Menyiapkan Generasi yang Mencintai Pertanian

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (04/07/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Menyiapkan Generasi yang Mencintai Pertanian ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Kata “generasi” berasal dari bahasa Latin “generatio” yang berarti “kelahiran” atau “proses kelahiran”. Dalam bahasa Indonesia, generasi merujuk pada sekelompok orang yang lahir dan hidup pada waktu yang sama, biasanya dalam rentang waktu sekitar 20-30 tahun.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Jadi, generasi bisa diartikan sebagai kelompok usia yang memiliki karakteristik, pengalaman, dan nilai-nilai yang sama karena lahir dan tumbuh dalam waktu yang sama. Contohnya, Generasi Z, Millennial, Baby Boomer, dan lain-lain. Lalu, apa yang dimsksud dengan “mencintai pertanian” ? Mencintai pertanian bisa berarti memiliki rasa sayang dan kepedulian terhadap tanah, tanaman, dan proses produksi pangan. Ini juga bisa berarti menghargai kerja keras petani; peduli dengan keberlanjutan lingkungan; menginginkan makanan yang sehat dan segar; menikmati proses menanam dan merawat tanaman; juga mengapresiasi keindahan alam dan siklus hidup.

Mencintai pertanian bukan hanya tentang menjadi petani, tapi juga tentang menghargai sumber daya alam dan proses yang menghasilkan makanan kita sehari-hari.

Ada beberapa generasi yang dikenal mencintai pertanian, seperti :

– Generasi Baby Boomer (1946-1964). Banyak dari mereka yang tumbuh di era pertanian tradisional dan memiliki hubungan erat dengan tanah.
– Generasi X (1965-1980). Beberapa dari mereka masih memiliki pengalaman bertani atau memiliki keluarga yang berprofesi sebagai petani.
– Generasi Milenial (1981-1996). Banyak yang mulai tertarik dengan pertanian modern, urban farming, dan pertanian berkelanjutan.
– Generasi Z (1997-2012). Beberapa di antaranya mulai terlibat dalam pertanian digital, pertanian presisi, dan pertanian berkelanjutan.

Tapi, perlu diingat bahwa cinta pada pertanian tidak terbatas pada generasi tertentu saja. Banyak orang dari berbagai generasi yang mencintai pertanian dan berkontribusi dalam bidang ini. Pertanyaan kritisnya adalah apakah di masa depan akan lahir generasi baru yang benar-benar mencintai pertanian ?

Tentu saja ! Masa depan selalu penuh kemungkinan. Generasi baru, seperti Generasi Alpha (2013-2025) dan seterusnya, mungkin akan memiliki perspektif yang berbeda tentang pertanian. Dengan kemajuan teknologi dan kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan, tidak menutup kemungkinan mereka akan lebih mencintai pertanian, terutama jika pertanian bisa menjadi lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan.

Mungkin di masa depan, pertanian akan menjadi lebih menarik dan bergengsi, sehingga lebih banyak anak muda yang tertarik untuk menjadi petani.

Ada beberapa alasan mengapa kaum muda kurang tertarik menjadi petani, seperti:
Pertama, persepsi bahwa pertanian tidak bergengsi. Banyak yang menganggap pertanian sebagai pekerjaan yang kurang bergengsi atau tidak modern.
Kedua, kerja keras dengan penghasilan tidak pasti. Pertanian sering kali membutuhkan kerja keras dengan hasil yang tidak pasti karena faktor cuaca dan harga pasar.
Ketiga, kurangnya akses ke teknologi dan modal. Banyak petani muda kesulitan mendapatkan akses ke teknologi modern dan modal untuk mengembangkan usaha pertanian.
Keempat, peluang karir yang lebih menarik di kota. Banyak kaum muda yang lebih tertarik dengan pekerjaan di kota yang dianggap lebih stabil dan bergengsi.

Tapi, berdasarkan pengamatan yang ada, banyak juga kaum muda yang mulai melihat pertanian sebagai peluang karir yang menjanjikan, terutama dengan adanya perkembangan teknologi pertanian modern dan kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Untuk memberi jalan keluar, Pemerintah bisa melakukan beberapa strategi untuk menarik kaum muda ke dunia pertanian, seperti:
1. Memberikan insentif dan subsidi. Pemerintah bisa memberikan insentif dan subsidi bagi petani muda yang ingin memulai usaha pertanian.
2. Meningkatkan akses ke teknologi. Pemerintah bisa menyediakan akses ke teknologi pertanian modern, seperti drone, sensor, dan sistem irigasi otomatis.

3. Pendidikan dan pelatihan. Pemerintah bisa menyediakan pendidikan dan pelatihan tentang pertanian modern dan manajemen usaha pertanian.
4. Promosi pertanian sebagai karir yang bergengsi. Pemerintah bisa mempromosikan pertanian sebagai karir yang bergengsi dan menjanjikan.
5. Meningkatkan akses ke pasar. Pemerintah bisa membantu petani muda meningkatkan akses ke pasar, baik secara offline maupun online.

Dengan strategi yang tepat, sesungguhnya pemerintah bisa membuat pertanian menjadi lebih menarik bagi kaum muda. Ke arah sanalah sebaiknya kita menuju. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Menyiapkan Generasi yang Mencintai Pertanian
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *