Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P.: Kompas Integritas di Samudra Pengabdian – Bagian 2

Artikel ini ditulis oleh: Debora/usman - Majalah Integritas

Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi
Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi - (Sumber: Koleksi pribadi)

MajmusSunda News, Artikel/OPINI, Sabtu (28/02/2026) – Artikel berjudul “Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P.:  Kompas Integritas di Samudra Pengabdian – Bagian 2” yang ditulis oleh Debora/usman ini sebelumnya telah terbit di Kolom VISIONER Majalah “INTEGRITAS” Edisi 59 – Januari 2026. Atas seizin Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, artikel ini dimuat kembali secara berseri di media online MajmusSunda News.

Perjalanan militer Ade dimulai setelah menyelesaikan SMA tahun 1979. Saat itu ia melanjutkan pendidikannya ke AKABRI Bagian Laut ─ sekarang Akademi Angkatan Laut (AAL), dan lulus dengan pangkat Letnan dua (Letda) dan mengakhiri sebagai prajurit aktif pada 2018 dengan pangkat Laksamana TNI dengan jabatan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL).

Mengacu kepada Permenhan, dengan mengakhiri dinas prajurit aktif maka sebagai purnawirawan, kembali ke masyarakat ─ bukan kembali dengan status sipil. Jadi setelah purna, masih ada identitas ganda yang melekat dalam diri purnawirawan TNI.

Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P.
Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P. bersama para prajurit marinir – (Sumber: Koleksi pribadi)

 

“Dan jika disebut kembali ke sipil juga tidak bisa dikatakan benar 100 persen karena identitas pangkat dan atribut militer tetap saja dipakai, antara lain dalam upacara militer kesatuan asal, maupun upacara kenegaraan yang menentukan kehadiran dengan menggunakan atribut dan pakaian seragam militer dengan papan nama putih,” ujar Ade.

Dalam perjalanan di kehidupan masyarakat, Ade mengaku memang ada beberapa pendekatan berpikir yang kemudian dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat, yaitu mengubah ritme. Namun, tidak mengubah semangat, yaitu bagaimana menemukan medan juang baru yang berbeda dan bagaimana mengintegrasikan nilai juang yang selama ini dipelihara ke kehidupan masyarakat, serta bagaimana menampilkan diri dengan identitas gandanya, berkiprah membangun bangsa dan negara.

Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P.
Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P. ketika mengendarai Jet Ski dengan kawalan prajurit marinir – (Sumber: Koleksi pribadi)

Bagi Ade, kehidupan sipil hanya mengubah ritme, tapi bukan merubah semangat. Kehidupan militer penuh disiplin, struktur, dan komando, sedangkan kehidupan sipil di masyarakat lebih cair, kompleks, dan penuh negosiasi. Namun penyesuaian bukan berarti melonggarkan prinsip, tetapi mengalihkan semangat disiplin menjadi keteladanan di lingkungan keluarga, masyarakat, dan pendidikan.

Ade juga mengaku kini menemukan medan juang baru. Jika dulu medan juang adalah laut, perbatasan, mandala bakal konflik militer, kini medan juang adalah ruang kelas, forum publik, dan komunitas sipil. Tentu saja dengan pengabdian yang berubah bentuk: dari menjaga wilayah menjadi menjaga nilai, dari strategi tempur menjadi strategi pembangunan karakter dan beradaptasi- transformasi sosial.

Laksamana TNI Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P. bersama istri, Dra. Endah Esti Hartaningsih – (Sumber: Majalah Integritas)
Laksamana TNI Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P. bersama istri, Dra. Endah Esti Hartaningsih – (Sumber: Koleksi pribadi)

Mantan KSAL ini juga mencoba mengintegrasikan nilai juang ke kehidupan sipil. Nilai seperti loyalitas, keberanian, dan kebersamaan tetap relevan-hanya cara penyampaiannya yang berubah. Dalam konteks relasi kehidupan masyarakat baik sebagai narasumber, pendidik, kolega atau peserta komunitas, berarti mentransformasikan pengalaman militer menjadi narasi inspiratif dan kurikulum kepemimpinan serta karakter.

Namun Ade mengaku ada yang paling sulit ketika mengabdi di dunia sipil. Yaitu mengelola identitas ganda, walau sering dianggap sebagai post power syndrome. Seorang purnawirawan tetap membawa identitas militer, tetapi kini ia juga menjadi bagian dari warga masyarakat sipil yang aktif, reflektif, dan inklusif. Oleh sebab itu di masa purnawirawan adalah berproses rekonsiliasi antara masa lalu yang heroik dan masa kini yang strategik dan pemanfaatan pengalaman.

Meski sudah terbiasa dengan aktivitasnya saat ini, terkadang Ade merindukan masa-masa ia berdinas sebagai prajurit. Namun, bukan karena rutinitas ataupun seragam, tapi rasa kebersamaan dalam misi yang jelas dan bermakna. Selama 39 tahun ia membangun, memelihara, dan memantapkan semangat Korsa dan solidaritas.

“Ada rasa persaudaraan yang kuat, bahkan dalam diam. Kita tahu bahwa setiap orang di sekitar kita siap saling menjaga, tanpa perlu banyak kata,” kenang Ade.

Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P.
Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P. (kanan) bersama kedua rekannya dalam sebuah kegiatan – (Sumber: Majalah Integritas)

Pengalaman selama mengabdi di Angkatan Laut, terutama kapal perang, walaupun jauh meninggalkan anak isteri tugas operasional di laut. Namun, momen di atas geladak, di tengah laut, saat semua bergantung pada satu sama lain menjadi esensi kebersamaan yang sulit ditemukan di dunia purna prajurit atau sipil,” tambah Ade kemudian.

Ada perbedaan signifikan yang dirasakannya ketika berdinas sebagai prajurit dan ketika di dunia sipil seperti sekarang ini, di mana dinas aktif, dilatih dengan kejelasan tujuan dan tugas, setiap hari punya misi menentukan arah: menjaga kedaulatan, melindungi wilayah, memelihara alut sista dan membina pasukan, sedangkan di dunia sipil, arah itu harus diciptakan sendiri, menata dan membangun jejaring, mengembangkan ide mandiri. Namun, realisasi ada ketergantungan.

“Maka saya rindu masa militer dengan momen ketika misi sudah jelas dan kita tinggal melangkah dengan penuh keyakinan. Kita sangat faham ‘how to win the battle’,” kenang mantan KSAL ini dengan elegan. (Bersambung ke Bagian 3).

***

Melihat Tulisan Bagian 1: Klik di sini.

Judul: Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P.:  Kompas Integritas di Samudra Pengabdian – Bagian 2
Penulis: Debora/usman – Integritas
Editor: Jumari Haryadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *