Penampakan Tiga Macan Penghuni Asli Taman Nasional Gunung Ciremai Terditeksi

Penampakan tiga 'raja rimba' penghuni asli Gunung Ciremai itu, dua diantarnya berwarna hitam (Kumbang Hitam) itu terdeteksi melalui kamera jebak yang dipasang Balai TNGC.

Momen 'raja rimba' penghuni asli Gunung Ciremai terdeteksi kamera jebak (Foto: Istimewa).

ManjmusSunda News-Majalengka Jumat (3/1/2024)- Tiga individu macan tutul (Panthera pardus) yang dianggap hampir punah ternyata panampakannya masih terditeksi berkeliaran Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Majalengka Jawa Barat.

Penampakan tiga ‘raja rimba’ penghuni asli Gunung Ciremai itu, dua diantarnya berwarna hitam (Kumbang Hitam) itu terdeteksi melalui kamera jebak yang dipasang Balai TNGC.

Terditeksinya tiga raja rimba ini tidak lepas dari peningkatan metode pemantauan oleh Tim Monitoring Balai TNGC yang bekerja sama dengan masyarakat setempat dan Yayasan SINTAS Indonesia yang dilakukan sepanjang tahun 2024.

Kepala Balai TNGC Toni Anwar mengatakan, tiga macan tutul yang terdeteksi itu berjenis kelamin jantan. Sedangkan corak tiga macan tutul tersebut di antaranya, satu bercorak tutul terang dan dua individu bercorak kumbang (hitam) dan.

“Benar, kami berhasil mendeteksi tiga individu macan tutul sebagai satwa asli kawasan Gunung Ciremai,” kata Toni kepada wartawan, Kamis (2/1/2024).

Toni menambahkan, bukan hanya penghuni asli Gunung Ciremai, macan tutul hasil introduksi bernama Rasi juga terdeteksi kamera jebak. Keberadaan macan tutul betina itu terakhir terdeteksi pada Juli 2024.

“Keberadaan Rasi juga terdeteksi. Namun, individu introduksi lainnya, yakni Slamet Ramadhan, belum terdeteksi sejak April 2023,” imbuh Toni.

Ia menuturkan, Balai TNGC juga tengah mendukung program Gunung Ciremai  Javan Wild Leopard Survey (JWLS)  untuk mendalami struktur populasi macan tutul di Pulau Jawa.

“Keberadaan macan tutul Jawa sebagai spesies kunci sangat penting, dalam menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan Gunung Ciremai, menjadikannya fokus utama upaya konservasi oleh berbagai pihak,” kata Toni.

Ia menjelaskan, macan tutul merupakan salah satu satwa endemik Pulau Jawa yang keberadaannya terancam punah akibat perburuan liar, hilangnya habitat, dan alih fungsi hutan.

Toni menandaskan bahwa satwa ini dilindungi secara hukum di Indonesia, serta terdaftar dalam CITES Appendix I.

“Kami berharap hasil survei JWLS yang direncanakan selesai pada 2025 dapat memberikan gambaran lebih lengkap mengenai populasi macan tutul Jawa, khususnya di TNGC,” kata Toni

Toni juga mengimbau para pendaki agar tetap waspada. Ia berharap pendaki mematuhi aturan seperti mengikuti jalur resmi saat mendaki, tidak mendaki malam hari hingga melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan satwa tersebut.

“Kendati secara alami satwa liar seperti macan tutul cenderung menghindari manusia,” kata Toni.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *