Sekolah Kebangsaan: Belajar Indonesia Merdeka

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Jum’at (18/09/2026) – Artikel berjudul “Sekolah Kebangsaan: Belajar Indonesia Merdeka” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Kemarin sore (17/09/26), Yayasan Dana Darma Pancasila berbincang dengan Pak Aburizal Bakrie dan Pak Ponco Sutowo selaku Dewan Pembina tentang ikhtiar mewujudkan Sekolah Kebangsaan: Belajar Indonesia Merdeka (BINEKA) sekolah kader yang mempertemukan tunas-tunas pemimpin dari seluruh penjuru tanah air untuk belajar, bertukar pikiran, dan berjuang bersama menjadi Indonesia yang berjiwa merdeka.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Secara formal, Indonesia telah merdeka lebih dari delapan dekade. Namun perjuangan kemerdekaan belum selesai: kita masih harus merdeka dari berbagai belenggu, ketergantungan dan penderitaan, serta merdeka untuk mewujudkan cita-cita nasional. Karena itu, diperlukan generasi baru pemimpin yang memahami hakikat keindonesiaan dan cakap memimpin berdasarkan paradigma Pancasila.

Indonesia adalah sebuah totalitas: kealaman yang membentuk tubuhnya, manusia dan peradaban yang memberinya jiwa, serta sejarah dan gagasan yang membentuk kesadaran kebangsaannya. BINEKA menelusurinya melalui Wawasan Dasar Ontologis dan Epistemologis Keindonesiaan, termasuk gugus pemikiran dan aliran ideologis yang membentuknya, agar keseluruhan unsur itu dipahami dalam keterhubungan dan keutuhannya.

Namun Indonesia bukan hanya tentang hakikat keberadaannya, melainkan juga cita-cita perjuangan kemerdekaan yang harus terus dihidupi. Untuk itu, BINEKA membekali cara membangun dan memimpin Indonesia sebagai perjuangan pembebasan berdasarkan Pancasila, sebagai paradigma pembangunan peradaban dalam tata nilai, tata kelola, dan tata sejahtera.

Dari sanalah diharapkan lahir pemimpin yang mampu membaca kenyataan secara holistik dan multidisiplin, merumuskan visi, mengambil keputusan, mengelola keragaman dan sumber daya, serta menggerakkan kekuatan bersama. Pemimpin yang merdeka pikirannya, mandiri dayanya, dan teguh pengabdiannya memimpin bukan untuk menguasai, melainkan melayani; bukan sekadar menyerukan perubahan, melainkan leading by example.

BINEKA mendampingi perjalanan dari pengetahuan menuju kesadaran, dari kesadaran menuju keberanian, dan dari keberanian menuju tindakan untuk menghidupi cita-cita kemerdekaan dan membangun masa depan Indonesia.

***

Judul: Sekolah Kebangsaan: Belajar Indonesia Merdeka
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *