MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (27/06/2026) – Renungan 10 Muharram menjadi momentum untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan melakukan muhasabah. Melalui tulisan bertajuk Ashura Reflection, Nanan Soekarna mengajak pembaca membangun kepercayaan, menciptakan nilai, dan meninggalkan warisan kehidupan yang bermakna sebagai bekal menuju perjumpaan dengan Allah SWT.
Lead by Heart
Nanan Soekarna
⸻
Bismillahirrahmanirrahim
“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Setiap datangnya 10 Muharram, Allah bukan hanya mengajak kita mengenang sejarah. Allah mengajak kita mengubah diri. Sebab, setiap perubahan besar dalam sejarah selalu diawali oleh perubahan hati, perubahan cara berpikir, perubahan nilai, dan perubahan tindakan.
Hari Asyura adalah momentum untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.
Momentum untuk bermuhasabah.
Momentum untuk memperbaiki niat.
Momentum untuk memperbarui komitmen.
Momentum untuk bertanya kepada diri sendiri dengan penuh kejujuran.
Siapakah saya?
Untuk apa saya hidup?
Ke mana saya akan kembali?
Warisan apa yang sedang saya bangun?
Banyak di antara kita mengenang berbagai peristiwa besar yang dikaitkan dengan Hari Asyura: keselamatan Nabi Nuh AS, kemenangan Nabi Musa AS atas Fir’aun, diterimanya tobat Nabi Adam AS, serta berbagai kisah para nabi yang mengajarkan satu pelajaran yang sama.
Bahwa setelah kesabaran ada pertolongan Allah.
Setelah kejujuran ada kemuliaan.
Setelah perjuangan ada kemenangan.
Dan setelah pengabdian yang tulus selalu ada keberkahan.
Namun, sesungguhnya makna Asyura bukanlah sekadar mengenang masa lalu.
Makna Asyura adalah melakukan transformasi diri.
Berubah dari ego menjadi empati.
Dari ambisi menjadi pengabdian.
Dari mengejar kekuasaan menjadi memberi manfaat.
Dari mencari penghormatan menjadi membangun kepercayaan.
Karena hidup bukan sekadar perjalanan menuju masa pensiun.
Hidup bukan sekadar membangun karier.
Bukan sekadar mengumpulkan harta.
Bukan pula mengejar jabatan.
Seluruh kehidupan adalah perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah SWT.
Maka, yang harus dipersiapkan bukan hanya masa depan dunia.
Tetapi seluruh perjalanan hidup hingga akhir hayat.
⸻
Hidup Bukan Tentang Mempersiapkan Pensiun
Ada satu pertanyaan yang sering muncul dalam berbagai seminar maupun pelatihan.
“Kapan sebaiknya seseorang mulai mempersiapkan masa pensiun?”
Sebagian menjawab lima tahun sebelum pensiun.
Sebagian mengatakan dua tahun sebelumnya.
Sebagian lagi menjawab sejak mulai memiliki penghasilan.
Semua jawaban itu tidak salah.
Namun, menurut saya, pertanyaan tersebut perlu diubah.
Bukan:
“Kapan kita mempersiapkan pensiun?”
Melainkan:
“Bagaimana kita menjalani kehidupan sehingga kapan pun sebuah fase berakhir, kita tetap diterima, dihormati, dipercaya, tetap dapat berkarya, dan, yang lebih penting, siap mempertanggungjawabkan seluruh amanah di hadapan Allah SWT?”
Karena sesungguhnya setiap manusia sedang menjalani berbagai tahapan kehidupan.
Seorang pegawai akan mengakhiri masa dinasnya.
Seorang pemimpin akan mengakhiri masa jabatannya.
Seorang pengusaha akan menyerahkan usahanya kepada generasi berikutnya.
Seorang profesional akan mengakhiri profesinya.
Dan pada akhirnya, setiap manusia akan mengakhiri kehidupan dunianya.
Maka, yang perlu dipersiapkan bukanlah akhir sebuah jabatan.
Melainkan bagaimana menjalani seluruh kehidupan dengan benar.
⸻
Hidup Adalah Proses Membangun Kepercayaan
Sesungguhnya setiap hari kita sedang menabung.
Bukan hanya uang.
Tetapi juga kepercayaan.
Setiap pikiran.
Setiap ucapan.
Setiap keputusan.
Setiap tindakan.
Setiap pelayanan.
Semuanya sedang membangun atau justru mengurangi kepercayaan orang kepada kita.
Kepercayaan itulah modal terbesar kehidupan.
Orang mungkin menghormati jabatan kita.
Namun, mereka akan mengenang karakter kita.
Jabatan dapat membuka pintu.
Tetapi hanya kepercayaan yang membuat pintu itu tetap terbuka.
Karena itu…
Hidup bukanlah tentang mengejar kesuksesan.
Hidup adalah tentang membangun kepercayaan.
⸻
Melayani Adalah Investasi Terbesar
Apa pun profesi kita.
Aparatur negara.
Anggota TNI.
Anggota Polri.
ASN.
Hakim.
Jaksa.
Guru.
Dosen.
Dokter.
Pengusaha.
Karyawan swasta.
Profesional.
Atau pekerjaan apa pun.
Pada hakikatnya, kita semua sedang mengabdi melalui pelayanan.
Melayani masyarakat.
Melayani pelanggan.
Melayani organisasi.
Melayani sesama manusia.
Karena itu, bekerjalah dengan satu prinsip sederhana.
Layani siapa pun dengan sepenuh hati.
Strive for Excellence.
Berikan yang terbaik.
Tanpa selalu menghitung untung dan rugi.
Nothing to Lose.
Karena setiap pelayanan yang tulus sesungguhnya sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada keuntungan sesaat.
Pelayanan melahirkan Trust.
Trust melahirkan Networking.
Networking melahirkan kesempatan.
Kesempatan melahirkan kebermanfaatan.
Dan kebermanfaatan menjadi warisan kehidupan.
⸻
Dua Modal Kehidupan yang Tidak Pernah Habis
Selama hidup, kita sebenarnya sedang membangun dua aset terbesar.
Trust.
Dan
Networking.
Trust tidak dapat dibeli.
Ia lahir dari kejujuran.
Integritas.
Kompetensi.
Ketulusan.
Empati.
Dan konsistensi.
Networking bukan sekadar mengenal banyak orang.
Networking adalah persahabatan yang dibangun di atas rasa saling percaya.
Ketika suatu hari jabatan berakhir.
Pangkat dilepas.
Profesi selesai.
Usaha diserahkan.
Trust tetap tinggal.
Networking tetap hidup.
Orang akan tetap menerima kita.
Tetap menghormati kita.
Tetap mengajak kita berkarya.
Bukan karena bekas jabatan.
Tetapi karena mereka percaya kepada pribadi kita.
Kesempatan akan datang melalui jalan yang legal, legitimate, profesional, dan bermartabat.
Karena kepercayaan selalu melahirkan peluang.
⸻
Tiga Prinsip Menjalani Kehidupan
Agar perjalanan hidup memiliki makna, saya meyakini tiga prinsip yang harus dijaga.
Values for Value
Setiap pikiran, ucapan, keputusan, dan tindakan harus memberi nilai tambah bagi orang lain.
Full Commitment – No Conspiracy
Bekerjalah dengan komitmen penuh.
Jangan pernah membangun keberhasilan melalui konspirasi.
Manipulasi.
Penyalahgunaan amanah.
Atau pengkhianatan terhadap kepercayaan.
Integrity Defender
Jadilah penjaga integritas.
Berani menjaga kebenaran.
Mencegah penyimpangan.
Melindungi nilai-nilai luhur.
Dan tetap berpihak kepada kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Ketiga prinsip inilah yang akan melahirkan Trust.
Trust melahirkan Networking.
Networking melahirkan kebermanfaatan.
Dan kebermanfaatan menjadi amal jariah yang terus hidup bahkan ketika kita telah tiada.
⸻
Filosofi Kehidupan
Hidup bukanlah tentang mengejar kesuksesan, melainkan tentang membangun kepercayaan.
Kepercayaan melahirkan persahabatan.
Persahabatan melahirkan kesempatan.
Kesempatan melahirkan kebermanfaatan.
Kebermanfaatan melahirkan warisan.
Dan warisan kehidupan itulah yang akan menjadi bekal pertanggungjawaban kita di hadapan Allah SWT.
Karena itu, jangan jalani hidup hanya untuk mengejar jabatan.
Jangan bekerja hanya untuk memperoleh kekuasaan.
Jangan mengabdi hanya untuk mendapatkan penghargaan.
Jalani hidup untuk memberi manfaat.
Bangun kepercayaan melalui pelayanan.
Bangun pelayanan dengan integritas.
Bangun integritas dengan keikhlasan karena Allah SWT.
⸻
Renungan Penutup
Suatu hari nanti…
Seragam akan dilepas.
Jabatan akan diserahkan.
Ruang kerja akan ditinggalkan.
Kekuasaan akan berakhir.
Tepuk tangan akan berhenti.
Dan nama kita perlahan mungkin mulai terlupakan.
Namun, ada satu hal yang akan tetap hidup.
Kepercayaan yang pernah kita bangun.
Kepercayaan itu akan berubah menjadi doa.
Menjadi persahabatan.
Menjadi keteladanan.
Menjadi amal jariah.
Menjadi warisan yang terus hidup bahkan ketika kita telah tiada.
Karena sesungguhnya manusia tidak diukur dari berapa lama ia hidup.
Tidak pula dari setinggi apa ia pernah menjabat.
Tetapi dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya.
Maka, jadikanlah setiap datangnya 10 Muharram sebagai awal hijrah yang baru.
Hijrah dari ego menuju empati.
Dari ambisi menuju pengabdian.
Dari mengejar jabatan menuju membangun kepercayaan.
Dari mencari penghormatan menuju meninggalkan warisan.
Lead by Heart.
Build Trust.
Create Value.
Leave a Legacy.
Semoga ketika seluruh perjalanan hidup ini berakhir, kita tidak hanya meninggalkan harta.
Tidak hanya meninggalkan jabatan.
Tetapi meninggalkan nilai.
Meninggalkan kepercayaan.
Meninggalkan keteladanan.
Meninggalkan manfaat.
Dan meninggalkan jejak kebaikan yang terus mengalir sebagai amal jariah.
Itulah hakikat kehidupan yang bernilai, bermartabat, bermanfaat, dan diridai Allah SWT.
Selamat menyambut 10 Muharram 1448 Hijriah.
Mari berhijrah, bukan hanya berpindah waktu, tetapi berpindah kualitas hidup; dari mengejar kepentingan menuju memberi manfaat, dari mencari penghormatan menuju membangun kepercayaan, dan dari sekadar hidup menuju kehidupan yang bernilai sebagai bekal terbaik menghadap Allah SWT.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Judul: Renungan 10 Muharram: Hidup Adalah Membangun Kepercayaan
Penulis: Komjen Pol. (Purn.) Nanan Soekarna, Ketua Wali Amanat UPI, Pinisepuh MMS.
Editor: Parkah












