Ironi Merdeka

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif, Penulis - (Sumber: Koleksi pribadi)

MajmusSunda News, Rubrik OPINI, Senin (18/08/2025) Esai berjudul “Ironi Merdeka” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, di negeri yang merdeka ini, pejabat duduk di kursi empuk, berbicara tentang kemajuan dengan suara lantang, sambil menatap layar yang memantulkan citra mereka sendiri. Mereka mengatur rapat, membuat peraturan, menandatangani dokumen—namun lupa bahwa negara bukan sekadar kertas dan tinta. Jalan berlubang tetap menganga, sekolah runtuh, rumah bocor; kemerdekaan yang dibanggakan hanyalah hiasan di brosur resmi.

Ironi terbesar: rakyat diminta menghormati mereka sebagai pelayan bangsa, sementara mereka sendiri tak menghidupkan terang ketika gelap menelan kampung. Disiplin berhenti di batas kenyamanan, loyalitas hanya pada kursi yang diduduki. Janji dan pidato menjadi mata uang, tetapi rakyat membayar dengan keringat, air mata, dan waktu hidup mereka.

Merdeka atau Mati
Ilustrasi: Potret pejuang kemerdekaan – (Sumber: Arie/MMS)

Di gang sempit dan akar rumput pelosok negeri, orang-orang yang dianggap “biasa” menegakkan kemerdekaan setiap hari. Mereka menanam pohon di halaman bersama, menjaga sungai tetap bersih, menolong tetangga yang kesulitan, mengajar anak-anak yang tak punya sekolah. Tanpa tepuk tangan, tanpa kamera, tangan-tangan kecil itu mengangkat negeri, sementara tangan-tangan “besar” sibuk memoles citra diri.

Paradoks berlapis: bendera berkibar di halaman gedung negara, tapi mereka yang menggerakkan denyut bangsa tak pernah mendapat pengakuan. Negara memanggil rakyat bersyukur, tetapi hak-hak dasar—makan cukup, sekolah layak, hidup aman—sering diabaikan. Pejabat merayakan kemerdekaan dengan parade dan kembang api, sementara kemerdekaan sejati dijalankan oleh mereka yang menahan banjir, menyalakan lampu, dan menjaga kehidupan.

Kemerdekaan di negeri ini tak tumbuh di istana, tak dijunjung elite politik. Ia berakar dalam kerja senyap tangan-tangan tak ternama—yang menanam pangan, mengalirkan listrik, menjaga keselamatan, dan menyambung hidup tanpa sorak-sorai. Bangsa tetap berdiri bukan karena janji atau citra, melainkan karena keberanian, ketekunan, dan pengorbanan mereka yang diam-diam memikul beban negeri.

***

Judul: Ironi Merdeka
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *