MajmusSunda News, Kamis (11/06/2026) – Artikel berjudul “Jalan Maju Korea Selatan” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, setelah Perang Korea (1950–1953), Korea Selatan berada dalam kondisi hampir runtuh. Infrastruktur hancur, kapasitas industri nyaris punah, ekonomi bertumpu pada pertanian subsisten dan bantuan luar negeri. Dalam banyak hal, Korsel saat itu lebih dekat pada negara miskin daripada calon kekuatan industri.

Dalam kondisi begitu, Park Chung-hee naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta militer pada 1961. Ia meyakini negara tak bisa menunggu pasar membangun dirinya sendiri; negara harus mengarahkan transformasi ekonomi secara aktif.
Dari sini lahir strategi industrialisasi terencana. Negara mengarahkan kredit, investasi, dan insentif ke sektor prioritas, lalu mendorong industrialisasi berorientasi ekspor—dari tekstil dan manufaktur ringan hingga industri berat, kimia, dan teknologi.
Negara juga membentuk dan membesarkan konglomerasi industri nasional (chaebol) seperti Samsung, Hyundai, dan LG sebagai mesin ekspor. Berbeda dengan banyak negara yang konglomerasinya tumbuh dari rente komoditas, di Korsel mereka dipaksa bertahan melalui disiplin ekspor, efisiensi produksi, dan peningkatan teknologi. Arah ini perlahan menggeser ekonomi dari tenaga murah menuju basis pengetahuan dan inovasi.
Di pedesaan, diluncurkan Saemaul Undong (Gerakan Desa Baru), yang meningkatkan produktivitas melalui infrastruktur dasar, kerja kolektif, dan etos disiplin. Ini menjadi jembatan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri.
Percepatan pembangunan itu seiring dengan konsolidasi kekuasaan politik secara ketat. Kebebasan sipil dibatasi, oposisi ditekan, sistem semakin tersentralisasi pada era Yushin di 1970-an.
Hasilnya, Korsel berubah dari negara miskin pascaperang menjadi salah satu ekonomi industri paling maju di Asia dalam satu generasi, dengan basis pengetahuan dan teknologi yang makin kuat.
Warisan kepemimpinan Park menuai kontroversi. Percepatan pembangunan dengan peran negara dalam mengarahkan industrialisasi secara disiplin dan konsisten dibayar dengan penyempitan ruang kebebasan politik. Meski begitu, pengalaman Korsel tetap menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah bangsa dapat keluar dari kemiskinan menuju kemaju
***
Judul: Jalan Maju Korea Selatan
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












