INSTRUKSI

Penulis: Ganjar Kurnia

Sumber foto: Liputan6.com

MajmusSunda News, Cigadung, 26/5/26 – Di koran Pikiran Rakyat hari ini (23/05/26) ada berita menarik. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menginstruksikan seluruh kecamatan di Kota Bandung menggelar acara menonton bareng (Nobar), pertandingan Persib-Persijap. Alasannya masuk akal, antusiasme bobotoh besar, tiket terbatas, dan massa perlu diurai agar tidak menumpuk di satu titik. Pemerintah Kota Bandung juga menyebut nobar kecamatan sebagai cara menjaga situasi tetap kondusif selama pertandingan Persib vs Persijap, Sabtu, 23 Mei 2026.

Sebagai orang Bandung, tentu kita paham: Persib bukan sekadar klub sepak bola. Persib adalah identitas, ingatan kolektif, doa berjamaah yang kadang-kadang lebih khusyuk daripada rapat pembangunan. Di Bandung, skor Persib bisa mengubah tekanan darah publik. Kalau Persib menang, kota terasa lebih ramah. Kalau kalah, semua ikut murung seperti memikirkan harga beras kalau terus naik.

Jadi, nobar bukan soal menonton bola saja. Ia adalah upacara sipil. Bedanya, imamnya komentator, makmumnya bobotoh, dan khotbahnya berbunyi: “Mangga, ulah euforia kaleuleuwih……..”

Tetapi justru di sinilah persoalannya, yang perlu dikritisi bukan nobarnya. Nobar boleh, bahkan bagus, agar tertib, aman, dan tidak berubah menjadi festival knalpot bising. Hanya saja yang perlu dicermati adalah kata “instruksi”. Karena kata “instruksi” bukan kata biasa. Ia membawa aura komando. Ada rasa barisan, ada bayangan birokrasi sedang membawa memberi perintah. Instruksi biasanya dipakai untuk hal-hal yang sangat penting, mendesak, dan menyangkut kepentingan publik luas. Misalnya: instruksi penertiban parkir liar; Instruksi pembersihan sampah; Instruksi pengawasan kaki lima yang mengambil trotoar; Instruksi membenahi drainase sebelum hujan datang membawa risalah banjir; Instruksi menindak kendaraan yang berhenti seenaknya seperti sedang meditasi di tengah jalan, dsb. Karena itu, ketika kata “instruksi” dipakai untuk nobar, telinga publik boleh sedikit tergelitik. Bukan karena Persib tidak penting. Persib penting. Tapi Bandung juga punya masalah yang tidak kalah dari“liga utama”: parkir liar, sampah, PKL semrawut, kabel menjuntai, trotoar hilang, jalan bolong, kemacetan yang lebih konsisten daripada pemain asing baru, dsb.

Bayangkan jika semangat yang sama dipakai untuk urusan kota sehari-hari. “Seluruh kecamatan diinstruksikan menertibkan parkir liar.”Wah, itu baru serangan balik cepat. “Seluruh kelurahan wajib memastikan tidak ada warga membuang sampah sembarangan.”Itu baru pressing tinggi.“Setiap aparat wilayah harus memastikan trotoar dikembalikan kepada pejalan kaki”. Itu baru formasi 4-3-3 pembangunan kota.

Bandung selama ini seperti klub besar dengan banyak pemain berbakat, tetapi sering lupa latihan dasar. Visi kota kreatif ada, slogan ada, festival ada. Tapi begitu warga berjalan kaki, kreativitas itu langsung diuji oleh pot bunga, motor parkir, gerobak, papan reklame, dan lubang yang sepertinya sudah mendapat izin menetap. Karena itu, persoalan bahasa pemerintahan penting. Bahasa bukan sekadar kata. Bahasa menunjukkan prioritas.

Ketika pemerintah “menginstruksikan” nobar, publik bisa bertanya: apakah energi birokrasi kita sedang dipakai untuk mengelola euforia, atau juga untuk mengelola ketertiban? Apakah instruksi hanya turun ketika bola bergulir, atau juga ketika sampah menumpuk? Apakah kecamatan hanya sigap saat Persib bertanding, tetapi menjadi filsuf eksistensialis ketika menghadapi parkir liar: diam, merenung, lalu membiarkan?

Tentu pemerintah bisa beralasan bahwa nobar justru bagian dari manajemen ketertiban. Itu benar. Mengurai massa lebih baik daripada membiarkan kerumunan tumpah tanpa kendali. Tetapi tetap saja, kata “instruksi” sebaiknya ditempatkan secara proporsional. Untuk kegiatan ekspresi publik, mungkin cukup “imbauan”, “fasilitasi”, atau “koordinasi”. Sedangkan “instruksi” sebaiknya disimpan untuk pekerjaan-pekerjaan kota yang selama ini sering kalah oleh spanduk, seremoni, dan tepuk tangan.

Bandung tidak kekurangan euforia. Bandung kekurangan konsistensi. Warganya bisa sangat kompak mendukung Persib, tetapi belum tentu kompak membuang sampah pada tempatnya. Aparat bisa sangat siap mengatur nobar, tetapi kadang tampak kikuk menghadapi parkir liar yang sudah seperti kerajaan kecil dengan sistem pajak sendiri. Trotoar bisa disebut ruang publik, tetapi dalam praktiknya sering menjadi ruang perjuangan: pejalan kaki melawan motor, gerobak, papan menu, dan takdir.

Mari nobar, mari dukung Persib, mari bersorak dengan tertib. Tetapi setelah peluit panjang berbunyi, Bandung harus kembali bertanya: apakah kecamatan hanya menjadi layar besar untuk sepak bola, atau juga menjadi garda depan untuk menata kota? Kota yang baik bukan hanya kota yang bisa nobar bersama, tetapi kota yang bisa berjalan kaki tanpa takut diserempet motor. Kota yang baik bukan hanya kota yang bisa menyanyikan yel-yel, tetapi juga bisa menegakkan aturan tanpa pilih kasih. Kota yang baik bukan hanya kota yang bangga kepada Persib, tetapi juga tidak mempermalukan warganya di hadapan sampah, macet, dan parkir liar. Persib bisa menjadi kebanggaan, tetapi ketertiban kota harus menjadi kebiasaan.

Kalau kata “instruksi” memang begitu gagah, mari kita pakai untuk hal-hal yang lebih keras kepala: sampah yang terus datang, parkir liar yang terus tumbuh, PKL yang perlu ditata manusiawi, dan warga yang masih mengira selokan adalah tempat penitipan dosa rumah tangga. Nobar cukup difasilitasi. Ketertiban kota harus instruksi. (230526)

 

*****

 

Judul: INSTRUKSI

Penulis: Ganjar Kurnia

Penulis adalah Akademisi, Guru Besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian, saat ini menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *