MajmusSunda News, Senin (06/07/2026) – Artikel berjudul “Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, manusia suka menonton pertandingan olahraga, terutama sepak bola, karena di dalamnya orang bisa menemukan kehidupan yang dipadatkan dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling intens. Dalam sembilan puluh menit tersaji ikhtiar dan kegagalan, harapan dan kecemasan, keteraturan dan kebetulan. Apa yang dalam hidup berlangsung bertahun-tahun, di lapangan hijau menjelma menjadi kisah yang utuh.

Di sana kita menemukan cermin yang tak pernah selesai dibaca. Setiap umpan membuka kemungkinan, setiap serangan menyalakan harapan, setiap kesalahan dapat mengubah arah cerita. Kita menyaksikan bahwa ikhtiar tidak selalu berbuah hasil, yang kuat tidak selalu menang, dan nasib dapat berbelok hanya oleh satu sentuhan kecil. Karena itu, sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan miniatur kehidupan.
Secara eksistensial, sepak bola memperlihatkan keterbatasan manusia. Dominasi tidak menjamin kemenangan, usaha tidak selalu berujung hasil, dan waktu terus berjalan tanpa dapat dihentikan. Peluit akhir datang kepada semua, sebagaimana hidup pun memiliki batasnya. Kita menontonnya karena di dalamnya kita mengenali kondisi dasar manusia: rapuh, terbatas, dan hidup di antara harapan serta ketidakpastian.
Secara antropologis, manusia adalah homo ludens—makhluk yang bermain. Bermain bukan sekadar hiburan, melainkan cara manusia menghadapi keterbatasannya sendiri. Di tengah dunia yang penuh aturan dan beban, permainan membuka ruang di mana keteraturan justru diciptakan secara sadar, dan di sanalah manusia belajar disiplin, kerja sama, persaingan, dan kehormatan. Sepak bola memperlihatkan bahwa manusia tidak hanya tunduk pada batas hidup, tetapi juga mampu mengolah batas itu menjadi ruang kebebasan yang disebut permainan.
Secara fenomenologis, sepak bola adalah dunia yang hadir dalam pengalaman. Garis lapangan, aturan, pelanggaran, dan gol bukan sekadar fakta objektif, melainkan realitas yang hidup dalam kesadaran pemain dan penonton. Selama pertandingan, dunia itu benar-benar “ada” bagi mereka yang menghayatinya. Dari sini kita belajar bahwa makna tidak berada pada benda atau peristiwa itu sendiri, melainkan muncul ketika ia dialami dan dihidupi bersama. Kehidupan pun menjadi bermakna karena dijalani sebagai pengalaman, bukan sekadar kejadian.
Secara psikologis, sepak bola adalah arus emosi yang tak putus. Harapan tumbuh dalam setiap serangan, kecemasan mengeras dalam setiap tekanan, lalu meledak menjadi sorak kemenangan atau membeku dalam diam yang tegang. Kita ikut larut seakan nasib di lapangan memantul ke dalam diri sendiri. Permainan menjadi ruang aman untuk mengalami intensitas hidup tanpa menanggung seluruh risikonya.
Secara sosiologis, sepak bola menghadirkan kebersamaan yang kian langka. Orang-orang yang tak saling mengenal dapat bersorak, bernyanyi, dan berduka dalam waktu yang sama. Perbedaan melebur ke dalam identitas bersama sebagai pendukung sebuah tim. Dalam Piala Dunia, pengalaman itu melintasi bangsa dan bahasa. Jutaan manusia memusatkan perhatian pada satu pertandingan, seolah dunia berbicara dalam satu bahasa yang sama.
Secara ekonomis, sepak bola hidup dalam ekonomi perhatian. Yang diperdagangkan bukan hanya tiket, hak siar, atau ruang iklan, melainkan perhatian manusia itu sendiri. Di tengah dunia yang memecah konsentrasi ke banyak arah, sepakbola masih mampu memusatkan jutaan pandangan pada satu lapangan dan satu alur cerita. Nilai terbesarnya bukan sekadar uang yang berputar, melainkan kemampuannya menghimpun kembali perhatian yang tercerai-berai.
Maka manusia suka menonton sepak bola bukan semata untuk mengetahui siapa yang menang. Ia datang menyaksikan drama kehidupan yang terus diperbarui dalam bentuk permainan. Di sana ia melihat dirinya sendiri: makhluk yang terbatas namun terus berikhtiar, yang mengubah keterbatasan menjadi permainan, yang menghidupi pengalaman sebagai makna, yang mencari kebersamaan, dan yang hidup dari harapan di tengah ketidakpastian.
Barangkali itulah daya tarik sepak bola yang sesungguhnya. Ia bukan sekadar olahraga, melainkan cermin kehidupan, ruang kebudayaan, dan perayaan atas kodrat manusia. Dalam sembilan puluh menit permainan, manusia mengalami hidup dalam bentuknya yang paling padat: berjuang tanpa kepastian, bermain dalam keterbatasan, menghidupi pengalaman, berharap hingga akhir, dan menemukan dirinya di tengah kehadiran orang lain.
***
Judul: Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












