana menjadi industri geowisata global terbukti ampuh mengubah pola hidup eksploitatif menjadi gerakan konservasi mandiri yang diakui dunia melalui UNESCO. Sains pada akhirnya mempertemukan kekuatan fisis geologi masa lalu dengan keluhuran jiwa manusia Nusantara untuk bangkit memimpin masa depan bumi yang berwawasan lingkungan seutuhnya.

#Lombok #RinjaniLombokUNESCOGlobalGeopark #UGGpRinjaniLombok #GunungSamalas #DanauSegaraAnak #KutaMandalika #PantaiPinkLombok #TanjungAan #DesaSukarara #AyamTaliwang #WISATABUMINUSANTARA

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: WISATABUMI NUSANTARA Seri 3: Samalas, Kaldera Raksasa Rinjani, dan Jejak Kosmologi Lombok

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *