MajmusSunda News, Kamis (30/04/2026) – Artikel berjudul “Percakapan Hayal Soekarno-Hatta” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Di sebuah ruang yang tak tercatat dalam sejarah—di antara ingatan dan kemungkinan dua sosok duduk berhadapan di sebuah meja kayu tua. Tak ada bendera, tak ada podium, hanya keheningan yang seolah pernah menyaksikan keputusan-keputusan besar.
Di luar ruang itu, bayangan Indonesia bergerak cepat: gedung-gedung tinggi, layar digital, riuh debat politik, dan wajah-wajah rakyat yang sibuk, dan tampak lelah.

Soekarno menatap jauh, matanya menyala seperti api yang tak pernah benar-benar padam.
“Bagaimana kabar republik kita, Bung?”
Mohammad Hatta menghela napas pelan.
“Masih berdiri. Itu kabar baiknya. Tapi berdiri saja tidak cukup.”
Soekarno tersenyum tipis. “Ah, kau selalu mengukur dengan keteraturan. Administratif.”
“Dan Bung selalu melihatnya sebagai panggung perjuangan tanpa akhir,” jawab Hatta tenang. “Padahal panggung tanpa pengelolaan bisa berubah jadi kekacauan.”
Sejenak hening. Lalu Soekarno kembali berbicara, suaranya lebih dalam.
“Syukur, rakyat kita sekarang hidup di alam merdeka, ya?”
“Secara formal, ya,” jawab Hatta. “Tapi kemerdekaan sejati… selalu proses.”
“Proses?” Soekarno tertawa kecil. “Dulu kita menyebutnya revolusi!”
“Dan setelah revolusi,” sahut Hatta, “harus ada institusi. Sistem. Tanpa itu, semangat hanya jadi euforia sesaat.”
Bayangan di luar berubah: pasar, pusat perbelanjaan, grafik ekonomi yang naik turun.
“Dulu kita merancang Indonesia sebagai rumah besar,” kata Soekarno perlahan. “Sekarang aku melihatnya seperti pasar. Ramai, tapi tidak selalu adil.”
“Pasar tidak selalu salah,” jawab Hatta. “Tapi pasar tanpa aturan melahirkan ketimpangan.”
“Ketimpangan!” suara Soekarno meninggi. “Aku menyebutnya pengkhianatan terhadap keadilan sosial!”
Hatta tidak langsung membantah. “Kekayaan terkonsentrasi. Banyak yang tertinggal. Kita dulu bicara tentang kedaulatan ekonomi. Sekarang, apakah kita benar-benar berdaulat?”
Soekarno berdiri, gelisah. “Tidak! Kita ingin berdikari! Tapi kini terlalu banyak keputusan ditentukan oleh tekanan luar dan kekuatan gelap pasar global, investor, opini internasional, oligarki!”
“Globalisasi tidak bisa dihindari,” jawab Hatta. “Masalahnya bukan keterbukaan, tapi lemahnya strategi.”
“Ah, lagi-lagi strategi,” gumam Soekarno.
“Dan lagi-lagi Bung terlalu percaya spontanitas sejarah,” balas Hatta. “Negara butuh visi besar dan eksekusi disiplin.”
Bayangan berganti lagi: ruang parlemen, kampanye, layar televisi yang penuh perdebatan.
“Bagaimana dengan demokrasi kita?” tanya Soekarno.
Hatta menatap lurus ke depan. “Demokrasi sekarang sering berhenti pada prosedur. Pemilu ada, tapi kualitas pilihan belum tentu meningkat.”
“Demokrasi tanpa kesadaran rakyat adalah ilusi!” tegas Soekarno. “Rakyat dijadikan objek, bukan subjek!”
“Dan politik menjadi mahal,” tambah Hatta. “Yang masuk bukan selalu yang terbaik, tapi yang paling mampu bertahan dalam biaya kekuasaan.”
“Jadi kekuasaan dibeli?” tanya Soekarno tajam.
“Seringkali,” jawab Hatta singkat.
Hening kembali turun. Kali ini lebih berat.
Bayangan berikutnya: hutan yang menipis, sungai yang keruh, kota yang terendam.
“Apa lagi ini?” tanya Soekarno pelan.
“Lingkungan,” jawab Hatta. “Pembangunan sering mengorbankan keberlanjutan.”
“Kita ingin membangun bangsa, bukan menghancurkan tanahnya,” kata Soekarno lirih.
“Pertumbuhan tanpa keberlanjutan hanya menunda krisis,” sahut Hatta.
Soekarno duduk kembali. “Aku mulai melihat pola, Bung. Kita punya struktur, tapi kehilangan jiwa. Kita punya institusi, tapi tidak selalu punya integritas.”
“Korupsi masih sistemik,” kata Hatta. “Bukan sekadar individu, tapi celah dalam sistem, salah tata kelola.”
“Padahal pemimpin itu pelayan rakyat!” seru Soekarno. “Sekarang… apakah mereka masih merasa demikian?”
Hatta menjawab hati-hati. “Sebagian masih. Tapi banyak yang terjebak dalam logika kekuasaan. Jabatan jadi tujuan, bukan alat.”
“Tragis,” gumam Soekarno.
“Kompleks,” koreksi Hatta.
Di luar, kini muncul wajah-wajah muda, layar ponsel, arus informasi tanpa henti.
“Bagaimana generasi sekarang?” tanya Soekarno.
“Mereka punya energi besar,” jawab Hatta. “Tapi perhatian terpecah. Informasi melimpah, kedalaman sering hilang.”
“Revolusi digital tanpa revolusi karakter,” kata Soekarno.
“Dan pendidikan kita belum sepenuhnya membentuk warga yang kritis,” tambah Hatta.
Soekarno berdiri lagi. “Jadi dari ekonomi, politik, lingkungan, sampai pendidikan—semuanya belum mencapai cita-cita kita?”
Hatta ikut berdiri. “Belum sepenuhnya. Tapi bukan berarti gagal.”
“Apa bedanya belum tercapai dengan melenceng?” tanya Soekarno tajam.
Hatta menjawab tenang. “Melenceng berarti kehilangan arah. Kita masih punya arah—dalam nilai, dalam dasar negara. Tapi pelaksanaannya sering menyimpang.”
“Soalnya,” kata Soekarno perlahan, “bukan pada cita-cita kita. Tapi pada keberanian untuk setia padanya.”
“Dan kemampuan menerjemahkannya,” tambah Hatta, “ke dalam kebijakan nyata.”
Riuh Indonesia terdengar lagi: harapan, kritik, kemajuan, dan kegagalan—semuanya bercampur.
“Kalau kita masih ada,” kata Soekarno, “aku akan membangkitkan kembali keberanian bangsa ini. Membuat mereka percaya bahwa Indonesia bisa besar.”
“Dan saya,” jawab Hatta, “akan memperbaiki institusi. Menegakkan hukum. Mengurangi ketimpangan.”
Soekarno tersenyum. “Kita tetap berbeda.”
“Tapi tujuannya sama,” kata Hatta.
“Selalu sama.”
Sejenak, keduanya terdiam.
“Menurutmu, Bung,” tanya Soekarno pelan, “apakah cita-cita kita gagal?”
Hatta tersenyum—tenang, rasional, namun hangat.
“Tidak. Cita-cita tidak pernah gagal. Yang ada hanya generasi yang belum selesai memperjuangkannya.”
Soekarno tertawa kecil, kali ini tanpa getir.
“Ah, kau ini… selalu realistis, tapi tetap memberi harapan.”
“Dan Bung,” balas Hatta, “selalu penuh harapan, meski dunia tidak selalu rasional.”
Ruang itu perlahan memudar. Meja kayu, dua kursi, dan percakapan yang tak pernah benar-benar selesai.
Di dunia nyata, Indonesia terus berjalan—di antara mimpi besar dan pekerjaan rumah yang belum usai, menunggu siapa yang berani menjembatani keduanya.
***
Judul: Percakapan Hayal Soekarno-Hatta
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












