MajmusSunda News – Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (11/06/2026) – Chye Retty Isnendes selaku Ketua PSS-PATREM, meluncurkan Novel Puspawana Puspagiri bertempat Auditorium B Lantai 4 FPBS Universitas Pendidikan Indonesia Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung.
Peluncuran Novel ini diselenggarakan atas kerja sama Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda FPBS Universitas Pendidikan Indonesia dengan Paguyuban Sastrawati Sunda PATREM.
Acara ini dipandu oleh Dian Hendrayana, dosen Prodi Pendidikan Bahasa Sunda FPBS UPI, Sastrawan dan Seniman Sunda, yang dihadiri oleh pangbagea Ganjar Kurnia, Guru Besar Unpad selaku Pembina PATREM dan Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad; Haris Santosa Nugraha, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Sunda, dan; Yulianeta, Guru Besar UPI, Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Penjamin Mutu FPBS UPI, serta; Rachmat Taufiq Hidayat, Direktur Pustaka Jaya.

Juga hadir Penulis dan Apresiator T. Bachtiar Dewan Pendiri Jantera’77 (Mahasiswa Pencinta Alam Geograpi IKIP Bandung/UPI, Pakar Geografi dan Toponimi; Taufan Suranto, Sekjen DPKTLS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda), Kader Konservasi Tingkat Utama; dan Iwan Abdurahman (Abah Iwan), Anggota Wanadri Angkatan Singawalang’64 pencipta lagu dan musik balada.

Karya terbaru dari Chye Retty Isnendes yang bertajuk “Puspawana Puspagiri”. Jika kita bedah maknanya, “Puspawana” yang berarti hutan bunga dan “Puspagiri” yang berarti gunung bunga, seolah menjanjikan sebuah penjelajahan estetik ke dalam lanskap batin manusia Sunda yang luhur.
Peluncuran ini merupakan buah dari sinergi yang manis antara dunia akademis dan komunitas kreatif. Kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda FPBS UPI dengan Paguyuban Sastrawati Sunda (PATREM) menunjukkan bahwa pelestarian bahasa memerlukan dua pilar utama: institusi yang menjaga kaidah dan komunitas yang menjaga nyawa kreativitas.
Sosok di balik “Puspawana Puspagiri”, Chye Retty Isnendes adalah figur yang unik. Dalam dunia kreatif, ia dikenal sebagai “Chye” yang liris. Namun, di panggung akademik, ia adalah Prof. Dr. Retty Isnendes, S., seorang pemikir yang tajam. Kehadiran beliau sebagai penulis sekaligus tokoh sentral dalam gerakan PATREM memberikan warna tersendiri bagi perkembangan sastra Sunda kontemporer.
Berikut Sinopsis Novel Berbabahasa Sunda Tersbut
Puspawarna Puspagiri teh Carita Ningrum. Wanoja pecinta alam nu neang acining tresna. Lalampahana nu resep mapay lungkawing na jungkrang, nyusur gunung, teu ku hanteu bet ples jeung lembaran carita cinta nu malipir rumpil. Lain sekali, malah dua kali, pasini pakait ati jeung Jajaka anu sapangresep. Panyana, ari nu dunyana sarua mah romansa tinangtu manjang. Geuning dina setengahing jalan nyampak cucuk rungkang: rea konflik matak sulit, rea karep nu teu kateguh, rea hariwang nu teu kadongkang.
Jalan nu pasti tina jadi pencinta alam, Ratna Ningrum bisa panggih jeung jati dirina: mikanyaah alam, mihurmat budaya, mikaheman papada insan, sarta pinuh karumasa ka Nu Maha Kawasa. Kumaha ari kapastian lalakon Caritana? Naha baris pinanggih jalan nu caang? Atawa sabalika ku langit nu ceudeum?

Terjemahannya: Puspawarna Puspagiri adalah kisah Ningrum. Seorang wanita yang mencintai alam dan mencari cinta. Perjalanannya seperti mendaki bukit terjal, menjelajahi gunung, tak lepas dari kisah-kisah cinta yang berbelit-belit. Tak sekali, bahkan dua kali, ia bertemu dengan pria yang dicintainya. Tentu saja, jika dunia sama, maka kisah cinta tertentu akan berlangsung selamanya. Namun di tengah perjalanan, terdapat rintangan: banyak konflik yang menyulitkan, banyak keinginan yang tidak kuat, banyak kekhawatiran yang belum terselesaikan.
Jalan pasti untuk menjadi pencinta alam, Ratna Ningrum dapat menemukan jati dirinya: mencintai alam, menghormati budaya, menghormati semua orang, dan penuh cinta kepada Yang Maha Kuasa. Apa kepastian alur cerita ini? Akankah ia menemukan jalan yang terang? Atau akankah ia disambut oleh langit yang gelap?



Apresiasi Atas Penerbitan Novel Ini
Launching novel ini adalah untuk membumikan sastra, hal ini disampaikan oleh para Apresiator, seperti T. Bachtiar menyampaikan tanggapan karya Chye Retty Isnendes dengan menggambarkan geologi dan toponimi kota Bandung dan sekitarnya di masa lalu, seperti halnya yang diceritakan di novel ini.
Selanjutnya Iwan Abdurahman mangatakan bahwa dirinya menolak untuk memberikan komentar untuk urusan novel, tetapi saat membaca judulnya, ia merasa gampang karena ada hubungannya dengan sejarah Wanadri.

“Kesan kedua, saya baca novel menggunakan bahasa Sunda kok enak sekali membacanya. Novel ini mengalir untuk membacanya,” ujar pria yang akrab disapa Abah Iwan ini, “Buku ini, tulisan ini, cerita ini, sangat mudah bagi saya orang awam berbahasa Sunda untuk terhanyut dari kalimat pertama sampai penutup.”
Kemudian Abah Iwan menambahkan, “Buku ini berhubungan dengan kebatinan, bicara gunung bicara keur kejantanan, keras, bahaya, petualangan tapi buku ini bicara tentang kehalusan, kasih sayang, yang romantis sekali, ini seperti pengalaman saya. Ternyata membaca buku seperti menghayati perjalanan uang ditulis oleh Teh Retty.”
Dalam pandangan pamungkasnya Abah Iwan menyarankan kepada kawula muda, baik pelajar maupun mahasiswa agar mau membaca karya sastra yang indah ini.


“Saya sangat ingin menyarankan, kita mengupayakan sekeras mungkin supaya novelnya Teh Retty dibaca oleh adik-adik kita, juga dibaca oleh kita semua yang selalu ingin belajar,” tutur Abah Iwan.
Selanjutnya Taufan Suranto menyampaikan bahwa Novel karya Teh Retty sebenarnya menceritakan, membahas bagaimana pecinta alam yang sesungguhnya.
“Ketika berbicara tentang pecinta alam, bagaimana buku ini bisa membuka cakrawala bahwa apa yang terjadi hari ini dengan banyaknya orang-orang bergiat di alam terbuka, tanpa keterampilan tanpa pendidikan, tanpa didampingi oleh senior itu sebenarnya mengundang bahaya, bukan hanya buat mereka, tapi buat alam sendiri,” ujar Taufan dengan antusias, “Intinya, buku ini cukup memberikan gambaran pecinta alam itu seharusnya, seperti Kang Kuku, Jante…”


Sebagai penutup, Chye Retty Isnendes menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada berbagai pihak, “Alhamdulillah buku Novel Puspawarna Puspagiri dapat diterbitkan. Simkuring ngahaturkeun nuhun, parantos sumping di acara ieu, mugi Allah panggentosna tina rizki-rizki anu teu karaos ku urang urang, tina rizki-rizki anu memang atos jalanna kadinya. Margi teu tiasa sasanggem sareng teu tiasa masihkeun nu pangsaena, Simkuring neda dihapunten kasadayana.”

Kami dari MajmuSunda News yang hadir pada launching novel berbahasa Sunda ini mengucapkan selamat kepada Chye Retty Isnendes yang telah menerbitkan novel ini. Semoga kita dapat mencintai sastra Sunda dan menjadi bagian dari budaya kita yang harus selalu dilestarikan.
***
Judul: Laporan Eksklusif MajmusSunda News: Chye Retty Isnendes Luncurkan Novel Puspawana Puspagiri
Reporter/Penulis: Asep Zaenal Mustofa (AZM)
Editor: Jumari Haryadi












