Di SMAN 18 Bandung, FTIP Unpad Dampingi Pengelolaan Sampah Organik

Di SMAN 18 Bandung
Foto: unpad.ac.id

MajmusSunda News – Jatinangor, Minggu (03/05/2026) – Di SMAN 18 Bandung, sisa nasi, sayur, buah, yang antara lain berasal dari sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta sampah kantin tidak lagi hanya dipandang sebagai limbah harian. Sebagian mulai ditimbang, dicatat, dipilah, lalu diolah menjadi kompos. Dari proses sederhana itu, sekolah mulai membangun ruang belajar baru tentang lingkungan, ekonomi sirkular, dan green jobs.

Perubahan ini berjalan melalui pendampingan Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran (Unpad). Dengan pendekatan teknologi pengolahan sampah organik, FTIP Unpad mendampingi sekolah membaca persoalan sampah bukan sebagai beban kebersihan semata, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dikelola, dihitung, dan dikembangkan menjadi pembelajaran bernilai.

Pada Selasa, 28 April 2026, FTIP Unpad yang diwakili oleh Dekan Dr. Gemilang Lara Utama, S.Pt., M.I.L., hadir dalam evaluasi keberlanjutan program pengelolaan sampah di SMAN 18 Bandung. Kegiatan ini diikuti kepala sekolah, guru, waste management team, dan perwakilan OSIS. Pihak sekolah memaparkan perkembangan program melalui Allia Labaiky, sementara FTIP Unpad memberikan masukan teknis, evaluatif, dan arahan pengembangan jangka panjang.

Di SMAN 18 Bandung, Pengelolaan Sampah Jadi Kompos

Pendampingan ini tidak dimulai dari ruang rapat. Sejak awal 2026, FTIP Unpad telah terlibat dalam identifikasi masalah, survei lokasi, sosialisasi pemilahan sampah, modifikasi kontainer menjadi komposter portabel, pelatihan bioaktivator, hingga penyusunan arah keberlanjutan program. Inisiatif ini berawal dari Kepala SMAN 18 Bandung, Dani Wardani, M.M.Pd., yang mendorong pembentukan divisi lingkungan hidup di tubuh OSIS, lalu diperkuat melalui pembimbingan akademik dari FTIP Unpad.

Data awal menunjukkan mengapa pendampingan berbasis keilmuan diperlukan. Dalam periode pengamatan 6–16 April 2026, dashboard monitoring mencatat total timbulan sampah SMAN 18 Bandung sebesar 232,6 kilogram. Dari jumlah tersebut, 221,1 kilogram atau sekitar 95,1 persen merupakan sampah organik. Dengan kata lain, tantangan utama sekolah bukan hanya botol plastik dan kemasan, melainkan sisa makanan dan bahan organik yang masuk ke sistem sekolah setiap hari.

Di titik inilah keahlian FTIP Unpad menjadi relevan. Sampah organik tidak cukup hanya dikumpulkan. Jika terlalu basah, kekurangan oksigen, atau tidak dicampur bahan kering, proses pembusukan dapat berubah menjadi anaerob, menimbulkan bau, menghasilkan lindi, dan memunculkan larva. Karena itu, FTIP Unpad mendorong perbaikan proses melalui komposting aerob, penggunaan bioaktivator, serta pengaturan keseimbangan antara bahan basah dan bahan kering.

Sustainable Development Goals (SDGs)

Bagi siswa, proses ini menjadi laboratorium hidup. Mereka tidak hanya menerima materi lingkungan di kelas, tetapi langsung belajar memilah sampah, menimbang, mencatat data, membaca tren timbulan sampah, memahami mengapa komposter bisa panas, dan mengenali bau yang menandakan proses belum seimbang. Dari sini, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas hadir dalam bentuk yang konkret: pendidikan yang menghubungkan pengetahuan, keterampilan, data, dan tindakan nyata.

Pendampingan ini juga mencerminkan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sekolah menyediakan masalah nyata dan ruang praktik, siswa menjadi pelaku utama, guru mengawal proses harian, sedangkan FTIP Unpad membantu memperbaiki teknologi, membaca data, menyusun SOP, dan merancang arah keberlanjutan. Dalam evaluasi, FTIP Unpad turut mendorong penyusunan PKS agar program memiliki fondasi kelembagaan yang lebih kuat, termasuk regenerasi siswa dan penguatan peran sekolah.

Hasil awal program mulai terlihat. SMAN 18 Bandung mencatat panen kompos pertama pada 24 Maret 2026 dengan hasil sekitar 150 kilogram. Sebagian kompos dijual, sementara sisanya digunakan kembali untuk pembuatan bioaktivator dan layering pada siklus berikutnya. Dalam paparan evaluasi, sekolah juga mencatat penjualan 54 kilogram kompos senilai Rp702.000 serta penjualan 32 kilogram sampah dan botol plastik senilai Rp32.000.

Meski nilainya belum besar, pengalaman ini penting bagi pembelajaran SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan. Kontribusinya bukan dalam bentuk pengentasan kemiskinan langsung, melainkan penguatan keterampilan produktif. Siswa belajar bahwa limbah dapat memiliki nilai ekonomi, bahwa omzet berbeda dari keuntungan, dan bahwa produk lingkungan membutuhkan perhitungan biaya, mutu, kemasan, serta pasar.

Program ini juga berkaitan dengan SDG 15 tentang Life on Land. Komposting membantu mengembalikan bahan organik ke tanah dalam bentuk kompos yang dapat digunakan untuk penghijauan sekolah atau media tanam. Melalui proses ini, siswa memahami hubungan antara sampah, tanah, tanaman, dan ekosistem daratan. Sampah yang sebelumnya menjadi beban dapat berubah menjadi input ekologis yang mendukung kesuburan tanah.

Sementara itu, pemilahan botol plastik, pengurangan sampah yang masuk ke saluran air, dan rencana penanganan air lindi berkaitan dengan SDG 14 tentang Life Below Water. Meski kegiatan berlangsung di lingkungan sekolah di daratan, sampah dan lindi yang tidak dikelola dapat mengalir ke drainase, sungai, dan akhirnya memengaruhi ekosistem perairan. Karena itu, pengelolaan sampah sejak sumbernya menjadi bagian dari pendidikan tanggung jawab ekologis.

Dalam diskusi evaluasi, sejumlah agenda lanjutan juga mengemuka. Analisis laboratorium kompos perlu dilakukan dua hingga tiga kali untuk memastikan mutu berdasarkan SOP bahan masuk dan kompos yang dihasilkan. Air lindi perlu ditangani, misalnya melalui pengembangan pupuk organik cair. Sampah nasi, buah, sayur, dan hewani juga perlu dipilah karena masing-masing membutuhkan perlakuan berbeda.

Tantangan berikutnya bukan hanya teknis, tetapi juga kelembagaan. Program lingkungan sekolah sering melemah ketika pengurus OSIS berganti atau guru pendamping mengalami rotasi. Karena itu, regenerasi, SOP sederhana, pembagian peran, serta pengakuan kompetensi siswa menjadi penting agar program tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.

Dari SMAN 18 Bandung, FTIP Unpad menunjukkan bahwa pendampingan perguruan tinggi kepada sekolah tidak harus berupa materi satu arah. Kampus dapat hadir sebagai mitra belajar: membantu sekolah membaca masalah, memperbaiki proses, mengolah data, dan menghubungkan praktik lapangan dengan kompetensi masa depan.

Selama aktivitas sekolah terus menghasilkan sampah, ruang belajar ini perlu terus berjalan. Dengan pendampingan yang konsisten, sampah organik dapat bergerak dalam siklus baru: dari sisa makanan menjadi kompos, dari kompos menjadi produk, dan dari proses itu lahir pengalaman nyata bagi siswa untuk mengenal green jobs. Sistem ekonomi sirkular dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana di sekolah, seperti memilah sisa makanan, mengolahnya dengan benar, dan menjadikannya pembelajaran bernilai bagi lingkungan serta masa depan siswa.

Narahubung:
Media Relations
Kantor Komunikasi Publik
Universitas Padjadjaran
Email: humas@unpad.ac.id

Judul: Di SMAN 18 Bandung, FTIP Unpad Dampingi Pengelolaan Sampah Organik
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *