MajmusSunda News, Bandung, 21 April 2026 – Simposium hari kedua dengan tema “Melintasi Cekungan Bandung: Produksi Pengetahuan, Pedagogi” diselenggarakan di Museum Sri Baduga, Bandung. Acara ini merupakan kelanjutan dari program riset tahunan yang menghadirkan sejumlah pembicara lintas disiplin dengan pembahasan yang selaras dengan tema utama dan tujuan penelitian.
Simposium tahun ini mengangkat tema besar “Ethics of Care and Object Biography in Postcolonial Contexts” (Etika Perawatan dan Biografi Objek dalam Konteks Pascakolonial), yang merupakan tindak lanjut dari program riset Imagining Modernity: Colonial Archives and the Reimagination of Arts Pedagogy and Cultural Knowledge. Ketua penyelenggara, Dr. Kiki Soetisna Putri, M.Sn., dan Aulia Yeru, menjelaskan bahwa kegiatan tahun kedua ini merupakan pengembangan dari riset tahun pertama yang membahas biografi dua puluh lima arca Hindu-Buddha koleksi ITB.

Penyelenggara simposium tahun kedua (2026) adalah Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Center for Indonesia Visual Art Studies (CIVAS), bekerja sama dengan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), Galeri Soemardja, Bandung Culture Hub ITB, School of Creative Industries Universitas Telkom, Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, ICOMOS Indonesia, dan Rijksmuseum.
Hari Pertama: Etika dan Praktik Perawatan/Konservasi
Simposium berlangsung selama dua hari. Hari pertama, Senin 20 April 2026, bertempat di Galeri Soemardja, ITB, dengan tema “Etika dan Praktik Perawatan/Konservasi”.
Diselenggarakan oleh Dr. Kiki Soetisna Putri dan Danuh Tyas Pradipta, acara dibuka dengan pidato utama Prof. Marieke Bloembergen yang menyampaikan makalah berjudul “Suffer Like a Mountain: Art Historical Sites, Decolonization, and the Moral Economy of Care Across the Nature/Culture Divide in Indonesia.”

Acara dilanjutkan dengan berbagai sesi diskusi. Dalam program “Praktik Konservasi: Kerangka Institusional dan Pengetahuan Komunitas” (moderator: Dr. Kiki Soetisna Putri), Pipit Melinda, M.Sc., memaparkan eksplorasi sistem pengetahuan lokal sebagai kerangka hidup konservasi, sementara Tarlen Handayani mendiskusikan konservasi sebagai proses kolaboratif dan pedagogis yang menekankan produksi pengetahuan bersama.
Sesi “Dimensi Perawatan Artistik, Spiritual, dan Komunitas” dimoderatori Dr. Aulia Yeru. Gabriel Aries merefleksikan praktik mematung yang terinspirasi warisan candi Hindu-Buddha, menekankan metodologi artistik sebagai bentuk interpretasi, pelestarian, dan keterlibatan etis. Pinandita I Gusti Ngurah Agung Djanardhana membahas konteks spiritual warisan suci, termasuk kerangka ritual dan tanggung jawab keagamaan dalam perawatan situs dan objek suci. Ki Yoyo Yogasmana mengangkat ketahanan komunitas dan praktik perawatan budaya sehari-hari sebagai warisan hidup. Sesi khusus “Tentang Panji dan Kelanjutannya” (moderator: Danuh Tyas Pradipta) menghadirkan Lydia Kieven yang memaparkan temuan awal mengenai peran Bernet Kempers dalam biografi objek, serta keselarasan metodenya dengan riset tahun pertama Imagining Modernity.
Hari Kedua: Melintasi Cekungan Bandung
Hari kedua, 21 April 2026, di Museum Sri Baduga, mengangkat tema “Melintasi Cekungan Bandung: Produksi Pengetahuan, Pedagogi”. Pembicara utama Hilmar Farid, Ph.D., membahas tata kelola warisan dan produksi pengetahuan sebagai praktik perawatan. Penyelenggara sesi hari kedua adalah Dr. Harita Siregar, Christine Toelle, dan Heru Hikayat.
Pada program “Bandung, Kebijakan, dan Produksi Pengetahuan Kreatif” (moderator: Heru Hikayat), Dr. Dwinita Larasati mengulas intervensi kreatif di Bandung yang terhubung dengan sejarah kebijakan dan tata kelola budaya perkotaan. Brigitta Isabela membahas pedagogi kritis dan intervensi artistik melalui refleksi Terap Festival sebagai situs produksi pengetahuan. Titi Bachtiar memaparkan toponimi sebagai produksi pengetahuan yang memperluas kerangka perawatan melampaui pendekatan antroposentris dalam relasi warisan dan lingkungan.

