Jangan Sepelekan El Nino

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Kamis (02/07/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Jangan Sepelekan El Nino ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Perjalanan pembangunan di negeri ini, memang belum mampu terbebas atau membebaskan diri dari sergapan El Nino. Sampai sekarang, Pemerintah belum memiliki jurus ampuh untuk menghadapinya. El Nino tetap tampil menjadi problem yang butuh penanganan dengan serius. Termasuk kehadiran El Nino Godzila yang diduga bakal lsbih dahsyat serangannya.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

El Nino adalah fenomena iklim global yang ditandai dengan memanasnya suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di atas rata-rata normal. Gangguan pola suhu laut ini memicu perubahan sirkulasi atmosfer global yang berdampak signifikan terhadap cuaca di berbagai belahan dunia.

Dampak El Nino di Indonesia
Bagi Indonesia, fenomena ini sangat memengaruhi pola curah hujan dan musim antara lain musim kemarau lebih kering. Curah hujan berkurang drastis karena awan hujan lebih banyak terbentuk di Samudra Pasifik. Kemudian, potensi kekeringan dan krisis air. Berkurangnya pasokan air tanah dapat memicu kekeringan di berbagai daerah.

Lalu, risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kondisi tanah dan vegetasi yang kering membuat hutan mudah terbakar, yang dapat memicu kabut asap. Juga ancaman Ketahanan Pangan: Musim kemarau yang panjang dapat mengganggu siklus tanam, memicu gagal panen (puso), dan menurunkan produksi pertanian.

Fenomena El Nino di Indonesia saat ini telah aktif dan berpeluang hingga 98 persen untuk mencapai kategori El Nino Kuat. Berdasarkan pembaruan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kondisi Samudra Pasifik telah bertransisi penuh ke fase El Nino dan intensitasnya diprediksi terus meningkat.

Fenomena ini diperkirakan akan berdampak panjang dan berpotensi bertahan hingga awal 2027.
1. Dampak Langsung Cuaca dan Musim Kemarau. Kemarau lebih kering dan panjang. Kehadiran El Nino memicu musim kemarau di Indonesia menjadi jauh lebih kering dengan curah hujan yang berada di bawah normal.

Prediksi puncak kemarau. BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau akan melanda secara bertahap mulai dari Juli hingga September. Juli meliputi sebagian Sumatra, Jawa bagian kecil, NTT selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, serta sebagian Papua.

Agustus (puncak terluas) mencakup hampir 48,84% wilayah daratan Indonesia, termasuk sebagian besar Pulau Jawa, Sumatra tengah, Bali, NTB, sebagian NTT, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Sedangkan September bergeser ke Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, Kalimantan selatan, dan Maluku Utara.

2. Sektor paling terdampak adalah pertanian dan ketahanan pangan. Musim tanam pertama di berbagai daerah terancam mundur akibat minimnya pasokan air. Risiko gagal panen (puso) membayangi sawah tadah hujan, yang berpotensi menekan produktivitas pertanian nasional. Juga krisis air bersih.

Menyusutnya debit air sungai dan air tanah memicu ancaman kekeringan ekstrem di wilayah-wilayah rentan, terutama di kawasan Jawa, Bali, NTB, NTT, dan sebagian Kalimantan. Dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla): Kondisi lahan yang sangat kering dari Agustus hingga Oktober mempertinggi risiko kebakaran serta polusi.

Pergerakan El Nino memang harus terus dipantau. El Nino jangan sampai luput dari perhatian dan pengamatan, khususnya para pengambil kebijakan pertanian dan ketajanan pangan. El Niño itu jangan disepelekan karena dampaknya sangatlah luas, apalagi di Indonesia yang kini tengah berjuang keras untuk mewujudkan swasbada pangan.

Ada beberapa alasan, mengapa kita perlu mewaspadai perkembangan El Nino dari waktu ke waktu. Paling tidak, ada 5 hal yang dapat terjadi. Pertama, El Nino membuat musim kemarau ekstrem dan kekeringan. El Niño melemahkan monsun, jadi hujan telat datang atau jumlahnya sangat sedikit. Akibatnya: sawah gagal panen, krisis air bersih, sumur kering, dan risiko kebakaran hutan/lahan naik drastis.

Kedua, stok pangan terganggu dan harga naik. Dikarena padi, jagung, dan komoditas lain gagal panen, harga bahan pokok bisa melonjak. Ini langsung kerasa ke dompet rakyat. Ketiga, kesehatan ikut terkena dampak. Kekeringan dan panas ekstrem menciptakan rawan dehidrasi, ISPA, karena kabut asap, dan DBD. Penyakit menular juga bisa naik saat air bersih susah.

Keempat, listrik dan air bisa terganggu. Banyak PLTA di negeri ini bergantung pada debit air. Kalau sungai/waduk surut, pasokan listrik bisa dipangkas. PDAM juga sering gangguan. Kelima, ekosistem laut menjadi kacau. El Niño membuat suhu laut naik dan ikan pindah ke laut lebih dingin. Nelayan jadi susah cari ikan, ekonomi pesisir praktis terkena imbasnya.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disampaikan, El Niño itu efek berantai. Dimulai dari “hujan kurang”, tapi ujungnya sangat berdampak ke pangan, air, ekonomi, sampai kesehatan. Untuk itu menjadi sangat tidak logis, bila kita tetap berleha-leha. Semoga kita akan mampu menghadapinya dengan cerdas. (PENILIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Jangan Sepelekan El Nino
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *