Prabu Siliwangi, Maharaja Sunda yang Melegenda di Nusantara

Ditulis oleh keturunannya: Ratu Raja Okki Jusuf Judanagara

Prabu Siliwangi

MajmusSunda News – Bandung, Senin (25/05/2026) – Prabu Siliwangi III atau yang kita kenal sebagai Sri Baduga Maharaja adalah seorang Raja Sunda Padjajaran legendaris yang bertahta pada tahun 1482–1521 M. Pada masa pemerintahannya, Padjajaran mencapai masa keemasan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Prabu Siliwangi dikenal sebagai raja yang adil, bijaksana, sakti, dan mengayomi rakyatnya dengan ajaran Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh-nya. Ia berasal dari Kerajaan Galuh, lalu kemudian mempersatukan Kerajaan Sunda dan Galuh yang dulunya adalah Kerajaan Tarumanagara yang dibagi dua kepada Tarusbawa dan Wretikandayun, leluhurnya, pada tahun 669 M.

Dilahirkan pada tahun 1401 di Kawali dari ayah Raja Galuh Prabu Dewa Nisakala dan ibu Ratu Dewi Mayangsari. Nama aslinya adalah Raden Pamanah Rasa dan Jayadewata ketika menjadi Raja Muda.

Ia memerintah Kerajaan Padjajaran selama 39 tahun 1482 – 1521 M. Ia naik tahta setelah menerima mandat dari ayahnya Prabu Dewa Niskala, Raja Galuh ke XXXI 1357 – 1371 yg menggantikan Mahaprabu Niskala Wastukancana. Setelah menjadi Raja Galuh ia menikahi Kentring Manik Mayang Sunda putri Raja Sunda Susuk Tunggal, lalu kemudian setelah ia menjadi Raja Sunda ia menyatukan Kerajaan Galuh dan Sunda menjadi Kerajaan Padjajaran dgn Ibukota di Pakuan.

Pada abad ke-17, lebih dari seratus tahun setelah runtuhnya Kerajaan Sunda, kota Pakuan Pajajaran telah ditinggalkan penghuninya. Perlahan-lahan kota ini telantar, lapuk, dan rusak ditelan semak belukar dan aneka tanaman tropis, sehingga berubah menjadi hutan lebat yang menjadi sarang harimau. Ekspedisi perdana oleh orang Belanda ke pedalaman Jawa Barat dilakukan pada 1687 yang dipimpin Pieter Scipio van Oostende. Dia membawa tim ekspedisi untuk menjelajahi hutan di selatan Batavia menuju bekas ibu kota Pakuan dan akhirnya mencapai Wijnkoopsbaai (kini Palabuhanratu). Salah satu anggota ekspedisi ini tewas diterkam harimau di daerah ini dua hari sebelumnya. Scipio mendapat keterangan dari anak buah Letnan Tanuwijaya dari Sumedang bahwa reruntuhan itu adalah bekas ibu kota Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Prabu Siliwangi

Kerajaan Padjajaran yang sejahtera selain membangun kompleks istana Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, Suradipati (5 keraton yang berjajar), juga membangun parit pertahanan, Telaga Rena Mahawijaya, hutan kota Leweung Samida/Kebun Raya Bogor sekarang, Petirtaan Sumur Tujuh, pemandian Keputren Tamansari, dan tempat Srada Bukit Badigul di Rancamaya yang seharusnya dilestarikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Prabu Siliwangi menikahi 11 Ratu Tatar Sunda dan memiliki 140 selir sehingga menurunkan ribuan keturunannya di Tatar Sunda. Tiga istrinya yang paling terkenal adalah Nyimas Ratu Ambet Kasih yang menurunkan Banyak Catra, Banyak Ngampar, dan Ratu Pamekas; Nyimas Ratu Subang Larang yang menurunkan Pangeran Cakrabuana, Rara Santang, dan Rakean Santang; dan Nyimas Ratu Kentring Manik Mayang Sunda yang menurunkan Prabu Surawisesa, Surosowan, dan Dewi Surawati. Putranya yang paling terkenal karena menantang duel ayahnya adalah Rakean Santang, putra dari Nyimas Ratu Subang Larang.

Prabu Siliwangi dalam mitos sering dikaitkan memiliki hewan peliharaan harimau putih bernama Ki Waja sebagai simbol kekuatan dan kesaktiannya, juga bersenjatakan pedang dan kujang. Ia digambarkan sebagai seorang Maharaja sakti mandraguna dengan keahlian mantra-mantranya dalam tradisi lisan Sunda.

Menurut prasasti Batutulis Bogor, ia wafat secara moksa di leweung Gunung Salak, Buitenzorg pada akhir Desember 1521 dan jasadnya dimakamkan dengan cara “dikureubkeun” di Bukit Badigul Rancamaya. Ia wafat pada usia 120 tahun. Kemudian putranya Prabu Surawisesa menggantikannya sebagai Raja Padjajaran berikutnya

Prabu Siliwangi
Ratu Raja Okki Jusuf Judanagara (Penulis)

Profil Penulis

Ratu Raja Okki Susyani Jusuf Judanagara MSc. MM. Email okki.judanagara@gmail.com atau okkijudanagara19@gmail.com, alumni Arsitektur IKIP Bandung. Manajemen Strategis St. Universitas George London dan Sekolah Tinggi Manajemen Labora, menjadi direktur di beberapa perusahaan (1997-2018), peneliti, penulis, pembicara di tingkat Nasional/Internasional, pendiri Yayasan Tarumanagara Luhur, anggota Kehormatan Majlis Adat dan Budaya Nusantara, Kongres Rakyat Sunda, Dewan Pakar Majlis Musyawarah Sunda (MMS) dan Wakil Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat

Judul: Prabu Siliwangi, Maharaja Sunda yang Melegenda di Nusantara

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *