Penghiburan Sepak Bola

Oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Selasa (30/06/2026)  Artikel berjudul “Penghiburan Sepak Bola” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, untung masih ada kejuaraan dunia sepak bola. Sebab berita sering datang seperti hujan bocor: ember penuh, atap tetap menetes, dan kita makin hafal bunyi kecewa.

Di tengah hari-hari yang terasa berulang, kita masih punya alasan sederhana menunggu dini hari: ketika pertandingan dimulai, seolah dunia membuka ruang lain yang tidak sepenuhnya milik kekalahan.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Di ruang itu, sepak bola menghadirkan pelajaran yang membuat hidup lebih manusiawi: sportivitas yang tak banyak diumumkan, kemahiran dari latihan panjang, dan keyakinan bahwa setiap orang masih bisa mengubah keadaan.

Ada kerja sama yang tak selalu tersorot, keberanian untuk mencoba lagi setelah gagal, kesebelasan mana pun masih berpeluang selama permainan belum selesai. Yang tertinggal bisa mengejar, yang diragukan bisa mengejutkan.

Di stadion, orang merasa terhubung oleh hal yang sama. Mereka bersorak bukan hanya untuk menang, tetapi untuk tetap berada dalam harapan meski hasil tak selalu berpihak.

Di situlah pelajaran itu mengendap: tidak semua ditentukan hasil segera, usaha tetap bermakna meski gagal, dan kekalahan bukan akhir permainan. Hidup, seperti sepak bola, memberi ruang berubah sampai detik terakhir.

Namun di luar lapangan itu, di negeri yang kita tinggali sehari-hari, permainan sering berbeda. Tidak selalu ada ukuran sejelas gol, tidak selalu ada akhir sejujur peluit.

Di sana, kata bergerak lebih cepat dari tujuan. Janji dipoles meyakinkan, tetapi jarang berujung pada hasil nyata.

Yang tampak adalah kelincahan, yang hilang adalah arah. Yang terdengar adalah penjelasan, yang tak kunjung hadir adalah penyelesaian.

Janji-janji terus diolah, digocek ke kiri dan ke kanan, memikat, tetapi tak pernah benar-benar ditendang masuk ke gawang.

Untung masih ada kejuaraan dunia sepak bola. Di tengah dunia yang berat dan mengecewakan, ia mengingatkan: hidup tidak selalu memberi kepastian, tetapi selalu memberi ruang untuk dimainkan sampai tuntas dengan aturan dan arah yang jelas.

Di sana kita belajar satu hal sederhana: yang menentukan bukan hanya peluang yang datang, melainkan keberanian untuk terus bermain di dalamnya. Sampai peluit akhir dibunyikan.

***

Judul: Penghiburan Sepak Bola
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *