Tak Ada Lagi HKTI Prabowo dan Tak Ada Lagi HKTI Oesman Sapta

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (11/10/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Tak Ada Lagi HKTI Prabowo dan Tak Ada Lagi HKTI Oesman Sapta” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Siang kemarin 3 Oktober 2025, pengukuhan kepengurusan DPN HKTI periode 2025 -2030 selesai dilakukan. Acara yang langsung dipimpin Ketua Umum DPN HKTI Sudaryono ini berjalan cukup meriah. Banyak tokoh lintas partai politik yang dikukuhkan, baik itu yang duduk di Dewan Pakar, Dewan Penasehat dan Dewan Pimpinan Nasional.

Selama 15 tahun, HKTI sering menjadi bahan perbincangan. Tidak sedikit orang mempertanyakan, mengapa organisasi yang menggunakan kata “kerukunan”, dalam prakteknya malah tidak rukun. 15 tahun sudah HKTI terpecah ke dalam dua kubu. Saat itu, ada kubu yang didukung penguasa dan ada juga yang dijadikan bulan-bulanan kekuasaan.

Musyawarah Nasional Himpunan Ketukunan Tani Indonesia (HKTI) 2010 yang diselenggarakan di Bali, menjadi awal terbelahnya HKTI ke dalam dua kubu. Ada kubu Prabowo Subianto dan ada kubu Oesman Sapta. Sejak itu, dualisme kepemimpinan HKTI pun berlangsung di Tanah Merdeka. Setiap kubu tampil dengan jati diri masing-masing, senafas dengan kepentingan politik yang menyertainya.

Setelah 15 tahun berlalu, kembali HKTI menyatu. Tidak ada lagi HKTI Prabowo. Tak ada juga HKTI Oesman Sapta. Saat ini, yang ada hanyalah HKTI yang diketuai Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian RI. Masing-masing kubu melalui Munasnya beberapa bulan lalu, sepakat untuk menyatukan lagi HKTI jadi satu dengan Ketua Umumnya Sudaryono, kader Partai Gerindra.

Terpilihnya Sudaryono sebagai Ketua Umum HKTI periode 2025-2030 yang didukung kedua kubu secara aklamasi lewat Munas masing-masing itu, menunjukan bahwa ke depan segenap Keluarga Besar HKTI seluruh Indonesia, tidak lagi menginginkan perpecahan dalam organisasi petani sekelas HKTI. Para petani ingin agar HKTI selalu “rukun” seperti yang diimpikan para pendirinya tahun 1973.

HKTI jangan sampai dijadikan alat kepentingan partai politik tertentu. Belajarlah dari pengalaman masa lalu. Artinya, sekalipun Ketua Umum DPN HKTI dikenal sebagai kader partai Gerindra, bukan maksudnya HKTI akan di-Gerindra-kan. Tapi sampai sejauh mana dirinya mampu menjadikan HKTI sebagai organisasi petani yang non partisan dan bebas nilai.

Kita percaya Sudaryono akan mampu menghimpun kader-kader terbaik partai politik di negeri ini, untuk sama-sama komit dan berjuang memberdayakan dan memartabatkan petani Indonesia. Betapa indahnya negeri ini jika di HKTI ada kader terbaik Gerindra, Demokrat, Golkar, PKB, PDIP dan lain sebagainya, agar dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mampu mensejahterakan para petani.

Tugas utama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani serta masyarakat pedesaan melalui pemberdayaan dan percepatan pembangunan pertanian. Berikut beberapa tugas utama HKTI :

Pertama, meningkatkan kesejahteraan petani. HKTI berfokus pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani serta masyarakat pedesaan melalui berbagai program dan kegiatan. HKTI diminta untuk selalu tampil sebagai ‘prime mover’ dalam melahirkan gagasan inovatif produktif guna mensejahterakan petani.

Kedua, pemberdayaan petani. HKTI memberikan pelatihan dan pendidikan kepada petani untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam mengelola pertanian. Pemberdayaan petani menjadi sangat mendesak ditempuh agar petani dapat memperbaiki kualitas kehidupannya ke arah yang lebih baik.

Ketiga, advokasi kepentingan petani. HKTI menjadi wadah untuk menyuarakan aspirasi dan kepentingan petani di tingkat nasional. Petani bangkit mengubah nasib penting digaungkan terus menerus agar petani dapat terbebas dari jeratan kemiskinan yang membelenggunya.

Keempat, pengembangan pertanian. HKTI berperan dalam pengembangan pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. HKTI perlu tampil sebagai penggerak utama pencapaian swasembada pangan dan perwujudan lumbung pangan dunia menuju Indonesia Emas 2045.

Kelima, meningkatkan kualitas hidup petani. HKTI berupaya meningkatkan kualitas hidup petani melalui perbaikan sosial dan ekonomi. HKTI harus mampu melahirkan kebijakan yang secara nyata mampu meningkatksn kualitas hidup petani. Salah satunya, dapat menetapksn hsrga jual yang menguntungkan petani.
Dengan demikian, HKTI memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pedesaan di Indonesia. Semoga jadi percik permenungan kita bersama.

***

Judul: Tak Ada Lagi HKTI Prabowo dan Tak Ada Lagi HKTI Oesman Sapta
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *