Madat Agama

oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Senin (11/05/2026)  Artikel berjudul “Madat Agama” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, di negeri yang riuh menyebut nama Tuhan, agama hidup di mana-mana: di rumah ibadah, di layar politik, di ruang simbolik kesalehan. Namun di tengah kelimpahan itu, agama miskin daya ubah.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Ia ramai sebagai ritual, tapi lemah sebagai kekuatan peradaban. Ia dipelihara sebagai identitas, tapi kehilangan keberanian intelektual; diagungkan sebagai kemuliaan, tapi gagal menyalakan daya cipta.

Padahal sejarah menunjukkan: agama pernah menjadi tenaga penggerak peradaban. Rachel M. McCleary & Robert J. Barro menunjukkan bahwa keyakinan keagamaan membentuk disiplin, etika kerja, tradisi literasi, dan jaringan kepercayaan sosial—fondasi penting bagi kemajuan,

Benjamin M. Friedman menunjukkan bahwa kapitalisme modern tidak lahir sepenuhnya dari ruang sekuler. Perkembangan ekonomi modern dimulai dari perubahan cara memaknai hidup, dipicu pergulatan teologis, yang menjadikan kerja sebagai panggilan moral, disiplin sebagai kebajikan, dan kemajuan sebagai tanggung jawab spiritual.

Namun di Indonesia hari ini, agama lebih marak sebagai seremoni daripada tenaga transformasi peradaban.

Kita rajin membangun rumah ibadah, tetapi malas membangun tradisi ilmu. Kita fasih menghafal ayat, tetapi gagap mengubahnya menjadi etika publik. Kita memuliakan simbol Tuhan, tetapi membiarkan korupsi merajalela.

Ormas-ormas keagamaan yang dahulu lahir sebagai gerakan pembebasan sosial perlahan terjebak dalam kenyamanan kelembagaan. Mereka sibuk merawat struktur, tetapi kehilangan keberanian mengguncang kebekuan. Mimbar lebih sering menjadi panggung legitimasi politik ketimbang pengobar nurani.

Ketika agama kehilangan daya kritisnya, ia berubah menjadi seremoni yang jinak: khusyuk di rumah ibadah, tetapi lumpuh menghadapi ketimpangan, kerakusan, dan kerusakan moral.

Barangkali problem terbesar kita bukan kurang religius, melainkan terlalu lama memenjarakan agama sebagai ritual formal. Kita sibuk mengurus surga, tetapi lupa membiarkannya bekerja di bumi.

Sebab iman yang sejati tidak berhenti di bibir dan upacara; ia menjelma keberanian moral yang menggerakkan peradaban. Jika tidak, agama hanya menjadi gema: terdengar keras, tetapi kehilangan elan vital.

***

Judul: Madat Agama
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *