Cahaya Kota dan Jiwa

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Minggu (28/06/2026)  Artikel berjudul “Cahaya Kota dan Jiwa” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, kota berkilau seperti samudera cahaya yang mabuk akan dirinya sendiri. Lampu-lampu menari di langit malam, seolah ingin menyaingi bintang—padahal bintang telah lama menyingkir dari pandangan manusia yang tak lagi menengadah. Di bawah sorot neon dan kaca, segalanya tampak hidup, namun entah mengapa, jiwa terasa padam.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Aku menapaki jalan-jalan sibuk, diapit deru mesin, tawa hampa, dan bayang reklame yang menjajakan kebahagiaan. Namun semakin terang cahaya di luar, makin gelap relung di dalam dada. Aku mendengar gemuruh dunia, tapi tak lagi mendengar detak hatiku sendiri.

Pernah aku iri pada cahaya lampu—pada kilaunya yang tak pernah lelah. Namun aku sadar, di balik gemerlap itu, ia pun perlahan memudar, habis oleh terang yang diciptakannya sendiri. Sedang jiwa, meski redup, menyimpan nyala yang tak pernah padam, asal dijaga dari angin kesombongan dan kerakusan.

Keheningan memanggilku. Di sela bising kota, aku mencari celah untuk mendengar-Nya. Di antara langkah tergesa dan raungan mesin, aku belajar berzikir tanpa suara. Sungguh, cahaya sejati tak datang dari pancaran luar, melainkan dari pancaran nurani yang menyala di ruang paling sunyi dalam dada.

Namun sulit menjaga nyala itu. Setiap hari kota menawarkanku cermin, agar aku sibuk mencintai bayangan, bukan wajah sejati. Ia menggoda dengan kilau keberhasilan. Sedang suara dari langit dalam diriku berbisik: “Berjalanlah di jalan cahaya, tapi jangan tertipu oleh yang tampak bercahaya.”

Antara gemerlap dan sunyi, aku bergulat. Ada tarikan untuk tenggelam, ada panggilan untuk pulang. Dari retakan hati yang letih muncul seberkas cahaya lembut—tak menyilaukan, namun menuntun. Cahaya yang tak bermegah, tapi mengerti.

Kini aku tahu, berjalan di jalan cahaya bukan berarti menjauh dari dunia, melainkan menyalakan dunia dari dalam. Agar gemerlap lampu tak lagi memadamkan jiwa, melainkan menemukan cerminnya dalam kedamaian yang diam.

Aku pun menengadah—dengan hati berserah dan mata lembut basah: Ya Cahaya di atas segala cahaya, terangilah celah gelap di dadaku, nyalakan kembali api cinta di malam jiwaku, tuntunlah akhir perjalananku di jalan cahaya petunjuk-Mu.

***

Judul: Cahaya Kota dan Jiwa
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *