Setuju, Beras Bulog Untuk Rakyat Harus Bagus

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (11/10/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Setuju, Beras Bulog Untuk Rakyat Harus Bagus” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

detikfinance merilis, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi memastikan beras Bulog yang digelontorkan ke masyarakat tetap bagus. Hal ini menyusul adanya temuan 1.200 ton beras milik Perum Bulog tidak layak konsumsi. Temuan itu merupakan hasil inspeksi mendadak (sidak) Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto ke Gudang Perum Bulog Tabahawa, Maluku Utara.

Kepala Bapanas menilai stok beras di gudang Bulog merupakan stok lama dan stok baru. Namun, KaBapanas menegaskan stok beras di gudang Bulog perlu dirawat. Intinya, kalau beras yang dibagikan ke masyarakat, tentu harus bagus, nggak boleh jelek dengan alasan apapun. Jadi wajar Badan Pangan Nasional menugaskan Bulog untuk menyalurkan bantuan pangan, dan bantuan pangan itu harus bagus.

Di sisi lain, yang namnya beras Bulog sejak dulu dikenal masyarakat sebagai beras dengan kualitas buruk. Ketika para pegawai negeri memperoleh jatah beras dari Pemerintah, umumnya mereka akan menukarkan beras tersebut dengan uang. Pegawai Negeri lebih senang membeli beras di pasar atau ritel modern dengan kualitas yang lebih baik.

Catatan kritisnya, mengapa beras Bulog sering digambarkan sebagai beras dengan kualitas jelek ? Citra beras Bulog seringkali dikaitkan dengan kualitas rendah karena beberapa alasan:
Pertama, Sejarah Penyaluran Beras Miskin. Bulog dulunya identik dengan penyaluran beras untuk program bantuan sosial, seperti Raskin dan Rastra, yang membuat masyarakat menganggap produk Bulog hanya untuk kalangan miskin dan berkualitas rendah.

Kedua, Kualitas Beras yang Dipertanyakan. Beberapa laporan menyebutkan adanya beras Bulog yang berkutu, berwarna abu-abu, atau memiliki kualitas rendah, seperti beras yang patah-patah atau tidak utuh.
Ketiga, Penyimpanan yang Kurang Baik. Penyimpanan beras yang terlalu lama, kelembaban gudang yang tinggi, dan kurangnya sirkulasi udara dapat menyebabkan beras menjadi berkutu dan kualitasnya menurun.

Namun, Bulog telah melakukan upaya untuk meningkatkan citra dan kualitas produknya, seperti :
– Inovasi Produk. Bulog meluncurkan berbagai merek beras berkualitas dan meningkatkan kualitas produknya.
– Pemeriksaan Rutin. Bulog melakukan pemeriksaan rutin terhadap stok beras untuk memastikan kualitas dan mendeteksi adanya hama.

– Pengendalian Suhu dan Kelembaban. Bulog menjaga suhu dan kelembaban gudang untuk mencegah pertumbuhan kutu dan menjaga kualitas beras.
– Prinsip “First In, First Out”. Bulog menerapkan prinsip ini untuk menghindari penyimpanan yang terlalu lama dan memastikan beras yang masuk lebih dulu didistribusikan terlebih dahulu.

Lalu, bagaimana dengan kualitas Beras SPHP yang sekarang ini tengah gencar dilakukan Pemerintah ? Program Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) adalah inisiatif pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan beras di Indonesia. Berikut beberapa poin penting tentang program ini :

– Tujuan. Program Beras SPHP diarahkan untuk menjaga harga beras stabil, menjamin ketersediaan pasokan beras nasional, melindungi daya beli masyarakat, dan menyeimbangkan harga di tingkat petani.

– Sumber Pasokan. Beras SPHP berasal dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum BULOG, baik dari penyerapan gabah/beras petani lokal maupun impor beras jika stok dalam negeri tidak mencukupi.

– Distribusi. Beras SPHP disalurkan melalui berbagai saluran, termasuk pasar tradisional, ritel modern, warung pangan BULOG, platform e-commerce, dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

– Harga. Pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras SPHP, yang bervariasi menurut zona wilayah. Contohnya, pada Agustus 2025, HET untuk zona 1 (Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi) adalah Rp10.900 per kilogram.

– Kualitas dan Kemasan. Beras SPHP umumnya dikemas dalam kemasan 5 kg dengan label resmi BULOG dan memiliki kualitas setara beras medium dengan tingkat patahan maksimal 15%.

– Pengawasan. Pemerintah melakukan pengawasan ketat untuk memastikan distribusi beras SPHP tepat sasaran dan sesuai dengan harga yang ditetapkan. Pembelian dibatasi maksimal 10 kg per orang per transaksi, dan penjualan diprioritaskan untuk rumah tangga, bukan pedagang besar.

– Dampak. Program SPHP diharapkan dapat menahan laju kenaikan harga beras, meningkatkan rasa aman masyarakat terhadap ketersediaan pangan, dan menopang daya beli rumah tangga berpenghasilan rendah.

Ironisnya, ketika Komisi IV DPR RO melakukan inspeksi mendadak ke gidang Bulog di Provinsi Maluku Utara, ditemukan ada beras SPHP yang bermasalah. Beras SPHP berwarna abu-abu dan tidak layak konsumsi ditemukan karena beberapa kemungkinan alasan:

1. Penyimpanan yang terlalu lama. Beras yang disimpan terlalu lama dapat mengalami perubahan warna dan tekstur, sehingga menjadi tidak layak konsumsi. Dalam kasus ini, beras yang ditemukan telah disimpan sejak Mei 2024, sehingga memungkinkan terjadinya perubahan kualitas.

2. Kualitas beras yang rendah. Beras yang digunakan untuk program SPHP mungkin memiliki kualitas yang rendah sejak awal, sehingga lebih rentan mengalami perubahan warna dan tekstur.

3. Pengelolaan gudang yang kurang baik. Gudang yang tidak terjaga dengan baik dapat menyebabkan beras terpapar pada kelembaban, suhu tinggi, atau hama, sehingga kualitasnya menurun. 4. Proses pengolahan yang tidak tepat. Proses pengolahan beras yang tidak tepat dapat menyebabkan beras menjadi tidak layak konsumsi.

Berbagai langkah dan tindakan yang telah dilakukan diantaranya :
– Pengecekan dan konfirmasi. Dirut Perum Bulog, Ahmad Rizal Rhamdani, telah melakukan pengecekan dan konfirmasi terkait temuan beras tidak layak konsumsi tersebut.
– Pengolahan ulang. Bulog berencana melakukan pengolahan ulang beras tersebut untuk membuatnya layak konsumsi.

Langkah-langkah pencegahan ke depan antara lain :
– Peningkatan pengelolaan gudang. Bulog perlu meningkatkan pengelolaan gudang untuk menjaga kualitas beras.
– Pengawasan kualitas. Bulog perlu melakukan pengawasan kualitas yang lebih ketat untuk memastikan beras yang didistribusikan layak konsumsi.
– Distribusi stok lama. Bulog perlu memprioritaskan distribusi stok lama untuk menghindari penurunan kualitas beras.

Semoga !

***

Judul: Setuju, Beras Bulog Untuk Rakyat Harus Bagus
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *