MajmusSunda News, Kolom OPINI, Sabtu (02/05/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Tubuh yang Sakit di Tanah yang Kaya : Stunting, Degenerasi, dan Panggilan Hippocrates untuk Medan Kesadaran Kuantum” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Dewan Pini Sepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.
Abstrak
Esai ini merupakan sintesis akhir yang mempertemukan data efisiensi biofisik serangga pangan tropis, realitas epidemiologis Indonesia, dan kebijaksanaan abadi Hippocrates. Di satu sisi, Indonesia memiliki biodiversitas pangan dengan FCR dan produktivitas protein yang melampaui produk temperate mana pun. Di sisi lain, prevalensi stunting nasional masih sekitar 20 persen bahkan mencapai 40 persen di beberapa provinsi timur sementara penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan kanker terus meningkat. Di antara kedua realitas yang kontradiktif ini terbentang jurang yang diciptakan oleh kolonialisme epistemologi: bangsa ini diajari untuk tidak mengenali pangannya sendiri sebagai obat. Esai ini mengusulkan agar alegori “Mengapa Pak Harto Pintar” diangkat sebagai stimulan untuk membangun Medan Kesadaran Kolektif dalam kerangka Koperasi Kuantum sebuah lompatan dari kesadaran lama yang memandang rendah pangan lokal menuju kesadaran baru yang melihatnya sebagai sumber kesehatan dan kedaulatan. Hippocrates pernah berkata, “Biarlah makanan menjadi obatmu dan obatmu adalah makananmu.” Ribuan tahun kemudian, di bumi tropis yang subur ini, kata-kata itu menunggu untuk dihidupkan kembali.
Kata kunci: stunting, penyakit degeneratif, Hippocrates, medan kesadaran, koperasi kuantum, serangga pangan, kedaulatan pangan
—
1. Tanah yang Memiliki Segalanya, Rakyat yang Menanggung Derita
Angka-angka telah berbicara dengan lantang dalam esai-esai sebelumnya. Larva Black Soldier Fly hanya membutuhkan 1,1 hingga 2,5 kilogram pakan untuk menghasilkan satu kilogram bobot hidup, dengan bagian layak santap mencapai 80 hingga 100 persen. Produktivitas proteinnya per hektar per tahun dapat menembus 150.000 kilogram—ribuan kali lipat di atas sapi potong yang hanya menghasilkan 50 hingga 100 kilogram, dan jauh melampaui kedelai yang berkisar 900 hingga 1.400 kilogram. Alam tropis, melalui serangga, sagu, umbi-umbian, dan ikan, sesungguhnya telah menyediakan pangan paling efisien yang pernah dikenal sains.
Namun, di tanah yang sama, anak-anak bertubuh pendek dan rentan. Ibu hamil kurang gizi mikro. Orang dewasa berusia produktif menderita diabetes, darah tinggi, dan jantung yang melemah sebelum waktunya. Ini bukan sekadar paradoks—ini adalah luka peradaban yang menganga lebar.
Jika data efisiensi biofisik adalah bukti bahwa Indonesia mampu memberi makan seluruh rakyatnya secara cukup dan berkelanjutan, maka data epidemiologis berikut adalah bukti bahwa telah terjadi sesuatu yang sangat keliru dalam cara bangsa ini memandang dan memperlakukan pangannya sendiri.
2. Wajah Ganda Krisis Gizi Indonesia
Stunting: Luka yang Merentang Dua Puluh Tahun
Prevalensi stunting pada balita Indonesia masih berkisar di angka 21,6 persen secara nasional berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022—artinya, satu dari lima anak negeri ini mengalami kekurangan gizi kronis yang menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitifnya secara permanen. Di beberapa provinsi seperti Nusa Tenggara Timur, angkanya pernah menembus 40 persen, sementara Papua dan Sulawesi Barat juga mencatatkan prevalensi di atas 30 persen.
Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan. Ia adalah rekaman biologis dari 1.000 hari pertama kehidupan yang gagal dipenuhi kebutuhan gizinya—seribu hari di mana otak seharusnya membentuk sambungan-sambungan saraf yang akan menentukan kecerdasan, produktivitas, dan kesehatan seumur hidup. Setiap anak yang stunting adalah kehilangan potensi manusia yang tidak akan pernah bisa dikembalikan.
Penyakit Degeneratif: Epidemi Senyap yang Merayap
Sementara sebagian anak-anak kekurangan gizi, sebagian besar orang dewasa Indonesia justru menghadapi ancaman dari arah yang berlawanan. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan:
· Diabetes mellitus: Prevalensi pada penduduk dewasa mencapai 11,7 persen pada 2023, naik dari 8,5 persen pada 2018. Di beberapa kelompok usia di atas 55 tahun, angkanya bisa melampaui 20 persen.
· Hipertensi: Sekitar 34,1 persen penduduk dewasa Indonesia—satu dari tiga orang—menderita tekanan darah tinggi. Banyak yang tidak menyadarinya sampai komplikasi stroke atau serangan jantung terjadi.
· Penyakit jantung: Menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan proporsi yang terus meningkat setiap tahun—didorong oleh pola makan tinggi lemak jenuh, gula, dan rendah serat.
· Kanker: Insiden kanker naik dari 1,4 per 1.000 penduduk pada 2013 menjadi 1,8 per 1.000 pada 2023. Kanker kolorektal, yang terkait erat dengan diet rendah serat dan tinggi daging merah olahan, termasuk yang paling cepat meningkat.
· Obesitas sentral: Lingkar perut berlebih kini dialami oleh lebih dari 35 persen penduduk dewasa. Ini adalah penanda sindrom metabolik yang menjadi pintu masuk bagi diabetes, penyakit kardiovaskular, dan berbagai kanker terkait metabolisme.
Yang paling meresahkan adalah bahwa kondisi-kondisi ini tidak lagi hanya menyerang orang tua. Diabetes tipe 2 kini semakin banyak didiagnosis pada usia 30-an. Hipertensi ditemukan pada orang muda. Sindrom metabolik merayap ke kelompok usia produktif, menggerus kualitas hidup dan membebani sistem kesehatan nasional.
3. Paradoks Pahit: Kelimpahan Ekologis, Kemiskinan Gizi
Di titik inilah paradoks itu harus kita tatap tanpa berkedip.
Chernichovsky dan Meesook (1984) telah mendiagnosis sejak empat dekade silam bahwa pola makan yang buruk di Indonesia tidak hanya terjadi pada orang miskin dan tidak berpendidikan, tetapi juga pada kalangan mapan dan berpendidikan. Itu adalah pengakuan bahwa persoalannya bukan semata-mata akses ekonomi terhadap pangan, melainkan sesuatu yang lebih dalam: terputusnya hubungan antara manusia Indonesia dan sumber pangannya sendiri.
Anak-anak Papua yang seharusnya dapat tumbuh dengan protein dari ulat sagu—yang FCR-nya jauh lebih efisien daripada ayam dan produktivitas proteinnya ribuan kali lipat di atas sapi—malah bertahan dengan nasi kosong dan mi instan yang dikirim dari Jawa. Ibu hamil di NTT yang seharusnya mendapatkan asam folat, zat besi, dan seng dari daun kelor segar dan ikan laut yang melimpah di pantainya, justru menerima susu formula impor dan biskuit fortifikasi dari program bantuan yang tidak berkelanjutan.
Orang dewasa di perkotaan yang seharusnya dapat melindungi diri dari diabetes dengan mengonsumsi sagu, jewawut, dan umbi-umbian—karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik rendah yang telah menjadi makanan pokok nenek moyang mereka—justru dicekoki nasi putih tiga kali sehari, ditambah minuman berpemanis, gorengan, dan daging olahan yang tinggi lemak jenuh.
Inilah paradoks yang paling menyakitkan: Indonesia adalah salah satu negara dengan biodiversitas pangan tertinggi di dunia, namun rakyatnya menderita penyakit yang justru disebabkan oleh pola makan yang miskin keragaman dan rendah kualitas nutrisi. Negeri yang memiliki serangga pangan dengan FCR terbaik, sagu dengan indeks glikemik rendah, kelor dengan kandungan zat besi dan kalsium yang melampaui susu, serta ikan pelagis kecil yang kaya omega-3—justru menjadi negeri dengan prevalensi stunting yang memalukan dan epidemi penyakit metabolik yang terus meluas.
Ini bukan krisis kelangkaan. Ini adalah krisis kesadaran.
4. Hippocrates: Makanan Adalah Obatmu
Dua ribu empat ratus tahun yang lalu, di sebuah pulau di Laut Aegea, seorang tabib Yunani bernama Hippocrates mengucapkan kata-kata yang hingga kini masih dikutip di ruang kuliah kedokteran: “Let food be thy medicine and medicine be thy food.”
Hippocrates hidup di zaman ketika pengobatan dan nutrisi belum dipisahkan oleh spesialisasi modern. Baginya, tubuh yang sakit adalah cermin dari ketidakseimbangan antara manusia dan lingkungannya. Makanan bukan sekadar pengisi perut; ia adalah instrumen penyembuhan yang pertama dan utama. Setiap sayur, setiap daging, setiap rempah memiliki sifat-sifat yang dapat memulihkan keseimbangan tubuh.
Apa yang dikatakan Hippocrates bukanlah romantisme kuno. Ia adalah fondasi dari apa yang kini disebut sebagai nutritional medicine dan functional food. Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa:
· Seng (zinc), yang berlimpah dalam jangkrik (18,6 mg per 100 gram), adalah katalisator dalam lebih dari 300 reaksi enzimatik, termasuk pembelahan sel, sintesis DNA, dan pertumbuhan tulang—persis apa yang dibutuhkan untuk mencegah stunting.
· Kitin, serat dari eksoskeleton serangga, adalah prebiotik alami yang memberi makan bakteri baik di usus manusia—sebuah fungsi yang kini diketahui menjadi kunci dalam pencegahan obesitas, resistensi insulin, dan peradangan kronis yang mendasari diabetes dan penyakit jantung.
· Asam lemak tak jenuh dalam serangga, seperti asam oleat dan linoleat, membantu menjaga kesehatan kardiovaskular dan sensitivitas insulin—melindungi tubuh dari penyakit degeneratif yang kini mewabah.
· Sagu dan umbi-umbian tropis mengandung karbohidrat kompleks dengan pelepasan energi perlahan, tidak seperti nasi putih yang menyebabkan lonjakan gula darah dan, dalam jangka panjang, menguras pankreas dan memicu diabetes tipe 2.
Dengan kata lain, Hippocrates tidak sedang berteori. Ia sedang menyuarakan kebenaran biologis yang kini dapat diukur di laboratorium. Dan kebenaran itu berbicara dengan sangat jelas melalui serangga pangan tropis dan aneka hasil bumi Nusantara: alam telah menyediakan obat dalam bentuk makanan, dan makanan itu tumbuh subur di tanah kita sendiri.
5. “Mengapa Pak Harto Pintar”: Sebuah Stimulan untuk Medan Kesadaran
Di sinilah alegori yang dicatat oleh Prof. F.G. Winarno (2018) kembali menemukan urgensinya.
“Mengapa saya pintar?”—pertanyaan yang diajukan oleh Presiden Soeharto kepada Menteri Pertaniannya—adalah pintu masuk ke dalam sebuah realitas yang telah lama dilupakan. Ketika penelitian mengungkap bahwa kecerdasan presiden berkaitan dengan konsumsi laron, jangkrik, dan belalang di masa kecilnya di desa Kemusuk, Yogyakarta, yang terungkap bukan hanya biografi piring seorang pemimpin, melainkan bukti hidup bahwa pangan tropis lokal mampu membangun fondasi biologis bagi kecerdasan manusia.
Mengapa cerita ini penting? Karena ia adalah benih bagi apa yang dalam kerangka Koperasi Kuantum (Pakpahan, 2026) disebut sebagai Medan Kesadaran Kolektif (Collective Consciousness Field).
Medan Kesadaran, dalam teori kuantum yang diadaptasi Pakpahan, bukanlah sekadar metafora. Ia adalah realitas non-material yang mempengaruhi perilaku, keyakinan, dan tindakan kolektif. Ketika anggota sebuah komunitas—atau bangsa—berbagi keyakinan yang sama, energi kesadaran itu menciptakan efek quantum entanglement: keberhasilan satu orang memperkuat keyakinan orang lain, dan pada titik kritis tertentu, terjadi lompatan kuantum yang tidak dapat dijelaskan oleh logika linear.
Cerita “Pak Harto Pintar” adalah stimulan sempurna untuk membangun Medan Kesadaran ini. Ia memiliki semua elemen yang dibutuhkan:
· Figur otoritatif: Seorang presiden yang memimpin Indonesia selama 32 tahun—bukan orang sembarangan, melainkan simbol kekuasaan dan keberhasilan pada zamannya.
· Validasi ilmiah: Penelitian yang dilakukan oleh Prof. F.G. Winarno—ilmuwan pangan paling terkemuka di Indonesia—memberikan legitimasi yang tidak bisa diabaikan.
· Kedekatan kultural: Laron, jangkrik, belalang—semua adalah bagian dari ingatan kolektif masyarakat desa di Jawa dan seluruh Nusantara. Cerita ini menyentuh memori masa kecil yang tersimpan di alam bawah sadar jutaan orang.
· Implikasi yang kuat: Jika presiden saja bisa pintar karena makan serangga, mengapa anak-anak kita tidak bisa? Jika pangan lokal bisa mencerdaskan pemimpin tertinggi, mengapa kita malu memberikannya kepada anak-anak kita?
Dalam bahasa Medan Kesadaran, cerita ini adalah katalisator kesadaran (consciousness catalyst) yang dapat memicu perubahan persepsi massal. Ia mengubah serangga dari “makanan primitif” menjadi “makanan presiden”, dari “tanda kemiskinan” menjadi “sumber kecerdasan”, dari “hina” menjadi “mulia”.
6. Lompatan Kuantum: Dari Stunting dan Degenerasi Menuju Kedaulatan Kesehatan
Sekarang, bayangkan jika stimulan ini bekerja dalam kerangka Koperasi Konsumsi Kuantum.
Medan Kesadaran yang terbangun akan mengubah cara pandang masyarakat terhadap pangan lokal. Ibu-ibu di NTT, yang sebelumnya malu menyajikan bubur sagu dengan ulat sagu untuk anaknya karena dianggap “makanan kampungan”, kini menyajikannya dengan bangga karena tahu bahwa inilah makanan yang mencerdaskan. Petani jangkrik di Jawa, yang sebelumnya hanya menjual hasilnya untuk pakan burung, kini melihat dirinya sebagai produsen “protein presiden” yang memasok program Makan Bergizi Gratis. Lansia di perkotaan yang menderita diabetes, yang sebelumnya merasa hanya bisa makan nasi putih dengan lauk terbatas, kini menemukan kembali sagu, jewawut, dan talas sebagai makanan pokok yang bersahabat dengan metabolisme mereka.
Ini bukan fantasi. Dalam kerangka Koperasi Kuantum (Pakpahan, 2026), perubahan persepsi massal semacam ini adalah prasyarat bagi lompatan kuantum. Sebagaimana Koperasi Kredit Keling Kumang mengalami pertumbuhan 29.336 kali lipat dalam 33 tahun karena anggotanya berbagi keyakinan dan kepercayaan yang sama—bahkan menambah simpanan saat krisis moneter ketika bank-bank konvensional mengalami panic withdrawal—demikian pula Indonesia dapat mengalami lompatan serupa di bidang kesehatan jika Medan Kesadaran Kolektif tentang pangan lokal berhasil dibangun.
Lompatan kuantum dari stunting 40 persen di NTT menuju generasi emas yang bebas stunting.
Lompatan kuantum dari diabetes yang terus meningkat menuju prevalensi yang menurun karena pola makan kembali ke karbohidrat kompleks tropis.
Lompatan kuantum dari ketergantungan pada susu formula impor menuju kemandirian protein berbasis serangga dan ikan lokal.
Lompatan kuantum dari “malu makan serangga” menuju “bangga makan superfood Indonesia”.
7. Penutup: Dari Hippocrates ke Pak Harto, dari Kos ke Kemusuk
Hippocrates berkata, “Biarlah makanan menjadi obatmu dan obatmu adalah makananmu.” Dua milenium kemudian, di Pulau Kos tempat ia pernah mengajar, Eropa sibuk mengeluarkan izin Novel Food untuk serangga yang telah dimakan nenek moyang kita sejak lebih jauh dari zaman Sriwijaya.
Di Kemusuk, Yogyakarta, sekitar satu abad yang lalu, seorang bocah desa menangkap laron yang beterbangan di musim hujan dan menjadikan makanannya. Ia tidak tahu bahwa ia sedang menyantap protein masa depannya sendiri—tidak tahu bahwa protein dari laron itu akan membangun otak yang kelak memimpin negeri ini selama 32 tahun. Prof. Winarno mencatatnya, FAO memvalidasinya, Wageningen menelitinya, EFSA meregulasinya. Semua sudah tersedia.
Yang belum tersedia hanyalah Medan Kesadaran Kolektif yang cukup kuat untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan, data menjadi kebijakan, dan potensi menjadi realitas.
Medan Kesadaran itu dapat dibangun. Dimulai dari cerita sederhana: Mengapa Pak Harto Pintar? Dilanjutkan dengan keberanian untuk mengatakan: Karena beliau makan serangga—dan serangga itu ada di sekitar kita semua. Diperkuat oleh sains yang jujur: FCR-nya lebih efisien, proteinnya lebih tinggi, jejak lahannya lebih kecil. Dan diwujudkan oleh kelembagaan yang berakar di komunitas: Koperasi Konsumsi Kuantum yang menghubungkan petani serangga dengan piring anak-anak Indonesia.
Inilah panggilan Hippocrates yang bergema di Nusantara. Inilah saatnya kita mendengarkan—bukan dengan telinga yang menangkap bunyi, tetapi dengan kesadaran yang menangkap makna. Karena di negeri ini, di tanah yang subur dan kaya raya ini, makanan kita sesungguhnya adalah obat kita. Dan obat itu telah tersedia sejak zaman nenek moyang kita. Tinggal apakah kita bersedia meminumnya.
—
Daftar Pustaka
Chernichovsky, D., & Meesook, O. A. (1984). Patterns of Food Consumption and Nutrition in Indonesia: An Analysis of the National Socioeconomic Survey, 1978 (World Bank Staff Working Papers No. 670). Washington, D.C.: The World Bank.
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Jakarta: Kementerian Kesehatan.
Pakpahan, A. (2026). Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman. Sumedang: Universitas Koperasi Indonesia.
Van Huis, A., Van Itterbeeck, J., Klunder, H., Mertens, E., Halloran, A., Muir, G., & Vantomme, P. (2013). Edible Insects: Future Prospects for Food and Feed Security. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).
Winarno, F. G. (2018). Serangga Layak Santap: Sumber Baru bagi Pangan dan Pakan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
***
Judul: Tubuh yang Sakit di Tanah yang Kaya : Stunting, Degenerasi, dan Panggilan Hippocrates untuk Medan Kesadaran Kuantum
Penulis: Agus Pakpahan
Editor: Raka Alvaro Triputra












