Jambu Batu Raja Buah Sedunia: Buah Tropika yang Dilupakan, Ilmu yang Diabaikan, dan Kebijakan yang Tidak Mendukung

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.

jambu batu (Psidium guajava)
Jambu batu (Psidium guajava) - (Sumber: Arie/MMNS)

MajmusSunda News, Kolom Artikel/Opini, Minggu (14/09/2025) – Artikel Serial Tropikanisasi dan Kooperatisasi berjudul “Jambu Batu Raja Buah Sedunia: Buah Tropika yang Dilupakan, Ilmu yang Diabaikan, dan Kebijakan yang Tidak Mendukung” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.

Gelora Tropis: Jambu Batu, Raja Nutrisi yang Diusir dari Takhtanya Sendiri

Kita hidup dalam dunia yang menjunjung tinggi superfood impor: chia seed, quinoa, blueberry. Namun, di halaman belakang rumah kita  kita sendiri, tersembunyi buah dengan mahkota nutrisi yang tak terbantahkan — jambu batu (Psidium guajava).

jambu batu (Psidium guajava)
Jambu batu (Psidium guajava) – (Sumber: Agus Pakpahan)

Berdasarkan analisis Composite Nutrition Index (CNI), jambu batu mencetak skor 59, mengalahkan alpukat (47), durian (50), apel (26), dan anggur (27). Ia kaya vitamin C (228 mg/100g), serat (5.4g/100g), dan antioksidan. Naumn, mengapa kita lebih memilih apel impor yang nutrisinya kalah telak?

Data yang Bisu: Objektivitas Ilmu di Atas Selera Pasar

Pasar bebas mengklaim diri sebagai penentu harga dan nilai yang adil, tetapi pasar tidak netral. Ia didikte oleh:

  • Supply-demand yang dimanipulasi: Rantai pasok global buah impor didukung oleh industri bersubsidi dan iklan masif.
  • Kebijakan yang meminggirkan: Pemerintah lebih sering mempromosikan komoditas ekspor seperti sawit atau beras, mengabaikan diversifikasi pangan lokal.
  • Selera yang dikonstruksi: Iklan membentuk persepsi bahwa “apel = sehat”, “jambu = buah ndeso”.

Inilah bias anti-ilmu pengetahuan: ketika objektivitas nutrisi dikalahkan oleh narasi pasar.

Paralel Dunia Ketiga: Nasi Coklat, Dedak Padi, dan Jambu Batu

Nasib jambu batu mirip dengan nasi coklat dan dedak padi (rice bran): Nasi putih (nutrisi rendah) dipilih karena prestise dan kebijakan (SNI beras premium); Nasi coklat & dedak (kaya vitamin B, serat, antioksidan, dan lebih dari 100 jenis bioaktif) diabaikan dan dijadikan sebagai makanan kelas dua.

Persis seperti jambu batu: raja nutrisi yang dianggap buah kelas rendah.

Seruan untuk Kebijakan Berbasis Ilmu, Bukan Pasar

Kita perlu: 1. Kebijakan pangan yang memprioritaskan nutrisi, bukan sekadar profit; 2. Promosi buah lokal melalui program sekolah, riset, dan subsidi, dan; 3. Melawan narasi pasar dengan edukasi objektif: jambu batu lebih baik daripada apel.

Catatan Akhir: Revolusi Dimulai dari Piring Kita

Makan jambu batu bukan hanya pilihan selera — itu adalah aksi etis, politis dan ekonomi untuk bisa dan kuat keluar dari kungkungan kekalahan tropika.

Itu artinya menolak dikte pasar, mendukung petani lokal, dan mengembalikan ilmu pengetahuan pada takhtanya.

Serial Tropikanisasi — Merayakan Kearifan Lokal, Menolak Hegemoni Global

Tags: #Tropikanisasi #JambuBatu #KedaulatanPangan #NutrisiLokal #IlmuVsPasar

***

Noted:

Tropikanisasi adalah sebuah konsep transformatif yang merujuk pada proses mengangkat, memulihkan, dan memodernisasi kekayaan tropis—baik dalam pangan, budaya, ekonomi, maupun spiritualitas—sebagai fondasi kedaulatan dan keberlanjutan bangsa tropis seperti Indonesia.

Judul: Jambu Batu Raja Buah Sedunia: Buah Tropika yang Dilupakan, Ilmu yang Diabaikan, dan Kebijakan yang Tidak Mendukung
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Prof. Agus Pakpahan memimpin IKOPIN University sejak 29 Mei 2023 untuk periode 2023–2027. Ia dikenal sebagai ekonom pertanian yang menaruh perhatian pada penguatan ekosistem perkoperasian dan tata kelola kebijakan publik.

Di bawah kepemimpinan Agus Pakpahan, IKOPIN mendorong kemitraan strategis dan pembenahan tata kelola kampus, termasuk menyambut inisiatif pemerintah agar IKOPIN bertransformasi menuju skema Badan Layanan Umum (BLU) di lingkungan Kemenkop UKM—sebuah langkah untuk memperkuat daya saing kelembagaan dan mutu layanan pendidikan. “Pendidikan yang berpihak pada kemajuan adalah jembatan masa depan,” demikian ruh visi yang ia usung.

Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.
Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Lahir di Sumedang, 29 Januari 1956, Agus Pakpahan menempuh S-1 di Fakultas Kehutanan IPB (1978) dan meraih M.S. Ekonomi Pertanian di IPB (1981). Ia kemudian meraih Ph.D. Ekonomi Pertanian dengan spesialisasi Ekonomi Sumber Daya Alam dari Michigan State University (1988). Latar akademik ini mengokohkan reputasinya di bidang kebijakan sumber daya alam, pertanian, dan pembangunan pedesaan. “Ilmu adalah cahaya; manfaatnya adalah sinar yang menuntun,” menjadi prinsip kerja ilmiahnya.

Kariernya panjang di pemerintahan: bertugas di Bappenas pada 1990-an, lalu dipercaya sebagai Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (1998–2002). Di tengah restrukturisasi, ia memilih mundur pada 2002—sebuah sikap yang tercatat luas di media arus utama.

Sesudahnya, Agus Pakpahan menjabat Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan (2005–2010), memperlihatkan kapasitasnya menautkan riset, kebijakan, dan bisnis negara. “Integritas adalah kompas; kebijakan adalah peta,” ringkasnya tentang tata kelola.

Sebagai akademisi-pemimpin, Agus Pakpahan aktif membangun jejaring dan kurikulum. Kunjungan kerja ke FEB UNY menegaskan orientasi penguatan kompetensi usaha dan koperasi, sementara di tingkat lokal ia melepas ratusan mahasiswa KKN untuk mengabdi di puluhan desa di Sumedang—mendorong pembelajaran kontekstual dan solusi nyata bagi masyarakat. “Belajar adalah bekerja untuk sesama,” begitu pesan yang kerap ia gaungkan pada kegiatan kampus.

Di luar kampus, kiprah Agus Pakpahan terekam dalam wacana publik seputar hutan, pertanian, ekonomi sirkular, dan perkoperasian—menginspirasi komunitas petani serta pemangku kepentingan untuk berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai gotong royong.

Esai dan pandangan Agus Pakpahan di berbagai media bereputasi menunjukkan konsistensinya pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. “Kemajuan tanpa keadilan hanyalah percepatan tanpa arah; keadilan memberi makna pada laju,” adalah mutiara yang merangkum jalan pikirannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *