Akar dan Cakrawala Pendidikan

Oleh: Yudi Latif, Ph.

MajmusSunda News, Selasa (07/07/2026)  Artikel berjudul “Akar dan Cakrawala Pendidikan” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph., pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, dalam percakapan dengan para guru di perguruan Bakti Mulya 400 (06/07/06), kami nyatakan bahwa pendidikan itu benih harapan. Manakala suatu bangsa dilanda kegelapan, kekacauan dan keterpurukan, sedang tiada tahu kunci jawabnya, maka sandaran pamungkasnya adalah pendidikan.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Bagi bangsa yang sedang bertumbuh, pendidikan bukan sekadar jalan menuju kemajuan. Ia penuntun arah agar perubahan tak mencerabut makna. Pendidikan menjadi cara sebuah bangsa mengingat asal-usulnya sekaligus membayangkan masa depannya.

Pendidikan harus berakar dan menjulang.

Berakar pada bumi yang melahirkan manusia: pada nilai yang memuliakan martabat insani, pada nilai-nilai luhur kebangsaan. Sebab pohon yang kehilangan akar mungkin masih berdiri, tetapi tak akan sanggup menghadapi perubahan musim.

Namun akar tidak diciptakan untuk membuat pohon sekadar menancap di tanah. Akar memberi kekuatan agar batang menjulang, dahan merentang, dan pucuk menyapa langit. Demikian pula pendidikan. Ia harus melampaui batas-batas pengetahuan; menjelajahi sains, teknologi, seni, dan hikmah yang dihimpun umat manusia dari berbagai penjuru dunia.

Belajar dari dunia bukanlah kehilangan diri. Sebaliknya, hanya mereka yang teguh mengenali dirinya yang mampu berdialog dengan dunia tanpa menjadi bayang-bayangnya. Pendidikan sejati menyerap yang terbaik, mengolahnya dengan kebijaksanaan sendiri, lalu melahirkannya kembali sebagai daya cipta yang memperkaya peradaban.

Bangsa besar bukanlah bangsa yang takut pada cakrawala, melainkan bangsa yang menjulang ke langit justru karena akarnya kian dalam mencengkeram bumi.

Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar memperluas apa yang diketahui. Ia memperdalam jati diri: menumbuhkan manusia yang berpikir setinggi langit tanpa tercerabut dari bumi; yang menguasai ilmu tanpa kehilangan hikmah; yang mencintai bangsanya tanpa menutup diri dari dunia.

Sebab masa depan tidak dibangun oleh bangsa yang memilih antara akar atau cakrawala. Masa depan dibangun oleh mereka yang memahami bahwa semakin dalam akar mencengkeram bumi, semakin tinggi pohon menjangkau langit, dan makin luas manfaatnya bagi sesama warga dunia.

***

Judul: Akar dan Cakrawala Pendidikan
Penulis: Yudi Latif, Ph
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *