Harmoni di Bukit Miomaffo Timur: Menelusuri Kosmologi dan Ritual Pertanian Lahan Uab Meto

Oleh: Joni Soleman Nalenan - Mahasiswa Program Studi Linguistik, Program Doktor, Universitas Pendidikan Indonesia

MajmusSunda – Harmoni di Bukit Miomaffo Timur: Menelusuri Kosmologi dan Ritual Pertanian Lahan Uab Meto. Oleh Joni Soleman Nalenan – Mahasiswa Program Studi Linguistik, Program Doktor, Universitas Pendidikan Indonesia

PENDAHULUAN

Manusia bukanlah entitas yang bergerak secara acak di atas muka bumi, tetapi makhluk berbudaya yang hidup dalam apa yang disebut oleh para antropolog sebagai “kelakuan berpola”. Pola-pola ini tidak lahir dari ruang hampa melainkan merupakan kristalisasi dari aktivitas sehari-hari yang tertata dalam sebuah kebudayaan ideal yang memberi arah, tujuan, dan makna bagi setiap perbuatan manusia dalam lingkungan sosialnya.

Di jantung Pulau Timor, tepatnya di Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur, kelakuan berpola ini terwujud dalam sebuah simfoni yang megah antara manusia, alam, dan dimensi transendental (leluhur). Di sini, bertani bukan sekadar urusan pemenuhan kebutuhan perut atau aktivitas ekonomi semata. Lebih dari itu, pertanian adalah sebuah ritus kehidupan yang diatur oleh tata kelakuan kebudayaan yang sangat presisi.

Masyarakat Miomaffo Timur, yang biasa disebut Uab Meto, mengajarkan kepada dunia modern sebuah kearifan penting bahwa di balik setiap bulir jagung yang tumbuh dari tanah yang kering, terdapat jalinan doa, izin dari para leluhur, serta pemahaman kosmologis yang mendalam tentang semesta. Tulisan ini akan menelusuri bagaimana harmoni tersebut dijaga melalui ritual dan leksikon kebudayaan yang telah bertahan melintasi zaman.

ISI

Secara astronomis, Miomaffo Timur terletak pada koordinat 124°25’0”E – 124°31’30”E dan 9°25’0”S – 9°20’0”S. Posisi ini menempatkan mereka di daerah perbukitan dengan ketinggian lebih dari 400 meter di atas permukaan laut. Wilayah seluas 101,45 km² ini merupakan rumah bagi sebelas desa yang mempesona: Oesena, Taekas, Femnasi, Jak, Tuntun, Tunoe, Bokon, Kaenbaun, Fatusene, Amol, dan Bitefa.

Berdasarkan data BPS TTU tahun 2021, wilayah ini dihuni oleh jiwa-jiwa yang tangguh. Dengan populasi kecil sekitar 610 jiwa, mayoritas mutlak masyarakatnya menggantungkan hidup pada alam. Dari 178 kepala keluarga, sebanyak 168 keluarga adalah petani ladang. Topografi yang berbukit dan ketersediaan sumber air yang terbatas menjadikan pertanian lahan kering sebagai pilihan logis sekaligus menantang.

Mereka mempraktikkan sistem ladang berpindah, yang dalam bahasa lokal disebut sebagai aktivitas pembukaan lahan baru atau kiulele. Namun, perlu ditegaskan bahwa “berpindah” di sini bukanlah bentuk perusakan hutan atau eksploitasi tanpa kendali. Sebaliknya, sistem ini adalah cara tradisional untuk memberikan jeda bagi alam agar dapat bernapas, memulihkan unsur hara, dan tumbuh kembali secara alami sebelum digunakan kembali di masa depan.

Kosmologi Budaya: Menjaga Keseimbangan Tiga Dunia

Mengapa masyarakat Uab Meto sangat patuh pada tradisi yang bagi orang modern mungkin tampak rumit? Jawabannya terletak pada kosmologi budaya mereka yang bukan sekadar ilmu pengetahuan, melainkan cara pandang Uab Meto terhadap asal-usul, struktur, dan keberadaan mereka di jagat raya. Bagi mereka, alam bukanlah objek mati yang bisa dieksploitasi sesuka hati, melainkan subjek hidup yang memiliki jiwa dan berhubungan langsung dengan sang pencipta.

