Jangan Kendor Mewujudkan Swasembada Beras Berkelanjutan

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (04/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Jangan Kendor Mewujudkan Swasembada Beras Berkelanjutan” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Benar, tanpa swasembada beras, sulit untuk mencapai swasembada pangan secara keseluruhan. Bagaimana pun juga swasembada beras merupakan pintu masuk ke arah pencapaian swasembada pangan.Beras merupakan salah satu komoditas pangan pokok utama di Indonesia. Jadi kalau produksinya kurang, bisa berdampak besar pada ketersediaan pangan nasional.

Kondisi swasembada beras di Indonesia saat ini sangat positif. Stok beras nasional mencapai 12,529 juta ton di awal tahun 2026, meningkat 203% dalam 2 tahun terakhir. Ini berarti stok beras cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat selama hampir 5 bulan. Produksi beras juga diproyeksikan meningkat menjadi 34,7 juta ton di tahun 2026, sehingga stok akhir tahun bisa mencapai 16,194 juta ton.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman bahkan menyatakan bahwa Indonesia tidak perlu impor beras konsumsi di tahun 2026, karena stok beras sangat aman. Ini merupakan hasil kerja keras petani dan dukungan pemerintah dalam meningkatkan produksi beras.

Pemerintah juga telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi beras, seperti intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, serta modernisasi pertanian. Dengan demikian, Indonesia diharapkan dapat terus mencapai swasembada pangan dan menjadi lumbung pangan dunia.

Swasembada beras berkelanjutan sangat mungkin diwujudkan jika beberapa faktor pendukungnya bisa dijaga dan ditingkatkan. Beberapa kunci suksesnya antara lain produktivitas lahan. Peningkatan produktivitas lahan melalui teknologi pertanian modern dan penggunaan bibit unggul.

Selanjutnya, ketersediaan lahan. Perlindungan lahan pertanian dari alih fungsi dan pengembangan lahan baru. Kemudian, dukungan pemerintah. Kebijakan yang mendukung petani, seperti subsidi pupuk, irigasi, dan harga jual yang kompetitif. Lalu, ketahanan iklim. Adaptasi terhadap perubahan iklim dan pengelolaan bencana alam.

Pemerintah sendiri telah melakukan beberapa langkah untuk mewujudkan swasembada beras berkelanjutan, antara lain :
Pertama, Intensifikasi dan Ekstensifikasi Lahan dengan meningkatkan produktivitas lahan melalui penggunaan teknologi pertanian modern dan pengembangan lahan baru.Kedua dukungan terhadap petani dengan subsidi pupuk, irigasi, dan harga jual yang kompetitif untuk meningkatkan pendapatan petani.

Ketiga, pengembangan Infrastruktur dengan pembangunan infrastruktur irigasi, jalan, dan gudang untuk mendukung pertanian. Keempat penelitian dan pengembangan melalui pengembangan bibit unggul dan teknologi pertanian yang ramah lingkungan. Kelima, kebijakan perlindungan lahan melalui perlindungan lahan pertanian dari alih fungsi dan pengembangan lahan baru.

Tantangan dan kendala yang dihadapi dalam mewujudkan swasembada beras berkelanjutan di Indonesia antara lain terjadinya perubahan iklim. Perubahan cuaca ekstrem dan kenaikan suhu dapat mempengaruhi produksi beras. Kemudian, konversi lahan. Alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian dapat mengurangi luas lahan pertanian.

Selanjutnya, keterbatasan infrastruktur. Infrastruktur irigasi dan jalan yang kurang memadai dapat menghambat distribusi hasil panen. Lalu, biaya produksi tinggi. Biaya produksi yang tinggi dapat membuat harga beras menjadi tidak kompetitif. Dan peningkatan populasi. Peningkatan populasi dapat meningkatkan kebutuhan beras, sehingga produksi harus meningkat.

Kendala lainnya adalah kurangnya akses petani ke teknologi modern, kurangnya modal, dan kurangnya pengetahuan petani tentang praktik pertanian yang baik.

Sebagai teladan misalnya, untuk mengatasi perubahan iklim, pemerintah dan petani bisa melakukan beberapa hal seperti penggunaan varietas unggul dengan menggunakan bibit padi yang tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Lalu, penerapan sistem Irigasi efisien dengan menggunakan sistem irigasi yang hemat air untuk mengantisipasi kekeringan. Dan juga praktik pertanian konservatif dengan menggunakan praktik pertanian yang ramah lingkungan, seperti pertanian organik.

Penggunaan varietas unggul bisa dilakukan dengan cara penelitian dan pengembangan. Artinya, lembaga penelitian pertanian melakukan penelitian untuk mengembangkan bibit padi yang tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Selanjutnya dengan distribusi bibit. Dalam hal ini, bibit padi unggul didistribusikan kepada petani melalui program pemerintah atau swasta. Atau dengan pelatihan petani. Petani dilatih tentang cara menanam dan merawat bibit padi unggul.

Distribusi bibit unggul biasanya dilakukan melalui beberapa saluran, seperti program Pemerintah. Artinya, Pemerintah menyediakan bibit unggul kepada petani melalui program-program seperti Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) atau Program Pengembangan Pertanian (P3). Bisa juga melalui Koperasi Petani. Koperasi petani bisa menjadi saluran distribusi bibit unggul kepada anggotanya. Atau dengan pihak swasta. Perusahaan swasta juga bisa menjual bibit unggul kepada petani.

Sayangnya, distribusi bibit unggul masih menghadapi beberapa tantangan, seperti ketersediaan. Bibit unggul belum tersedia secara luas di semua daerah. Lalu, harga. Bibit unggul seringkali lebih mahal daripada bibit biasa. Dan akses. Petani kecil seringkali sulit mengakses bibit unggul karena keterbatasan modal.

Untuk mengatasi tantangan distribusi bibit unggul, beberapa solusi bisa dilakukan, seperti subsidi Pemerintah. Dalam hal ini, Pemerintah bisa memberikan subsidi untuk bibit unggul agar lebih terjangkau bagi petani kecil. Bisa juga diberiksnnya kredit usaha. Lembaga keuangan bisa menyediakan kredit usaha dengan bunga rendah untuk petani membeli bibit unggul.

Atau dengan pengembangan Koperasi. Koperasi petani bisa dikembangkan untuk meningkatkan akses petani ke bibit unggul dan mengurangi biaya. Pengembangan koperasi petani bisa menjadi solusi efektif untuk meningkatkan akses petani ke bibit unggul. Koperasi bisa membeli bibit dalam jumlah besar. Artinya, Koperasi bisa membeli bibit unggul dalam jumlah besar dengan harga lebih murah. Kedua, menyediakan kredit. Koperasi bisa menyediakan kredit kepada anggotanya untuk membeli bibit unggul. Atau memberikan pelatihan. Koperasi bisa memberikan pelatihan kepada anggotanya tentang cara menanam dan merawat bibit unggul.

Dengan demikian, koperasi bisa membantu petani meningkatkan produksi dan pendapatan mereka. Selain itu, koperasi juga bisa membantu pemerintah dalam menyalurkan program-program pertanian. Koperasi petani bisa membantu meningkatkan pendapatan petani dengan beberapa cara, seperti :

1. Meningkatkan Harga Jual. Koperasi bisa membantu petani mendapatkan harga jual yang lebih baik dengan menjual hasil panen secara bersama-sama.
2. Mengurangi Biaya. Koperasi bisa membantu mengurangi biaya produksi dengan menyediakan input pertanian seperti bibit, pupuk, dan pestisida dengan harga lebih murah.
3. Meningkatkan Produktivitas. Koperasi bisa memberikan pelatihan dan pendampingan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen. Dengan demikian, koperasi bisa membantu petani meningkatkan pendapatan mereka dan meningkatkan kualitas hidup.

Itulah beberapa catatan kritis terkait dengan berbagai langkah dalam mewujudkan swasembada beras berkelanjutan. Kita percaya Pemerintah tidak akan pernah kendor dalam menggenjot produksi padi. Semoga demikian ! (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Jangan Kendor Mewujudkan Swasembada Beras Berkelanjutan
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *