Membayangkan Pakai Rompi Oranye

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Ganjar Kurnia

Koruptor
Ilustrasi: Seorang tersangka kasus korupsi memakai rompi orange sedang dikawal oleh KPK - (Sumber: MajmusSunda News)

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Kamis (11/06/2026) – Artikel berjudul “Membayangkan Pakai Rompi Oranye” ini ditulis oleh: Prof. Ganjar Kurnia, Komisaris PT Majmu Musti Sundaya dan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Ada pakaian yang membuat orang tampak gagah. Jas lengkap, membuat kelihatan penting, batik membuat tampak berbudaya, toga membuat terlihat berilmu, seragam membuat terasa kompak, tapi ada satu pakaian yang begitu dipakai, semua lakon hidup mendadak menunduk, yaitu rompi oranye.

Rompi oranye bukan sekadar kain. Ia adalah semacam bendera moral. Tidak perlu bicara. Begitu seseorang keluar dari gedung pemeriksaan dengan rompi itu, seluruh tubuhnya menjadi pengumuman berjalan: “Saudara-saudara, inilah babak baru kehidupan saya.”

Prof. Ganjar Kurnia
Prof. Ganjar Kurnia – (Sumber: MajmusSunda News)

Anehnya, rompi itu tidak mahal. Tidak bermerek luar negeri. Bukan “haute couture” yang dijahit oleh desainer Paris. Namun, efek psikologisnya mengalahkan jas Brioni, dasi Hermès, sepatu Italia, dan jam tangan yang harganya bisa membuat tukang cilok pingsan setelah beberapa kali istghfar. Rompi itu sederhana, tetapi auranya luar biasa. Ia bisa mengubah mantan orang kuat menjadi manusia biasa dalam hitungan detik.

Secara psikologis, barangkali yang paling berat bukan rompinya, melainkan perubahan mendadak dari “Yang Terhormat” menjadi “tersangka”. Kemarinnya masih disambut ajudan, pintu mobil dibukakan, kursi disiapkan. Hari berikutnya, kamera televisi menunggu seperti burung pemakan bangkai yang berdoa agar wajah yang disorot terlihat jelas. Kemarin-kemarinnya orang-orang berkata, “Siap, Pak!” Hari ini mereka berbisik, “Itu dia orangnya.”

Rompi oranye menjadi pengalaman eksistensial. Wajah menjadi milik publik, langkah menjadi milik berita, tunduk kepala menjadi bahan tafsir nasional. Kalau ia tersenyum, disebut tidak punya malu. Kalau menangis, disebut sandiwara. Kalau diam, disebut menyembunyikan sesuatu. Kalau bicara, banyak orang merasa panik.

Secara sosiologis, rompi oranye adalah ritual pembalikan status. Dalam masyarakat kita, status sering kali dibangun dengan simbol: mobil dinas, rumah besar, panggilan “Bapak”, kursi depan, karangan bunga, foto bersama pejabat, dan ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang yang sebenarnya tidak tahu tanggal lahirnya. Tetapi rompi oranye membalik semua simbol itu. Ia seperti terompet kecil dari dunia hukum: bahwa kekuasaan ternyata bisa masuk angin.

Hal menarik, masyarakat kita punya hubungan yang rumit dengan orang berompi oranye. Di satu sisi marah, di sisi lain penasaran. Di satu sisi mengutuk, di sisi lain menikmati dramanya. Kita seperti diajak menonton sinetron moral yang pemerannya dulu sering memberi ceramah tentang integritas. Ada rasa gereget, ada kepuasan kecil, ada sinisme, tetapi juga ada kelucuan yang sulit dijelaskan.

Di belakang satu rompi oranye, sering ada barisan panjang orang yang dulu tepuk tangan, minta proyek, minta rekomendasi, minta bantuan, minta jatah, lalu ketika kasus meledak, merka mendadak menjadi pesilat yang menggunakan jurus berkelit: “Saya sudah lama tidak dekat dengan beliau……”

Keluarga adalah korban sunyi dari rompi oranye. Istri atau suami yang semula mendampingi dalam acara resmi, tiba-tiba harus terterpa badai berita. Anak-anak mendadak menjadi tatapan orang. Di sekolah, di kampus, di kantor, di lingkungan rumah, nama keluarga menjadi koper berat yang harus ditenteng ke mana-mana.

Betapa anehnya hidup. Yang menikmati uang mungkin satu lingkaran kecil, tetapi yang menanggung malu bisa satu keluarga besar, sampai- sampai sepupu saja yang tidak kecipratan pindah rumah dua kali. Anak yang semalam masih mengerjakan tugas matematika, pagi-pagi harus belajar ilmu sosial paling pahit: bahwa nama keluarga bisa jatuh lebih cepat daripada nilai ujian.

Bagi keluarga, rompi oranye bukan hanya tampak di televisi. Ia masuk ke ruang makan, duduk di kursi kosong, menempel di layar ponsel, bergetar di grup WhatsApp keluarga. Setiap notifikasi terasa seperti sirene. Setiap telepon dari nomor tak dikenal membuat dada berdebar. Tetangga yang biasanya ramah, tiba-tiba menjauh. Tukang sayur menaikkan suaranya. Satpam kompleks pura-pura tidak tahu menahu, padahal sudah nonton berita di Youtube beberapa kali.

Rompi oranye juga punya efek spiritual. Bukan karena warnanya mirip senja, tetapi karena ia memaksa manusia harus berhadapan dengan kefanaan reputasi. Rompi oranye bukan hanya pakaian tersangka. Ia adalah teks sosial yang dibaca oleh publik, keluarga, kawan, lawan, wartawan, pengacara, dan malaikat pencatat amal yang barangkali sejak awal sudah geleng-geleng kepala.

Memakai rompi oranye,  seperti berdiri telanjang di tengah pasar, tetapi masih berusaha merapikan kerah.  Maka sebelum rompi oranye itu dipakaikan oleh petugas, sebaiknya manusia mencoba memakainya dalam imajinasi. Berdirilah di depan cermin batin. Bayangkan kamera menyala. Bayangkan anak-anak dipermalukan. Bayangkan ibu dan bapak kita membaca berita. Bayangkan istri atau suami menahan tangis. Bayangkan teman-teman mendadak menjauh. Bayangkan dunia yang dulu memanggil  “Bapak” dengan sopan, kini  menyebut dengan teriak “Bangsat lu………”.

***

Judul: Membayangkan Pakai Rompi Oranye
Penulis: Ganjar Kurnia
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang Penulis

Ganjar Kurnia, Akademisi, Guru Besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian. Saat ini ia menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *