MajmusSunda News, Bandung, 22/6/2026 – Eep Supendi Maqdir, yang lebih dikenal sebagai Kang Eep, adalah praktisi akustik dan sound system masjid, penulis, trainer, konsultan media komunikasi dan branding, inovator, serta penggerak gagasan kemasyarakatan di bidang teknologi, dakwah, pangan, pertanian, budaya, koperasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Lahir di Garut pada 9 Januari 1972, Eep merupakan alumnus Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung angkatan 1991. Latar akademiknya beririsan kuat dengan dunia elektronika, instrumentasi, audio, dan akustik. Ketertarikannya terhadap tata suara sudah tampak sejak masa kuliah. Dalam mata kuliah seminar dan tugas akhirnya di Jurusan Fisika ITB, Eep mengambil tema Sistem Kontrol pada Tata Suara Dolby Pro Logic, sebuah topik yang menunjukkan bahwa minatnya terhadap audio, sistem kontrol, reproduksi suara, dan teknologi tata suara telah terbentuk sejak masa akademik.
Ketertarikan Eep pada dunia suara tumbuh jauh lebih awal. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang akrab dengan bunyi dan musik tradisional Sunda seperti kecapi, kendang, dan suling. Sejak kecil, ia terbiasa mendengar, membedakan, dan mengeksplorasi kejernihan suara. Rasa ingin tahu itu membuatnya sering membongkar perangkat elektronik, mempelajari cara kerja radio, hingga mencoba merakit amplifier dan speaker sendiri.
Pada masa kuliah dan awal karier, Eep aktif di dunia laboratorium, elektronika, dan audio visual. Ia pernah menjadi asisten praktikum Laboratorium Elektronika & Instrumentasi ITB, asisten praktikum Fisika Dasar, asisten dosen Laboratorium Elektronika Analog & Digital STMIK–ICM Bandung, penulis Majalah AUVI, Kepala Laboratorium Pengujian Audio Video Majalah Audio Video Jakarta, serta kontributor Majalah Audio Video dan Majalah Indonesia Youth Association di Tokyo, Jepang. Ia juga pernah menjadi FOH Manager, Sound Engineer, dan Music Director di berbagai event.
Dalam perjalanan profesionalnya, Eep memiliki pengalaman panjang di bidang audio visual, elektronika, multimedia, desain, branding, website, video, fotografi, company profile, komunikasi korporat, home theater, dan akustik ruang. Dalam profil profesionalnya, ia dicatat memiliki pengalaman sekitar 34 tahun di bidang audio dan video. Pada 2025, Eep juga memperoleh Sertifikat Kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Musik Indonesia, pada bidang Musik dengan kualifikasi/kompetensi Penata Bunyi (Sound Engineer).
Media Komunikasi, Branding, dan UKM
Jejak Eep tidak hanya berada di dunia audio. Ia juga pernah menjadi konsultan media komunikasi untuk berbagai lembaga, perusahaan, komunitas, dan BUMN. Pekerjaannya mencakup desain logo, company profile, materi presentasi, media promosi, sistem informasi, desain komunikasi visual, multimedia interaktif, video dokumentasi, hingga pengembangan website.
Dalam bidang branding, Eep cukup sering memberikan materi kepada para pelaku UKM. Materi yang disampaikan tidak hanya menyentuh aspek visual seperti logo, warna, kemasan, atau materi promosi, tetapi juga menyangkut cara membangun identitas usaha, merumuskan positioning, memahami karakter produk, membaca pasar, dan menyampaikan nilai usaha agar lebih mudah dipahami konsumen. Ia juga pernah menjadi konsultan branding bagi beberapa perusahaan dan komunitas.

Bagi Eep, branding bukan sekadar membuat tampilan menjadi lebih menarik. Branding adalah cara membantu sebuah produk, lembaga, usaha, atau komunitas menemukan identitasnya, memahami kekuatannya, lalu menyampaikannya dengan bahasa yang lebih mudah diterima masyarakat.
Akustik dan Sound System Masjid
Sejak 2019, Eep semakin fokus pada bidang yang masih jarang digarap secara serius di Indonesia, yaitu akustik dan sound system masjid. Baginya, tata suara masjid bukan sekadar urusan alat, speaker, amplifier, atau volume suara. Sound system masjid harus membantu jamaah mendengar dengan jelas, memahami pesan dakwah, menjaga kenyamanan ibadah, dan menghadirkan suasana audial yang sesuai dengan fungsi masjid.

Dalam pandangan Eep, suara masjid tidak boleh hanya keras. Suara harus jernih, cukup, merata, nyaman, dan terarah. Masjid adalah ruang ibadah, dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat. Tata suara yang buruk dapat mengganggu kekhusyukan, melelahkan pendengaran, bahkan membuat pesan dakwah tidak tersampaikan dengan baik.
Melalui Bangun Swara Akustika, Eep menangani asesmen, konsultansi, perancangan, instalasi, dan penataan akustik serta sound system masjid. Portofolionya mencakup berbagai masjid, pesantren, aula, training room, podcast room, home cinema, dan ruang serbaguna di berbagai daerah.
Dua proyek terakhir yang menjadi bagian penting dari rekam jejaknya adalah Masjid Raya Al Bakrie Bandar Lampung dan Masjid Tazkia Sentul Bogor. Sebelumnya, Eep juga menangani berbagai proyek lain, antara lain Masjid Peradaban Percikan Iman Arjasari dan Masjid Raya Kotamobagu, serta sejumlah masjid, pesantren, dan ruang ibadah dengan karakter akustik yang berbeda-beda.
Selain menangani proyek, Eep aktif sebagai instruktur akustik dan sound system masjid. Ia pernah menjadi narasumber pelatihan akustik dan sound system masjid, termasuk dalam kegiatan bersama PUSDAI Jawa Barat dan Masjid Salman. Pada tahun 2026, Eep menjadi instruktur pelatihan akustik dan sound system masjid bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI). Program ini menargetkan 1.000 masjid sepanjang tahun 2026 dan sudah berjalan sejak awal tahun 2026.
Inovasi, Gagasan, dan Pemantik Gerakan
Kekuatan Eep tidak hanya terletak pada kemampuan teknis. Ia juga dikenal sebagai sosok yang kuat dalam inovasi dan gagasan. Banyak gagasan yang ia tulis, lontarkan, dan sebarkan melalui media online, dokumen gagasan, forum komunitas, serta berbagai grup WhatsApp, kemudian menjadi bahan percakapan, pemantik diskusi, dan pendorong lahirnya kegiatan kemasyarakatan.
Dalam banyak hal, Eep sering memulai sesuatu dari tulisan, catatan, konsep, atau kerangka gagasan. Dari sana, orang mulai berdiskusi, komunitas mulai bergerak, lembaga mulai melihat peluang kerja sama, dan kegiatan mulai menemukan bentuknya. Pola ini tampak dalam berbagai bidang yang ia tekuni: sound system masjid, pangan lokal, pertanian, koperasi, pendidikan, kebudayaan Sunda, teknologi informasi, media komunikasi, branding, hingga pemberdayaan masyarakat.
Salah satu contoh penting adalah gagasan Eep di bidang pembiayaan syariah untuk pertanian. Tulisan, pemikiran, dan dorongan gagasannya pernah ikut membuka perhatian terhadap pentingnya pola pembiayaan yang lebih sesuai untuk dunia pertanian. Gagasan tersebut ikut menjadi salah satu pemantik ketertarikan Otoritas Jasa Keuangan untuk mengembangkan pola pembiayaan syariah bagi sektor pertanian. Dalam riwayatnya, Eep tercatat sebagai Anggota Pokja Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan dan juga aktif sebagai Ketua Umum Yayasan Swadaya Petani Indonesia.

Di bidang pangan dan pertanian, Eep aktif mendorong gagasan tentang pertanian holistik, pangan lokal, koperasi, tata niaga, teknologi informasi, dan kedaulatan pangan. Ia tidak melihat pertanian hanya sebagai urusan budidaya, tetapi sebagai ekosistem yang mencakup petani, pembiayaan, pasar, distribusi, data, kelembagaan, pengolahan, dan keberlanjutan.

Dalam bidang pangan lokal, Eep juga tercatat sebagai Presiden Indonesian Locavore Society, sebuah gerakan yang mendorong masyarakat untuk kembali mengenali, mengonsumsi, dan menguatkan bahan pangan lokal setempat. Bagi Eep, kedaulatan pangan tidak hanya dibangun dari produksi pertanian, tetapi juga dari pola konsumsi masyarakat, keberpihakan pada petani dan bahan pangan lokal, serta kemampuan daerah untuk mengolah dan menghargai kekayaan pangannya sendiri.
Organisasi, Komunitas, dan Pemberdayaan
Kiprah Eep dalam organisasi dan pemberdayaan terlihat dari berbagai peran yang pernah dan sedang dijalankannya. Ia tercatat sebagai Ketua Umum Yayasan Swadaya Petani Indonesia, Presiden Indonesian Locavore Society, Founder & Managing Director PT Silokananta Global Network, Ketua Umum Muslim Bikers United, Ketua Umum Koperasi Bikers Bersaudara Sejahtera, Wakil Ketua Yayasan Wakaf Infak ITB, Founder & CEO PT Jejaring Informasi Teknologi Bisnis, serta Founder Yayasan Winaya Insan Mulia.
Dalam ranah budaya dan kebangsaan Sunda, Eep juga menjadi bagian dari Badan Pekerja Majelis Musyawarah Sunda (MMS). Peran ini memperlihatkan keterlibatannya dalam kerja-kerja konsolidasi gagasan, tata kelola, komunikasi, dan penguatan gerakan kasundaan.

Sebagai penulis, Eep banyak menyusun catatan, gagasan, modul, buku, dokumen strategi, dan materi edukasi di bidang sound system masjid, akustik, pendidikan, pangan lokal, pertanian, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Tulisan-tulisannya sering beredar di media online maupun ruang komunitas, lalu menjadi bahan percakapan, pemantik kesadaran, dan pendorong kegiatan.
Dengan latar tersebut, Eep S. Maqdir dapat diposisikan sebagai praktisi lintas bidang yang menjembatani ilmu, inovasi, teknologi, dakwah, budaya, pangan lokal, dan pemberdayaan masyarakat. Ia berangkat dari dunia fisika, elektronika, audio, dan teknologi, lalu memperluas kiprahnya ke masjid, pendidikan, pangan, pertanian, koperasi, media komunikasi, branding, kebudayaan, dan gerakan sosial.
*****
Judul: Mengenal Eep S. Maqdir Seorang Inovator Penerima Penghargaan MajmusSunda News
Penulis: AZM
Editor: Adrie












