Arungi Masalah

oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Jumat (03/04/2026) Artikel berjudul “Arungi Masalah” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, hidup tak pernah luput dari masalah. Masalah tak pernah absen dari perjalanan, menyusup di setiap tikungan pilihan. Bahkan saat kaki enggan melangkah, dan diam dipilih sebagai arah di sana pun ia menunggu, menjelma tanya yang tak kunjung beku.

Jangan lari dari masalah, sebab ia setia mengikuti jejak langkah. Semakin jauh kau mencoba menghindar, semakin dekat ia mengejar, hingga lelahmu hanya berputar, tanpa pernah benar-benar keluar.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Hadapilah masalah, meski pelan, meski dengan tangan gemetar terkekang. Karena keberanian bukan tak adanya takut, melainkan tetap melangkah walau hati kalut. Di sanalah pintu-pintu terbuka, bagi jiwa yang mau bertumbuh dewasa.

Hidup bukan jalan yang bersih dari duri, melainkan taman liar yang mesti dipahami. Setiap luka adalah guru yang diam, setiap rintangan adalah pesan yang dalam. Sebab hidup, sejatinya, bukan tentang lari, melainkan seni berdiri kembali. Hidup adalah seni mengelola masalah, menyusun luka jadi makna yang tak sia-sia.

Apa arti hari tanpa gelombang? Apa arti langkah tanpa tantangan? Bila masalah luruh dari semesta, maka denyut hayat pun ikut sirna karena hidup bernapas dari pergulatan, dan tumbuh dari keberanian menghadapi kenyataan.

Kedewasaan bukan soal usia yang menua, melainkan hati yang luas menerima luka. Ia tampak dari cara memandang badai, dengan tenang, tanpa berisik mengutuk langit yang ramai. Masalah besar dipeluk seperti angin lalu, ringan, jernih, tak membelenggu kalbu.

Kekanak-kanakan adalah jiwa yang belum matang dalam sikap, membesarkan riak seolah gelombang samudra. Yang kecil diributkan seakan dunia runtuh, yang sederhana dipersulit hingga hati keruh. Tegang, sempit, dan mudah goyah, terjebak dalam bayang-bayang rapuh dirinya sendiri.

Maka belajarlah menjadi luas, seperti langit yang tak habis oleh awan yang lewat. Tenanglah seperti laut dalam, yang tak terusik riuh di permukaan. Sebab hidup bukan tentang bebas dari masalah, melainkan tentang menjadi lebih besar darinya.

***

Judul: Arungi Masalah
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *