Wahai Mentari Pagi!

Oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Rabu (01/07/2026)  Artikel berjudul “Wahai Mentari Pagi!” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

“Wahai mentari pagi, apa yang membuat hariku masih punya arti?”

Mentari tersenyum.

“Lihatlah aku.
Setiap pagi engkau berkata aku terbit, seolah datang mengusir malam. Padahal aku tak timbul-tenggelam, melainkan tetap di tempatku; bumilah yang berputar hingga kembali menghadap terang.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Begitu pula hidupmu.

Jangan cepat percaya pada gelap yang kau rasakan. Tidak setiap malam berarti cahaya padam; kadang hanya hatimu yang membelakanginya.

Engkau berkata tubuhmu ringkih.

Semua yang hidup memang menuju rapuh: pohon lapuk, gunung terkikis, sungai bermuara ke laut.

Yang memuliakan hidup bukan kekuatan, melainkan kesediaan untuk tetap memberi meski perlahan kehilangan tenaga.

Engkau berkata jerih payahmu tak dihargai.

Siapa mengajarimu bahwa nilai hidup ditentukan tepuk tangan manusia?

Akar tak dipuji, namun darinya pohon berdiri. Mata air tak dikenang, namun darinya sungai mengalir.

Yang menyangga hidup bekerja dalam sunyi.

Engkau berkata negerimu kacau, masa depan tertutup kabut.

Benar. Tetapi tak ada pelayaran yang menunggu laut tanpa ombak. Tak ada pelaut menunggu kabut tersingkap untuk mengangkat layar.

Jalan tak pernah terbentang sekaligus; ia menyingkap diri bagi yang berani melangkah.

Lalu engkau bertanya:

“Apa yang membuat hariku masih berarti?”

Bukan karena dunia adil, atau esok pasti menang, tetapi karena engkau masih bebas memilih.

Memilih terang daripada silau. Kebenaran daripada kebisingan. Kasih daripada kebencian.

Memilih tetap jujur ketika dusta menguntungkan, tetap manusia ketika dunia kehilangan kemanusiaan.

Hidup tak diukur dari tinggi berdiri, melainkan dari dalamnya engkau berakar pada kebaikan.

Kelak, nama mungkin hilang, tetapi kebaikan, luka yang diubah menjadi kasih, dan harapan yang ditanam di tengah putus asa, tetap tinggal dalam semesta.

Maka berjalanlah. Jika berat, perlahan. Jika letih, beristirahat, tetapi jangan menyerah.

Sebab fajar tak mengusir malam dengan amarah.

Ia datang, dan dunia berubah.

Jadilah bukan cahaya yang memukau, tetapi terang yang menunjukkan jalan.

Selama nuranimu masih menyalakan cahaya di tengah gelap zaman, harimu tetap berarti.”

***

Judul: Jalan Maju Norwegia
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *