MajmusSunda News, Selasa (05/05/2026) – Artikel berjudul “Percakapan Hayal Ki Hadjar Dewantara – Mohammad Sjafei tentang Pendidikan Indonesia” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026, upacara baru saja selesai di sebuah sekolah yang tak tertera di Google Map. Siswa mulai kembali ke kelas, petugas merapikan perlengkapan, dan suasana perlahan kembali ke rutinitas. Di bawah pohon di tepi lapangan, dua begawan pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara dan Mohammad Sjafei, berbincang dalam hening yang tidak sepenuhnya damai.

Ki Hadjar Dewantara:
Sjafei, setiap tahun nama saya disebut hari ini. Upacara digelar, pidato dibacakan. Namun saya bertanya dalam hati—apakah ruh pendidikan itu sendiri masih hidup?
Mohammad Sjafei:
Pertanyaan yang sama ada pada saya. Hari ini tampak khidmat, tetapi setelah upacara selesai, sistem kembali berjalan seperti biasa—tanpa banyak perubahan mendasar.
Ki Hadjar Dewantara:
Memang, di sana sini ada perkembangan yang menggembirakan. Kini, lebih banyak anak bersekolah, kesempatan belajar semakin terbuka.
Mohammad Sjafei:
Saya sepakat, Ki Hadjar. Akses memang meluas. Namun saya bertanya-tanya, apakah yang diperoleh siswa benar-benar bekal hidup, atau sekadar pengetahuan untuk lulus ujian?
Ki Hadjar Dewantara:
Itulah yang menjadi kegelisahan saya juga. Dulu saya memperjuangkan pendidikan yang memerdekakan—membentuk budi pekerti, bukan hanya kecerdasan intelektual.
Mohammad Sjafei:
Sedangkan saya menekankan kemandirian melalui kerja dan keterampilan. Namun hari ini, banyak lulusan yang masih bingung menghadapi dunia nyata.
Ki Hadjar Dewantara:
Barangkali karena pendidikan kita terlalu terikat pada angka—skor, peringkat, standar ujian.
Mohammad Sjafei:
Benar. Padahal kehidupan tidak diukur dengan angka semata. Seorang siswa bisa mendapat skor tinggi, tetapi belum tentu mampu menyelesaikan persoalan nyata.
Ki Hadjar Dewantara:
Bagaimana dengan peran guru menurutmu sekarang?
Mohammad Sjafei:
Guru berada dalam posisi sulit. Mereka dituntut memenuhi kurikulum dan administrasi, sehingga ruang untuk membimbing siswa secara mendalam menjadi terbatas.
Ki Hadjar Dewantara:
Padahal dalam pandangan saya, guru adalah pamong—penuntun yang memberi teladan dan dorongan. Bukan sekadar penyampai materi.
Mohammad Sjafei:
Dan siswa pun akhirnya terbiasa menunggu arahan, bukan berinisiatif. Ini berlawanan dengan cita-cita kemandirian yang dulu saya perjuangkan di Kayutanam.
Ki Hadjar Dewantara:
Lebih dari itu, perhatian terhadap guru terasa tidak seimbang. Kita lebih sibuk mengganti kurikulum, memperbarui prosedur administratif, dan merombak format laporan—daripada sungguh-sungguh meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru.
Mohammad Sjafei:
Itu tepat sekali. Energi sistem habis pada perubahan teknis, bukan penguatan manusia yang menjalankan pendidikan itu sendiri. Guru dituntut terus beradaptasi dengan aturan baru, tetapi tidak selalu mendapatkan penguatan yang setara.
Mohammad Sjafei:
Bahkan dalam banyak kasus, guru honorer menerima penghasilan yang sangat rendah. Ada yang pendapatannya lebih kecil dibanding petugas SPG pada kegiatan seremonial program pangan atau acara pemerintah. Kita sedang menyaksikan ketimpangan nilai: yang memikul masa depan bangsa justru dihargai lebih rendah daripada yang menjalankan proyek sesaat.
Ki Hadjar Dewantara (pelan):
Jika demikian, bukan hanya sistem yang timpang… tetapi juga cara bangsa ini menilai arti pendidikan itu sendiri.
(Sejenak hening. Suasana upacara yang tadi ramai kini tinggal gema jauh. Nada percakapan berubah—lebih dalam, lebih tajam.)
Ki Hadjar Dewantara:
Namun, Sjafei, kegelisahan ini tampaknya tidak hanya berhenti pada ruang kelas. Saya melihat persoalan yang lebih mendasar—pada tata kelola pendidikan itu sendiri.
Mohammad Sjafei:
Akhirnya kita sampai pada inti masalah. Pendidikan hari ini bukan kekurangan program justru kelebihan. Terlalu banyak inisiatif, tetapi tanpa arah yang integral.
Ki Hadjar Dewantara:
Saya mendengar berbagai bentuk sekolah baru bermunculan sekolah rakyat, sekolah garuda namun ironisnya, tidak semuanya berada dalam kendali otoritas pendidikan yang jelas.
Mohammad Sjafei (tegas):
Dan itu bukan sekadar soal koordinasi. Itu soal mandat dan kapasitas. Mengelola pendidikan bukan pekerjaan siapa saja yang memiliki anggaran.
Ki Hadjar Dewantara:
Jika pendidikan dipecah-pecah ke berbagai tangan, maka yang hilang adalah kesatuan arah.
Mohammad Sjafei:
Yang terjadi sekarang justru fragmentasi. Setiap lembaga berjalan dengan logikanya sendiri. Sekolah menjadi perpanjangan proyek, bukan pusat pembentukan manusia.
Ki Hadjar Dewantara:
Guru ditekan oleh sistem yang berubah-ubah. Siswa dipaksa menyesuaikan diri dengan kebijakan yang tidak selalu selaras.
Ki Hadjar Dewantara:
Guru kehilangan otonomi. Siswa kehilangan makna. Sistem kehilangan arah.
Mohammad Sjafei:
Dan ironisnya, semua ini terjadi di tengah klaim inovasi dan transformasi.
Ki Hadjar Dewantara:
Transformasi tanpa fondasi hanya akan menjadi perubahan yang dangkal. Perubahan asal berubah bisa merongrong gerak tumbuh pohon pendidikan. Pendidikan membutuhkan kesinambungan, bukan eksperimen yang silih berganti.
Mohammad Sjafei:
Lebih berbahaya lagi, ketika yang tidak memiliki akar di dunia pendidikan ikut menentukan bentuknya. Maka pendekatannya menjadi dangkal—berbasis target, bukan proses. Dan pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab secara utuh. Semua terlibat, tetapi tidak ada yang memegang arah.
Ki Hadjar Dewantara:
Padahal pendidikan adalah kerja kebudayaan. Ia tidak bisa dipaksakan dengan logika proyek jangka pendek.
Mohammad Sjafei:
Kita sedang menyaksikan paradoks: akses meluas, tetapi arah kabur. Program bertambah, tetapi esensi berkurang.
Ki Hadjar Dewantara:
Maka persoalannya menjadi jelas. Bukan sekadar memperbaiki kurikulum atau metode, tetapi menata ulang siapa yang berwenang dan bagaimana pendidikan dijalankan.
Mohammad Sjafei:
Pendidikan harus kembali ke tangan yang memiliki mandat jelas dan pemahaman mendalam. Jika tidak, kita hanya akan menghasilkan generasi yang “terdidik di atas kertas”.
Ki Hadjar Dewantara (perlahan):
Dan kehilangan manusia yang merdeka.
Mohammad Sjafei:
Karena tanpa arah yang utuh, pendidikan hanya menjadi rutinitas bukan pembebasan.
Ki Hadjar Dewantara:
Maka pertanyaannya kini bukan lagi “apa program berikutnya”, tetapi “apakah kita masih memahami tujuan pendidikan itu sendiri?”
Mohammad Sjafei:
Jika pertanyaan itu tidak dijawab, maka semua kemajuan yang kita lihat di awal… hanya akan menjadi ilusi.
Penutup (naratif):
Di bawah spanduk Hari Pendidikan Nasional yang masih berkibar, percakapan itu perlahan mereda. Tidak ada kesimpulan yang diumumkan, tidak ada tepuk tangan. Hanya kesadaran yang menggantung: bahwa pendidikan Indonesia hari ini tidak kekurangan aktivitas, tetapi masih mencari keutuhan arah. Dan selama mandat, tata kelola, kesejahteraan pendidik, serta perhatian pada penguatan guru belum ditempatkan di atas obsesi mengganti kurikulum dan prosedur administratif, maka Hari Pendidikan Nasional akan terus menjadi sekadar ajang seremonial bukan sesuatu yang pantas dirayakan.
***
Judul: Percakapan Hayal Ki Hadjar Dewantara – Mohammad Sjafei tentang Pendidikan Indonesia
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












