SUNDA, PERADABAN YANG TIDAK LAHIR DARI MAHKOTA: SUNDA TIDAK DIMULAI DARI ISTANA

Penulis: H. Dien At-Tasiki

SUNDA, PERADABAN YANG TIDAK LAHIR DARI MAHKOTA : SUNDA TIDAK DIMULAI DARI ISTANA. Penulis: H. Dien At-Tasiki

MajmusSunda News, Bandung, 28/5/2026 – Sebagai orang Sunda, kadang saya bertanya: Mengapa kita terlalu bermadzhab ke Pajajaran ?

Seolah seluruh kehormatan Sunda berawal dari singgasana ?

Mengapa nama Prabu Siliwangi begitu dominan, seakan sejarah Sunda hanya menemukan maknanya ketika bertemu mahkota?

Padahal, jauh sebelum istana berdiri, Sunda sudah bernapas. Sunda tidak lahir dari tembok kerajaan.

Sunda tumbuh dari tanah yang diolah para karuhun, dari bahasa yang lembut namun tegas, dari tata krama yang mengajarkan hormat bahkan sebelum mengenal politik kekuasaan.

Menghormati Pajajaran bukan kesalahan. Mengagumi Prabu Siliwangi juga bukan dosa kultural.

Namun menjadi tidak adil, jika seluruh kebesaran Sunda dipersempit hanya menjadi nostalgia istana.

Karena Sunda bukan hanya kisah para raja, tetapi juga kisah rakyat yang menjaga nilai ketika kekuasaan berganti-ganti.

Peradaban luhur Sunda tidak semata-mata tentang siapa yang duduk di singasana.

*****

Judul: SUNDA, PERADABAN YANG TIDAK LAHIR DARI MAHKOTA : SUNDA TIDAK DIMULAI DARI ISTANA
Penulis: H. Dien At-Tasiki

Penulis H. Dindin Noordin At-Tasiki merupakan Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat (2021’2026), alumni Pesantren Almunawwir Krapyak Yogyakarta dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pembina Yayasan Pesantren Darut-taqwa dan aktif dalam diskusi forum Peduli Bakti Pesantren.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *