Kiprah HKTI Sebagai Mitra Strategis Pemerintah

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (23/05/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Kiprah HKTI Sebagai Mitra Strategis Pemerintah” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saat HUT ke-53 HKTI di Jakarta, 27 April 2026 di Auditorium Gedung F Kementan RI, Ketum DPN HKTI Dr. H. Sudaryono menyampaikan beberapa inti sari tugas dan peran nyata HKTI dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Ke tiga peran tersebut adalah maksimalkan peran untuk petani. HKTI yang sudah 53 tahun berdiri akan terus berkontribusi bagi masyarakat, khususnya petani. Ia mengajak semua pihak memaksimalkan peran, waktu, dan tenaga agar memberi manfaat nyata bagi petani Indonesia.

Selanjutnya, HKTI berkomitmen terus menjadi mitra strategis pemerintah dan memastikan program pertanian berjalan sampai ke tingkat bawah. Kemudian, peran sinergi untuk ketahanan pangan. HKTI bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus bersinergi memperkuat peran strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Berdasarkan yang disampaikan Ketum HKTI Dr. H. Sudaryono di HUT ke-53 HKTI tersebut, “peran maksimal” itu intinya 3 hal yakni :

Pertama, jadi penghubung yang aktif. Ada dua hal yang penting untuk digarap yakni mitra strategis pemerintah. Dalam hal ini, HKTI memastikan program pertanian dari pusat benar-benar sampai ke petani di tingkat bawah, bukan cuma berhenti di atas. Kemudian menjadi jembatan kolaborasi. Lewat InnoFood 2026, HKTI mempertemukan petani, pelaku usaha, peneliti, sampai investor dalam satu ruang. Jadi petani nggak jalan sendiri.

Kedua, fokus ke manfaat nyata.
Sudaryono bilang yang penting itu “memaksimalkan peran, waktu, dan tenaga agar memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya petani”. Artinya mengembangkan terus advokasi kebijakan. Perjuangkan harga gabah, pupuk subsidi, asuransi pertanian yang berpihak ke petani kecil. Selanjutnya, transfer teknologi. Bawa inovasi dari peneliti/investor langsung ke lahan petani. Kemudian, akses pasar. Artinya, bantu petani jual hasil panen dengan harga layak, potong rantai tengkulak

Ketiga, jaga ketahanan pangan dan kesejahteraan. Tujuan besarnya sinergi untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Jadi tidak cuma soal produksi naik, tapi petani juga sejahtera.

Kalau dijabarkan praktisnya, peran maksimal HKTI bisa seperti ini :
– Pendampingan. Kawal petani dari tanam sampai pasca panen
– Edukasi. Pelatihan teknologi, iklim, dan manajemen usaha tani
– Perlindungan. Bantu akses KUR, asuransi gagal panen, dan advokasi saat harga anjlok
– Kepedulian sosial. Seperti di HUT ke-53 kemarin, ada santunan 53 anak yatim- artinya pembangunan pertanian juga harus humanis

Intinya: HKTI posisinya jadi “lem perekat” antara pemerintah, swasta, peneliti, dan petani. Bukan cuma seremonial, tapi memastikan setiap program beneran kerasa manfaatnya di sawah. Inilah sebetulnya yang perlu diwujudkan agar HKTI benar-benar mampu menjadi mitra strategis pemerintah.

Jadi mitra strategis pemerintah itu artinya HKTI tidak cuma jadi “penonton” atau “kritikus”, tapi ikut kerja bareng dari perencanaan sampai eksekusi. Dari arahan Ketum HKTI di HUT ke-53 kemarin, ini cara mewujudkannya:

1. Pastikan program pemerintah sampai ke akar rumput. Langkah konkritnya kawal distribusi. HKTI di daerah ikut awasi pupuk subsidi, benih bantuan, alat mesin pertanian biar tepat sasaran. Kalau ada penyelewengan, langsung laporkan dengan data. Kemudian, jadi corong petani. Serap keluhan real di lapangan, lalu sampaikan ke Kementan/Dinas dengan solusi konkret. Bukan cuma komplain, tapi bawa usulan. Lalu, pendampingan teknis. Program food estate, IP400, pompanisasi – HKTI bantu sosialisasi + latih petani biar programnya jalan

Kedua, sediakan data dan jaringan yang tidak dimiliki pemerintah, seperti data mikro. Pemerintah punya data makro. HKTI bisa kasih data riil, berapa petani yang belum dapat pupuk, lahan mana yang kekeringan, harga panen harian di tiap kecamatan. Kemudian, jaringan 5 dekade. HKTI ada di 38 provinsi. Ini bisa jadi “tangan” pemerintah untuk sosialisasi cepat dan mobilisasi petani saat ada program darurat pangan. Lalu, uji coba inovasi. Lewat forum seperti InnoFood 2026, HKTI bisa uji teknologi baru bareng peneliti dan swasta dulu, sebelum diadopsi jadi program nasional

Ketiga, kolaborasi kebijakan, bukan reaktif. Artinya, ikut rembug regulasi. Saat pemerintah bikin Permentan soal HPP gabah atau tata niaga, HKTI duduk bareng bawa suara petani. Terlibat aktif dalam pilot project bareng. Contoh: HKTI + Kementan bikin demplot pertanian presisi di 100 ha. Kalau berhasil, baru scale-up pakai APBN. Lalu, sinkronisasi program. Jangan sampai program HKTI tumpang tindih dengan Kementan. Justru saling menguatkan

Keempat, jaga kepercayaan 2 arah. Pertama ke pemerintah, HKTI harus transparan, akuntabel, punya SDM ahli. Biar dipercaya megang program. Kedua, ke petani. HKTI harus terbukti membela petani. Kalau petani nggak percaya, pemerintah juga susah titip program lewat HKTI. Contoh konkret yang sudah jalan adalah saat HUT ke-53 kemarin, HKTI luncurkan InnoFood 2026 bareng Kementan. Itu bentuk mitra strategis: pemerintah kasih panggung kebijakan, HKTI yang eksekusi pertemukan petani-investor-peneliti. Catatan kritisnya, mitra strategis adalah HKTI jadi “operator lapangan” yang dipercaya pemerintah, sekaligus “penyambung lidah” petani yang didengar pemerintah.

HKTI juga nampu bersinergi untuk Ketahansn Pangan. Ini penting, karena Ketahanan Pangan tidak bisa dibangun sendiri. Di HUT ke-53 kemarin, Ketum HKTI Dr. Sudaryono bilang kuncinya itu “sinergi seluruh pemangku kepentingan”. Kalau dibedah, langkah HKTI membangun sinergi itu antara lain. Rancang “ruang ketemu” semua pihak. Ini yang paling konkret: HKTI meluncurkan InnoFood 2026 atau Innovation for Food Security & Sustainability Expo & Forum. Lalu, siapa yang dipertemukan ? Petani, pelaku usaha, peneliti, sampai investor. Kemudian, tujuannya apa ? Jawabnya, biar inovasi tidak mandek di lab, modal tidak nyasar, dan petani tidak bingung mau jual ke mana. Semua duduk bareng dalam 1 ekosistem.

Selanjutnya jadi “lem” antara 4 pilar ketahanan pangan yaitu
– Produksi. Sinergi dengan Kementan + peneliti untuk adopsi benih unggul, mekanisasi, dan antisipasi iklim
– Distribusi. Gandeng BUMN pangan, swasta, BUMDes untuk potong rantai pasok biar harga stabil
– Akses. Bareng perbankan untuk KUR tani, bareng Kemensos untuk pastikan petani miskin tetap bisa beli pangan
– Pemanfaatan. Kolaborasi dengan kampus & ahli gizi untuk edukasi diversifikasi pangan, nggak cuma beras

Kemudisn, Peran HKTI sebagai “dirigen” sinergi.
Bersana Pemerintah, HKTI jadi mitra strategis yang pastikan program food estate, pompanisasi, ekstensifikasi lahan jalan sampai ke petani
Bersama Swasta/investor, HKTI buka data potensi lahan & komoditas, jadi “mak comblang” biar investasi masuk ke pertanian
Bersama Peneliti/kampus, HKTI bawa masalah riil petani ke meja riset, dan bawa hasil riset ke sawah.
Bersama Petani, HKTI konsolidasi petani dalam korporasi/klaster biar punya posisi tawar dan siap diajak sinergi

Selanjutnya, mulai dari hulu sampai hilir dan humanis. Sinergi tidak cuma soal produksi. Di HUT ke-53, HKTI juga kasih santunan ke 53 anak yatim. Pesannya, ketahanan pangan harus bareng dengan kepedulian sosial. Petani kuat kalau keluarganya sejahtera. Intinya sinergi itu bukan seremoni. Harus ada kerja bersama yang hasilnya terasakan seperti produksi naik, pangan tersedia, petani sejahtera. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Kiprah HKTI Sebagai Mitra Strategis Pemerintah
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *