METAFISIKA “KABUT”: Tentang Asal, Bahasa, dan Kesadaran

Penulis: NOER Widyadiningrat (Pembelajar Djatirumasa)

Judul: METAFISIKA “KABUT”: Tentang Asal, Bahasa, dan Kesadaran Penulis: NOER Widyadiningrat (Pembelajar Djatirumasa)

MajmusSund News, Garut, 20 Februari 2026 – أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ؟ قَالَ: كَانَ فِي عَمَاءٍ، مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ، ثُمَّ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ.
“Di mana Tuhan kami sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya?” Beliau menjawab: “Dia berada dalam ‘amā’ (kabut/awan tebal), tidak ada udara di bawah-Nya dan tidak ada udara di atas-Nya. Kemudian Dia menciptakan ‘Arsy-Nya di atas air.” (HR. Tirmidzi)

Hampir semua tradisi besar memulai kisah kosmos bukan dengan bangunan, melainkan dengan sesuatu yang tak berbentuk. Hesiod menyebut Chaos sebagai awal—bukan kekacauan dalam arti moral, melainkan jurang primordial yang terbuka (Hesiod, trans. 2006). Dalam mistisisme Yahudi, Isaac Luria berbicara tentang Ein Sof, ketakterhinggaan Ilahi sebelum emanasi sefirot (Scholem, 1974). Dalam kosmologi sufistik, terutama pada Ibn ‘Arabî, kita menemukan istilah al-‘Amâ’—kabut pra-diferensiasi sebelum tajalli kosmik berlangsung (Ibna ‘Arabî, 2004).

Mengapa simbolnya hampir serupa? Jurang, kegelapan, kabut, ketakterhinggaan. Kabut bukan ketiadaan. Ia bukan nihil. Ia hadir—padat, menyelubungi, tetapi tanpa batas yang jelas. Ia menyembunyikan tanpa melenyapkan. Gunung tetap ada, lembah tetap ada, tetapi garis pemisahnya lenyap dari pandangan. Simbol ini menunjuk pada kondisi ontologis: kepenuhan yang belum terdiferensiasi. Dalam kerangka Ibna ‘Arabî, al-‘Amâ’ bukan ruang kosong, melainkan kondisi ketidakterbedaan di mana kemungkinan kosmos masih laten. Ia bukan “sebelum” dalam arti temporal, tetapi “sebelum” dalam arti logis—pra-manifestasi (Chittick, 1989). Bahasa kita terpaksa menggunakan kronologi untuk menunjuk pada keadaan yang mungkin melampaui waktu itu sendiri. Dengan demikian, kabut adalah metafora tentang kepenuhan yang belum dibelah. Realitas belum terstruktur, tetapi bukan tidak ada. Masalahnya muncul ketika kita mencoba menjelaskan kabut itu sendiri. Bahasa bekerja melalui diferensiasi. Setiap kata adalah batas. Ketika kita mengatakan “langit”, kita memisahkannya dari “bumi”. Ketika kita mengatakan “aku”, kita membedakannya dari “yang lain”. Namun bagaimana berbicara tentang kondisi sebelum batas?

Wittgenstein pernah mengingatkan bahwa batas bahasa adalah batas dunia yang dapat kita katakan (Wittgenstein, 1922/2001). Bahasa datang setelah pemetaan realitas. Ia lahir dari dunia yang telah terstruktur. Maka ketika kita berbicara tentang pra-struktur, kita menggunakan alat yang lahir setelah struktur itu ada. Di sinilah simbol menjadi penting. Definisi menutup; simbol membuka. Definisi berkata: “Ini adalah itu.” Simbol berkata: “Ini menunjuk pada sesuatu yang melampaui dirinya.” Kabut adalah simbol, bukan deskripsi teknis kosmologi. Ia menjaga misteri tetap hidup. Fenomenologi modern pun menyadari bahwa kesadaran memiliki lapisan pra-reflektif—pengalaman sebelum dinamai (Merleau-Ponty, 1962). Ada pengalaman yang hadir sebelum kata mengendap menjadi konsep. Bahasa selalu datang terlambat. Maka kabut tidak hanya menunjuk pada awal kosmos. Ia juga menunjuk pada batas epistemologis kita.

Jika kosmos memiliki fase ketakterbedaan, mungkinkah kesadaran manusia juga demikian? Ada momen-momen halus yang memberi petunjuk: detik pertama saat terbangun dari tidur, sebelum nama dan peran kembali hadir. Sebelum narasi diri menyala. Pada momen itu, belum ada “aku sebagai ini atau itu”. Hanya kesadaran yang hadir—tanpa label. Fenomenologi menyebutnya pengalaman pra-reflektif, di mana subjek dan objek belum sepenuhnya terpisah (Merleau-Ponty, 1962). Dalam tradisi sufistik, pengalaman fanâ’ digambarkan sebagai peluruhan batas ego, meskipun bukan penghapusan ontologis diri (Chittick, 1989). Identitas, dengan demikian, bukan titik awal. Ia hasil diferensiasi. Anak kecil belajar membedakan tubuhnya dari lingkungan, namanya dari suara lain. “Aku” lahir dari garis batas.

Kabut kesadaran adalah fase sebelum garis itu mengeras. Menariknya, fase ini kembali muncul dalam krisis. Ketika identitas lama runtuh, kita merasa “tidak tahu siapa diri kita”. Itu bukan nihilisme. Itu restrukturisasi. Seperti kosmos yang lahir dari pra-diferensiasi, identitas pun lahir dari kabut batin. Krisis bukan kehancuran total. Ia ruang liminal—fase antara (Turner, 1969). Di sana, makna belum terbentuk kembali. Kita berdiri di wilayah samar.

Manusia cenderung mendambakan kepastian absolut. Sistem moral yang steril dari ambiguitas. Jawaban final yang tak tergoyahkan. Namun realitas tidak pernah sepenuhnya transparan. Kierkegaard menulis bahwa keberanian iman justru lahir dalam ketidakpastian objektif (Kierkegaard, 1843/1985). Keputusan etis selalu diambil dalam keterbatasan pengetahuan. Jika segalanya sudah pasti, tanggung jawab kehilangan maknanya. Kabut mengajarkan kerendahan hati epistemik. Mengakui bahwa pengetahuan kita parsial bukan berarti kita pasif. Justru karena kita tidak tahu segalanya, pilihan menjadi bermakna. Etika kabut bukan relativisme total. Ia bukan nihilisme. Ia komitmen yang sadar akan keterbatasan. Ia keberanian bertindak tanpa jaminan absolut. Dialog menjadi penting dalam kondisi ini. Karena perspektif tunggal selalu terbatas, percakapan membuka koreksi timbal balik. Kebenaran sering muncul bukan sebagai monolog, melainkan sebagai hasil interaksi. Kabut tidak meniadakan arah. Ia hanya membatasi jarak pandang.

Di titik terdalam, kabut bisa dibaca sebagai penanda transendensi. Ketika rasio mencapai batasnya, manusia dihadapkan pada misteri. Misteri bukan sekadar sesuatu yang belum diketahui; ia kedalaman realitas yang tak pernah habis dijelaskan. Dalam metafisika Ibna ‘Arabî, Realitas Ilahi melampaui semua kategori. Manifestasi terjadi melalui diferensiasi nama dan sifat, tetapi Dzat tetap tak terjangkau secara konseptual (Ibna ‘Arabî, 2004; Chittick, 1989). Kabut menjadi simbol ambang—antara yang tak terkatakan dan yang termanifestasi. Rasio tidak dibatalkan, tetapi disadarkan akan batasnya. Iman, dalam pengertian filosofis, bukan anti-rasional. Ia pengakuan bahwa realitas melampaui kapasitas kategori manusia. Kabut melatih kerendahan hati ontologis. Ia mencegah manusia menganggap dirinya pusat mutlak makna. Ketika ego melemah, kesadaran menjadi reseptif terhadap kedalaman yang lebih luas. Namun bahaya selalu ada: skeptisisme total di satu sisi, kepercayaan buta di sisi lain. Kabut menuntut keseimbangan—bertanya tanpa sinisme, percaya tanpa menutup refleksi.

Jika awal kosmos adalah kabut, jika awal kesadaran adalah kabut, jika krisis membawa kita kembali ke kabut, maka mungkin kabut bukan anomali. Ia kondisi struktural eksistensi manusia.
Kita bukan penghuni permanen kepastian. Kita adalah peziarah. Peziarah tidak memiliki seluruh peta. Ia berjalan dengan kompas, bukan dengan panorama total. Kompas itu adalah integritas, kejujuran, keberanian moral, dan kerendahan hati epistemik. Fanatisme lahir dari ketakutan terhadap kabut. Sinisme lahir dari kelelahan berjalan di dalamnya. Kedewasaan terletak di antara keduanya—teguh tanpa kaku, terbuka tanpa kehilangan bentuk. Kabut membatasi penglihatan, tetapi tidak menghapus jalan.

Kabut bukan kekosongan. Ia kepenuhan yang belum terurai. Dari ketakterbedaan lahir diferensiasi. Dari pra-struktur lahir kosmos. Dari pra-identitas lahir “aku”. Dari krisis lahir kedewasaan. Dari keterbatasan lahir pencarian transendensi. Mungkin kebijaksanaan bukan kemampuan menghapus kabut. Mungkin kebijaksanaan adalah kemampuan berjalan di dalamnya—tanpa kehilangan arah, tanpa mengklaim penglihatan total. Kita berjalan. Tidak sepenuhnya tahu. Namun tidak tanpa kompas. Dan mungkin, justru di antara batas penglihatan itu, makna tumbuh paling dalam. AlLâhumma innâ nushallî wanusallimu ´alâ Sayyidinâ Jâmi´ SAW.

Referensi
1. Chittick, W. C.. The Sufi path of knowledge: Ibn al-‘Arabi’s metaphysics of imagination. SUNY Press, (1989).
2. Hesiod. Theogony (M. L. West, Trans.). Oxford University Press, (2006).
3. Ibna al-‘Arabî, Muhammad ibn ‘Alî; “Fushûsh al-Hikam”, Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, 2004.
4. Kierkegaard, S. Fear and trembling (A. Hannay, Trans.). Penguin, (1985).
5. Merleau-Ponty, M. Phenomenology of perception (C. Smith, Trans.). Routledge, (1962).
6. Scholem, G. Kabbalah. Dorset Press, (1974).
7. Turner, V. The ritual process: Structure and anti-structure. Aldine, (1969).
8. Wittgenstein, L. Tractatus logico-philosophicus (D. F. Pears & B. F. McGuinness, Trans.). Routledge, (2001).

*****

 

Judul: METAFISIKA “KABUT”: Tentang Asal, Bahasa, dan Kesadaran

Penulis: NOER Widyadiningrat (Pembelajar Djatirumasa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *