MajmusSunda News, Jum’at (22/05/2026) – Artikel berjudul “Perangai Islam Ilmiah” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, ada banyak buku yang membahas kemunduran tradisi ilmiah (scientific temper) di dunia Islam. Salah satu yang terpenting ialah The Venture of Islam karya Marshall G. S. Hodgson.

Berbeda dari pendekatan yang sekadar mencari “siapa yang salah”, Hodgson melihat kemunduran dunia Islam sebagai proses sejarah kompleks dipengaruhi politik, perdagangan, budaya, militer, dan perubahan global. Karena itu, kemunduran tradisi ilmiah tidak dapat dijelaskan hanya oleh faktor agama atau teologi semata.
Menurut Hodgson, dunia Islam klasik pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Bukhara, dan Cordoba tumbuh sebagai simpul jaringan intelektual. Tradisi ilmiah berkembang karena stabilitas politik, jaringan perdagangan luas, patronase penguasa, serta keterbukaan terhadap ilmu asing. Pada era Abbasiyah, karya-karya Yunani diterjemahkan dan dikembangkan oleh ilmuwan Muslim. Peradaban Islam tampil sebagai manifestasi mental kosmopolitan yang terbuka pada pertukaran gagasan lintas budaya.
Dari tradisi itu lahir tokoh-tokoh seperti Ibn Sina dalam kedokteran dan filsafat, Al-Khwarizmi dalam matematika, Ibn al-Haytham dalam optika dan metode ilmiah, serta ratusan ilmuwan perintis lainnya. Kemajuan tersebut terjadi karena ilmu dipandang sebagai bagian dari peradaban tinggi, bukan ancaman bagi agama. Namun, fragmentasi politik, invasi Mongol, dan perubahan orientasi lembaga pendidikan membuat tradisi ilmiah melemah. Studi hukum dan agama praktis lebih dominan, sementara filsafat alam dan eksperimen ilmiah kehilangan dukungan.
Hodgson menolak anggapan bahwa Islam sejak awal anti-sains. Justru Eropa banyak mewarisi pengetahuan melalui dunia Islam. Karena itu, kebangkitan tradisi ilmiah hanya mungkin dicapai melalui keterbukaan intelektual, penguatan institusi ilmu, kemampuan beradaptasi dengan modernitas, dan rekonsiliasi antara iman dengan rasionalitas.
Dengan demikian, sejarah Islam tidak dibaca sebagai kisah kejayaan yang hilang, melainkan sebagai pengalaman peradaban kosmopolitan yang pernah memimpin ilmu pengetahuan dunia dan masih bisa direkonstruksi untuk kembali mewarnai peradaban semesta.
***
Judul: Perangai Islam Ilmiah
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