Setelah istirahat, sesi panel kedua “Memori, Perawatan, dan Politik Warisan” dimoderatori Dr. Harita Siregar. Dr. Johanes Widodo menyoroti ITB sebagai situs pendidikan dan museum hidup beserta signifikansi sejarah spasialnya. Dr. Farabi Fakih membahas warisan sebagai medan pertarungan yang dibentuk oleh tata kelola kekuasaan dan historiografi kritis. Prananda Luffansyah Malasan, Ph.D., menyampaikan perspektif institusional mengenai koleksi dan tata kelola Museum ITB. Sesi ini diakhiri dengan dialog lintas perspektif arsitektural, lingkungan, dan institusional, dilanjutkan dengan coffee break.
Pukul 15.15 WIB, sesi meja bundar “Restitusi dan Klaim Kembali” yang dipandu Christine Toelle mengangkat pertanyaan kunci mengenai bagaimana praktik restitusi menginformasikan pemahaman tentang asal-usul, kepemilikan, serta dampaknya. Pembicara sesi terakhir meliputi Dr. Lydia Kieven, Brigitta Isabela, Teo Marulitua, Dr. Budi Adi Nugroho, dan Dr. Panggah Ardiansyah. Acara ditutup dengan refleksi kolektif yang disintesis oleh panitia, merangkum benang merah etika, konservasi, dan perawatan dari seluruh panel.
Latar Belakang dan Signifikansi Riset
Latar belakang riset tahun kedua ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa benda cagar budaya, khususnya arca, tidak menyajikan narasi yang statis. Diperlukan interaksi lintas disiplin—baik dari sudut pandang institusional, akademik, maupun keyakinan personal—agar pemahaman terhadap artefak tidak sekadar dipandang sebagai peninggalan arkeologis, melainkan diperkaya secara kontekstual.
Di tengah konteks pendidikan yang kerap terbatas pada narasi kolonial sebagai satu-satunya bukti valid untuk kajian, masih terdapat ruang kosong dalam penghayatan generasi muda terhadap warisan budayanya. Oleh karena itu, riset ini dirancang untuk membuka penjelajahan terhadap situs dan artefak melalui pendekatan budaya dan seni, diwujudkan dalam bentuk simposium, ruang diskusi, serta kolaborasi multidisiplin dan komunitas. Seluruh temuan dan dinamika kegiatan ini diharapkan dapat disebarluaskan kepada publik sebagai medium pencerahan, membangun kesadaran sejarah, serta memperkuat kecintaan terhadap nilai-nilai budaya dan seni bangsa. Lebih jauh, inisiatif ini menjadi pintu untuk merevitalisasi khazanah budaya Nusantara agar kembali menyumbang pada wacana kebudayaan global yang lebih adil dan inklusif.
Amanat Leluhur
Sebagaimana amanat leluhur Sunda:
“Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke. Aya ma baheula, aya nu ayeuna. Hanteu ma baheula, hanteu tu ayeuna. Hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang. Hana ma tunggulna, aya tu catangna. Hana guna, hana ring demakan.”
Artinya: Ada masa lalu, ada masa kini. Tanpa masa lalu, tiada masa kini. Ada pokok, ada batang. Tanpa pokok, tiada batang. Bila ada tunggul, pasti ada batang muda. Ada jasa, ada anugerah. Seperti galah panjang yang disambung dan galah kecil yang diruncingkan—warisan masa lalu menjadi fondasi kokoh bagi kelanjutan kehidupan di masa depan.
*****
Judul: IMAGINING MODERNITY: COLONIAL ARCHIVES AND THE REIMAGINATION OF ARTS PEDAGOGY AND CULTURAL KNOWLEDGE
Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati, Seniman, Spiritualis, Redaktur Eksekutif Majalah Jakarta)
Yayasan Sunda 13 Buhun
Yayasan Budaya Sunda Buhun