Uab Meto membagi semesta ke dalam asas tiga dunia. Dunia atas,  dipandang sebagai wilayah suci, kediaman sang pencipta dan roh-roh leluhur yang menjaga keberlangsungan hidup; dunia tengah, yang merupakan jembatan atau ruang antara, tempat di mana ritual-ritual adat dilakukan sebagai media komunikasi; dan dunia bawah sebagai dunia nyata, tempat manusia berpijak dan melakukan aktivitas pertanian secara terbuka.

Masyarakat ini menghindari konsep antroposentrisme, yakni sebuah paham yang menempatkan manusia sebagai penguasa absolut atas alam. Sebaliknya, mereka menekankan keselarasan. Setiap ritual menciptakan “dualisme vertikal” yang memperlihatkan hubungan manusia dengan Tuhan atau leluhur dan “dualisme horizontal” yang menyajikan hubungan manusia dengan tanah atau ekosistem. Ketika ladang ditinggalkan untuk tumbuh kembali menjadi hutan, masyarakat ini sedang menjalankan peran mereka sebagai penjaga ekosistem yang luar biasa.

Ritual Fek Nono Hau Ana: Izin Sebelum Tebasan Pertama

Kehidupan pertanian di Meomaffo Timur dimulai pada bulan April, yang disepakati sebagai awal kalender pertanian lokal. Namun, tidak ada satu pun parang yang boleh menyentuh semak sebelum ritual Fek Nono Hau Ana (FNHA) dilakukan. Ini adalah ritual krusial untuk meminta izin kepada leluhur sebagai pemilik hakiki wilayah tersebut.

Uab Meto percaya sepenuhnya bahwa tanpa ritual ini, malapetaka akan mengintai, mulai dari kecelakaan kerja saat menebang pohon, angin kencang yang merusak gubuk, hingga kegagalan panen akibat serangan hama. Ritual ini sangat inklusif dengan melibatkan seluruh perwakilan suku tanpa memandang usia, gender, maupun status sosial. Dari sang raja (usi naek) hingga rakyat biasa (to tafa), semuanya tunduk pada otoritas adat.

Ritual ini dipimpin oleh seorang Tobe (ketua adat) dengan properti seperti ayam merah, sopi (minuman tradisional), sirih, dan pinang. Di atas mesbah batu yang dikeramatkan, sang Tobe akan bertutur kepada leluhur. Momen paling mendebarkan adalah saat ayam disembelih dan ususnya diterawang. Jika usus terbuka lurus, itu adalah tanda “lampu hijau” dari semesta. Jika usus tampak berbelit atau tidak sehat, masyarakat akan berhenti sejenak untuk berefleksi: kesalahan apa yang telah diperbuat sehingga alam belum memberi restu?

Menelusuri Sebelas Musim Pertanian

Uab Meto di Miomaffo Timur tidak mengenal istilah tahapan teknis, melainkan menggunakan istilah musim (season) yang menandakan perputaran waktu yang sakral. Musim kiulele (menebas hutan) merupakan awal musim menurut perhitungan kalender pertanian Uab Meto yang ditandai dengan ritual FNHA sebagai permohonan izin kepada leluhur. Selanjutnya diikuti dengan hoi: musim pengeringan kayu dan semak yang telah ditebang di bawah terik matahari, nutu ki’u: musim pembakaran dengan menggunakan nopo (bambu yang ujungnya dihaluskan) sebagai penyulut api, koek: pembersihan final lahan dari sisa-sisa kayu yang tidak habis terbakar menggunakan pengait besi, sifo nopo: ritual mendinginkan lahan yang secara spiritual, panas api pembakaran harus diredam agar tanah kembali subur dan benih tidak kegerahan saat ditanam, moe sane: pembangunan pondok (sane) di tengah ladang sebagai  rumah sementara bagi petani agar dapat menjaga tanaman siang dan malam, tsen: musim penanaman. Ada pantangan unik, yakni petani dilarang berkomunikasi antar-batas lahan saat menanam untuk menjaga keberuntungan masing-masing suku, tnon: musim pemeliharaan intensif dengan menyiangi gulma dan mengusir burung-burung pengganggu, paobahasil: masa tenang menunggu panen yang diisi dengan ritual Tabelak Utan (perlindungan dari ternak) dan usa (persembahan sampel panen pertama ke rumah adat atau sonaf), dan tceik: musim panen raya.

Moralitas sebagai Bentuk Penghormatan dan Izin

Moralitas dalam budaya Uab Meto bukan hanya soal hubungan antarmanusia, tetapi hubungan vertikal dengan leluhur sebagai pemilik spiritual wilayah. Tindakan membuka lahan tanpa ritual dianggap tidak bermoral dan tidak beretika. Frasa usine leko-leko ma utonan leko-leko ‘memberitahu secara baik-baik’ menunjukkan moralitas yang mengutamakan komunikasi yang jujur dan santun kepada leluhur sebelum mengeksploitasi alam.

Moralitas diwujudkan dalam kebersamaan antar-suku yang mengolah lahan. Kegagalan satu orang dalam menjaga perilaku moral seperti melakukan kesalahan saat ritual,  berdampak pada seluruh komunitas yang berujung pada gagal panen atau kecelakaan. Ada tanggung jawab moral yang diperlihatkan lewat ritual sifo nopo (ritual mendinginkan kembali lahan) akibat pembakaran lahan sebagai bentuk kepedulian pada pemulihan kondisi alam dan diukur dari kemampuan masyarakat untuk tetap rukun. Masyarakat dituntut secara moral untuk berefleksi dan memperbaiki kesalahan sebelum mulai menebas lahan menunjukkan sistem etika yang mengutamakan kebersihan batin kolektif.

Literasi Budaya dan Urgensi Kamus Leksikon

Hasil penelitian terdahulu terkait Uab Meto menunjukkan bahwa literasi budaya jauh melampaui kemampuan membaca teks. Literasi budaya adalah kemampuan memahami ungkapan verbal, pola pikir, dan identitas lokal yang tercermin dalam tindakan nyata. Sayangnya, di era modernisasi, tradisi lisan ini rentan tergerus. Aktivitas pertanian di Meomaffo Timur menyimpan ribuan leksikon (kosakata) unik yang memiliki filosofi mendalam. Istilah seperti nopo, sane, atau tceik bukan sekadar kata, melainkan representasi dari kedaulatan pangan dan kearifan lokal. Oleh karena itu, pendokumentasian melalui Kamus Pertanian Lahan Kering Masyarakat Miomaffo Timur menjadi sebuah langkah darurat sekaligus mulia untuk menyelamatkan identitas bangsa dari kepunahan bahasa.

PENUTUP

Pesan yang dapat dipelajari oleh masyarakat modern yang serba instan dari Uab Meto dalam artikel ini adalah bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh kehebatan teknologi atau kecanggihan pupuk kimia. Keberhasilan sejati lahir dari rasa hormat yang mendalam kepada alam dan sejarah yang membentuk manusia. Uab Meto telah membuktikan bahwa religiusitas dan aktivitas ekonomi tidak perlu saling meniadakan. Keduanya bisa berjalan dalam harmoni yang indah. Meliterasikan kebiasaan-kebiasaan ini adalah bentuk penghormatan tertinggi manusia kepada warisan leluhur nusantara. Di tengah ancaman krisis iklim dan pangan dunia, solusi mungkin tidak selalu datang dari laboratorium canggih, melainkan dari kearifan lokal: ambil secukupnya dari alam, minta izin sebelum menebas, dan selalu berikan ruang bagi hutan untuk tumbuh kembali. Semoga bulir-bulir jagung di Meomaffo Timur terus tumbuh subur, membawa serta doa-doa yang diterawang dari usus ayam merah, dan menjaga napas kebudayaan Indonesia tetap hidup selamanya di bukit-bukit batu Pulau Timor.

DOKUMENTASI

Writer: Joni Soleman NalenanEditor: Chye Retty Isnendes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *