MajmusSunda News – Bandung, Kamis (18/06/2026) – Di 1 Muharam, tanggal di kalender berwarna merah. Kantor tutup, sekolah libur. Sebagian orang menarik napas lega, sebagian lagi membuka aplikasi tiket, sebagian lain bertanya dengan sangat spiritual: “Besok jalan-jalan ke mana?”
Begitulah nasib Tahun Baru Hijriah di negeri yang sangat pandai memperingati, tetapi sering lupa memaknai. 1 Muharam datang seperti tamu agung dari sejarah besar umat Islam, tetapi disambut terutama sebagai kesempatan memperpanjang tidur. Hijrah yang dulu berarti perpindahan besar dari kegelapan menuju terang, dari tekanan menuju kemerdekaan, dari ketakutan menuju peradaban, kini pelan-pelan berubah menjadi perpindahan dari kasur ke sofa.
Tentu tidak ada yang salah dengan libur. Tubuh juga punya hak asasi untuk rebahan. Bahkan mungkin rebahan pun bisa menjadi ibadah dibandingkan ngegosip. Tetapi menjadi agak lucu ketika sebuah tanggal yang seharusnya mengingatkan kita pada gerakan besar perubahan akhirnya hanya menjadi catatan di kalender: “Tanggal merah, alhamdulillah, ada waktu untuk beli gas………….”
Kata hijrah sendiri memiliki makna yang berat. Ia bukan sekadar pindah rumah, pindah pekerjaan, pindah partai, apalagi pindah gaya rambut supaya tampak lebih muda. Hijrah adalah keberanian meninggalkan kebiasaan lama yang membusuk, meninggalkan cara berpikir yang sempit, meninggalkan kerakusan yang sudah diberi baju dinas, meninggalkan kebohongan yang sudah terlalu lama duduk di kursi empuk.
Namun di tangan kita, hijrah kadang berubah menjadi dekorasi kata. Ia ditempel di spanduk, dimasukkan ke tema pengajian, dijadikan judul lomba pidato, lalu bersamaan dengan bubarnya panitia, tidak ada tindak lanjut apa pun. Besok paginya, kehidupan kembali seperti biasa: jalan tetap macet, hati tetap sempit, kantor tetap penuh bisik-bisik, politik tetap penuh sulap, dan rakyat tetap belajar menjadi sabar dengan kurikulum yang diganti-ganti.
Lebih absurd lagi, ketika memasuki abad ke-15 Hijriah dulu, suasana sempat ramai sekali. Pidato bergemuruh, seminar bertumpuk, spanduk berderet, tulisan bertebaran. Umat seakan-akan akan segera memasuki babak baru sejarah: lebih adil, lebih cerdas, lebih bermartabat, lebih jujur, lebih bersih, lebih manusiawi. Semua orang seperti sedang berdiri di gerbang peradaban baru sambil membawa proposal masa depan.
Namun setelah waktu berlalu, kita menoleh ke belakang dengan agak malu-malu. Gerbangnya masih ada, tetapi banyak yang hanya berfoto di depannya. Peradaban baru belum tentu masuk, tetapi dokumentasinya lengkap. Panitia sukses, sertifikat tercetak, konsumsi habis, kata sambutan tersimpan rapi, lalu kehidupan kembali menempuh jalan lama dengan sandal yang sama.
Di sinilah humor sejarah bekerja dengan sangat halus. Kita sering merayakan momentum besar, tetapi tidak ada tindak lanjutnya. Kita menyukai gagasan perubahan, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Kita senang menyebut hijrah, tapi hanya “omon-omon” saja. Yang kita inginkan mungkin bukan hijrah, melainkan libur hijrah: perubahan yang tidak terlalu mengubah apa-apa.
Maka 1 Muharam pun berjalan sendirian di tengah kalender. Ia mengetuk pintu rumah kita pelan-pelan: “Ada yang mau berubah?” Dari dalam terdengar jawaban, “Maaf, sedang cuti bersama.”
Padahal sejarah hijrah Nabi bukan sekadar kisah perjalanan dari Makkah ke Madinah. Ia adalah pelajaran tentang membangun masyarakat baru: mempersaudarakan yang terpecah, menata keadilan, menyusun kepercayaan, menghidupkan martabat manusia. Hijrah bukan nostalgia, melainkan energi. Bukan sekadar mengenang perjalanan, tetapi bertanya: dari mana kita harus berangkat, dan keburukan apa yang harus kita tinggalkan?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi memberatkan. Sebab kalau dijawab jujur, banyak sekali yang harus dipindahkan. Keserakahan harus dipindahkan dari pusat kekuasaan ke tempat sampah sejarah. Kebohongan harus dipindahkan dari podium ke ruang pertobatan. Kemiskinan tidak cukup diberi santunan musiman, tetapi harus dipindahkan dari nasib pribadi menjadi tanggung jawab bersama. Pendidikan harus dipindahkan dari hafalan menuju keberanian berpikir. Agama harus dipindahkan dari pengeras suara menuju kelembutan perilaku.
Namun tentu itu tidak mudah. Lebih mudah membuat baliho bertuliskan “Selamat Tahun Baru Islam” daripada membuat kebijakan yang tidak menyakiti orang kecil. Lebih mudah mengadakan pawai obor daripada menyalakan cahaya keadilan. Lebih mudah mengganti foto profil dengan kaligrafi daripada mengganti tabiat lama yang keras kepala.
Akhirnya, setiap 1 Muharam, kita lebih sibuk merancang peringatan daripada membiarkan maknanya mengguncang ruang batin. Kita mungkin takut kalau hijrah benar-benar terjadi, sebab mungkin yang pertama kali harus berhijrah adalah diri sendiri: dari sombong ke rendah hati, dari banyak bicara ke banyak bekerja, dari merasa paling benar ke berani mendengar.
Maka tahun baru datang, tahun baru pergi. Angka Hijriah bertambah, tetapi kedewasaan sosial belum tentu ikut naik kelas. Kita memasuki tahun baru dengan doa yang indah, tetapi keluar dari masjid dengan kebiasaan lama.
Barangkali 1 Muharam tidak minta dirayakan besar-besaran. Ia hanya tidak ingin diperlakukan sebagai tanggal merah semata. Kalau tidak, 1 Muharam hanya akan menjadi libur nasional yang tersenyum sendirian. Sebuah tanggal suci yang sabar melihat manusia tidur lebih lama, makan lebih enak, berjalan-jalan lebih jauh, tetapi pulang tetap menjadi orang yang sama.
Di penutup hari, waktu berbisik dengan humor yang sangat pelan:
“Selamat Tahun Baru Hijriah. Semoga tahun ini kita tidak lagi menjadikan peringatan hijrah sebagai acara seremonial: dibuka dengan basmalah, ditutup dengan konsumsi, lalu dilupakan sebelum piring-piring dicuci.”
2 Muharam 1448 H

Judul: Ditertawakan Libur Nasional
Penulis: Ganjar Kurnia, Akademisi, Guru Besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian, saat ini menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS)
Editor: Parkah












