Lamun Ngomong Teh Dipikir Heula, Komo Bari Jeung Dihate

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Senin (21/09/2026) – Pada saat saya masih kecil, saya sering mendengar kakek saya~ yang biasa saya panggil engkong bilang, “lamun ngomong teh dipikir heula, komo bari jeung hate!” kepada orang yang bersilaturahim kepada beliau. Sebuah kalimat Sunda yang berarti kalau berbicara itu agar dipikir terlebih dahulu, dan lebih baik lagi jika juga dengan menimbang perasaan. Kalimat sederhana itu melekat dalam ingatan saya, mungkin karena diucapkan bukan sebagai teori tentang etika berbicara, melainkan sebagai kebijaksanaan yang tumbuh dari pengalaman hidup. Dalam budaya Sunda, bahasa bukan sekadar alat menyampaikan maksud. Pilihan kata, intonasi, dan kepada siapa kata itu ditujukan merupakan bagian dari tata krama yang menunjukkan bagaimana seseorang menempatkan dirinya di hadapan orang lain.

Bahasa pada dasarnya adalah hasil panjang perjalanan kebudayaan manusia. Kata-kata lahir, berubah, diwariskan, lalu memperoleh rasa dari masyarakat yang menggunakannya. Dalam bahasa Sunda dikenal berbagai tingkatan tutur, bukan semata-mata untuk membedakan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah, tetapi untuk mengenali hubungan, usia, kedekatan, dan penghormatan. Karena itu, dipikir heula mengandung sesuatu yang lebih luas daripada sekadar berpikir sebelum berbicara. Ada kesadaran bahwa setiap kata memiliki tempat, waktu, dan akibat. Sedangkan komo bari jeung hate membawa percakapan dari wilayah nalar menuju wilayah rasa. Pikiran menimbang benar dan salahnya kata, hati menimbang apakah kata itu perlu diucapkan dengan cara demikian.

Hal ini menjadi semakin penting ketika seseorang memperoleh ruang untuk berbicara di hadapan banyak orang. Pemimpin berbicara kepada orang yang dipimpinnya, guru berbicara kepada muridnya, orang tua berbicara kepada anaknya, dan siapa pun yang memiliki kesempatan berbicara sesungguhnya sedang memegang sesuatu yang tidak ringan. Satu kalimat dapat menjernihkan keadaan, tetapi satu kalimat pula dapat menimbulkan tafsir yang panjang. Di zaman ketika ucapan dapat direkam, dipotong, disebarkan, dan hidup jauh lebih lama daripada orang yang mengucapkannya, kehati-hatian bukan lagi sekadar sopan santun. Ia menjadi bagian dari tanggung jawab. Banyak kontroversi bermula bukan karena seseorang tidak memiliki pengetahuan, melainkan karena kata yang keluar lebih cepat daripada pertimbangan yang mendahuluinya.

Dalam tradisi keilmuan, berpikir sebelum berbicara sesungguhnya merupakan bentuk disiplin intelektual. Orang yang berilmu tidak hanya dituntut mengetahui sesuatu, tetapi juga memahami batas pengetahuannya, konteks ucapannya, dan akibat dari penyampaiannya. Sementara dalam tradisi spiritual, kata-kata memiliki kedudukan yang lebih dalam lagi. Para sufi mengajarkan pentingnya menjaga lisan karena apa yang keluar dari mulut sering kali memperlihatkan keadaan hati. Lidah memang bergerak dalam hitungan detik, tetapi bekas sebuah ucapan dapat tinggal bertahun-tahun di dalam ingatan seseorang. Karena itu, diam bukan selalu tanda tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan. Ada diam yang lahir dari kebijaksanaan, karena hati sedang memastikan bahwa kata yang akan keluar tidak menjadi luka bagi orang lain.

Barangkali itulah kedalaman pesan komo bari jeung hate. Hati bukan sekadar tempat perasaan, melainkan ruang tempat manusia belajar merasakan keberadaan orang lain. Pikiran bertanya, “Apakah yang akan saya katakan benar?” Hati menambahkan pertanyaan, “Apakah cara saya mengatakannya akan menjaga martabat orang yang mendengarnya?” Di antara keduanya terdapat adab. Kebenaran tetap penting, tetapi kebenaran yang disampaikan tanpa kebijaksanaan dapat kehilangan daya untuk menyembuhkan. Sebaliknya, kelembutan yang tidak berpijak pada kebenaran dapat berubah menjadi sekadar menyenangkan hati. Maka pikiran dan hati perlu berjalan bersama, seperti dua sisi yang membuat sebuah ucapan tetap manusiawi.

Saya teringat kembali kepada kalimat sederhana Engkong saya itu ketika melihat betapa mudahnya orang hari ini berbicara, terutama ketika ruang komunikasi begitu terbuka. Tidak semua yang dapat dikatakan harus dikatakan, tidak semua yang terpikir harus segera diucapkan, dan tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang sama. Ada saatnya kata menjadi ilmu, ada saatnya menjadi nasihat, ada saatnya menjadi penghiburan, dan ada saatnya justru lebih baik disimpan karena belum menemukan cara yang tepat untuk disampaikan. Dalam hal ini, kemampuan menahan kata bukan kelemahan. Ia justru menunjukkan bahwa manusia mampu menguasai dirinya sebelum mencoba menguasai keadaan.

Maka lamun ngomong teh dipikir heula, komo bari jeung dihate terasa seperti pesan kecil yang melampaui zaman. Ia mengajarkan bahwa sebelum kata meninggalkan lidah, hendaknya ia melewati pikiran dan singgah sejen k di hati. Sebab kata bukan hanya suara yang selesai ketika udara berhenti bergetar. Ia dapat menjadi ilmu, kenangan, luka, bahkan doa. Barangkali manusia menjadi dewasa bukan ketika semakin banyak yang dapat ia katakan, melainkan ketika ia semakin mampu memilih kata yang benar, waktu yang tepat, cara yang baik, dan hati yang bersih. Di situlah tutur berubah menjadi hikmah, dan berbicara menjadi bagian dari ibadah kepada-Nya.

*Yudha Heryawan Asnawi*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *