ANTISIPASI BENCANA HIDROMETEOROLOGIS JAWA BARAT

Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati, Seniman, Spritualitas)

ANTISIPASI BENCANA HIDROMETEOROLOGIS JAWA BARAT

MajmusSunda News, Bandung, 29/12/2025 – Pada hari Minggu tanggal 28 Desember 2025 di sekretariat DPKPLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan Lingkungan Tatar Sunda) Jl. A.Yani no 267, mengema kidung air (kidung cai), ciptaan Ambu Rita Laraswati di lantunkan pada acara pembukaan pameran dan penutupan pameran lukisan yang bertema “Air Dalam Perspektif Seni Rupa”. Dalam acara penutupan pameran lukis di adakan diskusi publik yang bertema “Antisipasi Bencana HIDROMETEOROLOGIS di Jawa Barat” yang di laksanakan oleh lembaga DPKPLTS (Dewan Permerhati Kehutanan Lingkungan Tatar Sunda), sebagai ketua pelaksana Heni.J. Henawijaya Ss resmi menutup kegiatan tersebut.

ANTISIPASI BENCANA HIDROMETEOROLOGIS JAWA BARAT

Taboo (komunitas perupa kota Bandung Rahmad Jabbaril sebagai kurator pameran dalam acara penutupan pameran lukis menghadirkan kegiatan yang dilakukan oleh peserta pameran untuk membuat karya bersama merespon persoalan sampah di kota Bandung. Dengan konsep bentuk kekaryaan seni kolase yang menggunakan bahan material sampah untuk di hadirkan dalam pameran berikutnya. Rahmat Jabbaril kembali menegaskan keperhatiannya terhadap masalah sampah di kota Bandung dan keperhatiannya terhadap bencana yang di akibatkan oleh air, sehingga muncul ide untuk membuat pameran bertema air. Harapan agar pameran ini memberikan kesadaran kepada semua pihak baik masyarakat dan pemerintah dapat lebih antisipasi terhadap bencana yang di sebabkan oleh air.

Sebelum acara diskusi di laksanakan para narasumber dan peserta diskusi dari masyarakat, mahasiswa dan para seniman lukis dan budayawan, mendengarkan terlebih dahulu kidung berjudul “kidung cai” di iringi kecapi Tata Braga persembahan Ambu Rita Laraswati (Budayawati).

"kidung cai" di iringi kecapi Tata Braga persembahan Ambu Rita Laraswati (Budayawati).
Lantunan Kidung Cai diiringi kecapi Tata Braga persembahan Ambu Rita Laraswati (Budayawati).

Kidung cai merupakan kidung yang menjadi pengingat untuk manusia bahwa air adalah sangat penting, makna kidung menceritakan perjalan air sebagai zat intisari yang di ciptakan oleh Tuhan. Cai atau air turun dari langit lalu menetap di gunung yang menjulang lalu turun ke bumi bawah memberi kehidupan-kehidupan pada semua mahluk hidup. Makna dari kidung air menjelaskan bahwa airlah zat awal yang menghidupkan manusia, hewan, pohon, rumput dan mahluk yang lainnya.

Kidung cai memberi peringatan bahwa semua yang ada di alam semesta berasal dari air, air adalah wiwitan (awal) yang menciptakan alam semesta dan isinya. Kita manusia berasal dari air mani bapak yang berdiam dalam rahim ibu lalu air menjadikan kehidupan menjadi sumsum, tulang, daging, darah dan semua lahir dan batin manusia.

Kita manusia harus ingat pada purwadaksi atau di sebut asal muasal. Kita harus mengerti dan paham bahwa airpun memiliki watak, karakter dan sifat baik, jujur, berani, kuat, sabar yang harus manusia pahami dan ikuti agar dalam menjalani hidup dalam keadaan aman, tentram, jauh dari persoalan, ketidak nyamanan. Karena air adalah leluhur semua mahluk. Ingat pada air artinya ingat pada Tuhan, ingit pada air artinya ingat pada diri, ingat pada air artinya kita ingat pada awal asal muasal diri kita, itulah manusia yang yang sudah menemukan jati diri, manusia yang sudah menemukan jati diri maka akan memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan menyatu dengan alam. Nilai filosofi kidung air mengingatkanp pada manusia harus tahu diri bahwa air merupakan zat dasar yang utama dalam pembentukan dan penciptaan alam semesta dan mahluk bumi ini bahkan manusia itu sendiri. Namun manusia harus waspada air dapat menjadi momok yang menakutkan, air dapat menjadi musibah bencana yang menyeret, mematikan, menghancurkan kehidupan manusia, hewan, pohon, dan kehancuran. Sudah kita saksikan berita banjir bandang terjadi di setiap wilayah tanah air Indonesia. Banjir besar di Aceh, Padang, Kalimantan, Bengkulu, Sulawesi, Jawa tengah, Cerbon, Bandung dan masih daerah yang lainnya.

Salah satu pembicara mengatakan waspada pada wilayah Jawa Barat, terutama kota Bandung yang kondisi kelembaban cuaca lebih tinggi dan terkenal curah hujan di kota Bandung lebih tinggi, terkenal kota Bandung adalah kota hujan, harus lebih ektra waspada untuk menghadapi bencana hidrometerologis yang kapan saja akan datang. Dalam ajaran kuno ramalan waktu atau siklus perubahan alam di sebut Pranatamangsa yang sudah memiliki data tanggal, bulan apa terjadi perubahan alam. Dari data waktu Pranatamangsa bahwa di bulan November- Desember di sebut mangsa Kanem yang berlangsung 43 hari dari tanggal 9 November sampai 21 Desember perhitungan meteoroligis menjelaskan curah hujan naik 402% arti curah hujan sangat tinggi. Masuk mangsa Kapitu dari 22 Desember sampai 2 Februari dengan siklus 43 hari perhitungan meterologis curah hujan lebih naik lagi menjadi 502%, angin kencang, sungai meluap. Dari siklus perubahan meterologi dari data Kuno sudah harusnya di jadikan acuan untuk mempersiapkan kondisi untuk melakukan mitigasi kebencanaan dan persiapan bencana, artinya bencana dapat di antispasi.Jika kita jeli mengamatib kondisi curah hujan di dua tahun ini sudah tidak sesuai dengan Pranatamangsa kuno, kita dapatkan setiap hari, setiap bulan hampir curah hujan turun, oleh karena itu kita harus lebih waspada.

Pentas tari topeng lima karakter manusia oleh Dra.Ottih. Rostoyoti, Msi.

Persembahan tari topeng lima karakter manusia oleh Dra.Ottih. Rostoyoti Msi seorang seniman senior kota Bandung tidak kalah menyentuh rasa dan memiliki nilai filosofi yang perlu manusia pahami. Filosofi dari tari topeng lima karakter adalah menceritakan kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan memiliki beberapa karakter. Manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan lahir batin dari bayi dengan topeng warna putih yang memiliki filosofi kesucian, topeng warna abu memiliki filosofi manusia yang menginjak dewasa tapi belum mengenal dan menemukan jati diri, warna pink memiliki filosofi manusia yang sudah dewasa tapi masih bingung dan labil terhadap jati diri, topeng warna merah memiliki filosofi manusia yang sudah memiliki jati diri yang memiliki sifat bijaksana, penuh welas asih, peduli pada lingkungan, berbudi pengerti baik, sedangkan topeng yang berwarna merah dengan wajah seperti wajah raksasa, bertaring, mata besar melotot, memiliki filosofi manusia dewasa tetapi tidak menemukan jati diri sejatinya, sehingga manusia itu memiliki sifat tamak, serakah, nafsu berkuasa, ibarat manusia lupa diri seakan bumi ini ingin di telan dan di makan olehnya sendiri, karena dalam pikirannya hanya uang dan harta benda dunia yang di cari. Topeng raksasa berwarna merah, berwajah kejam dan menakutkan adalah gambaran manusia zaman ini yang penuhi jiwa tamak, serakah, zolim, mementingkan diri sendiri sampai merusak dan merugikan banyak orang merusak lingkungan seperti merambah kayu di hutan, sehingga hutan menjadi gundul, membuka lahan tambang. Akibat dari keserakahan manusia membuat alam rusak dan pada saat turun air hujan terjadi bencana banjir besar yang menyeret harta benda dan nyawa manusia. Keserakahan terhadap dunia akhirnya lingkungan alam rusak bencana hidrometeorologi menjadi acaman besar yang paling banyak terjadi dengan meluap air artinya bencana yang di akibatkan oleh air berupa banjir bandang, tanah longsor dan lainnya.

Dalam diskusi di hadirkan empat narasumber yang ahli di bidang kebencanaan dan lingkungan, setiap narasumber memiliki tema masing- masing untuk di sampaikan. Dr.Teten Avianto (Dewan pakar DPKLTS), menyampaikan “Sistem Dinamis Bencan Hidrometeorologis Jawa Barat), Dr. Edi Riawan menyampaikan tentang ” Eary Warning System Bencana Hidrometeorologis di Jawa Barat”, Dadan Sudraja (LPBI NU Jawa Barat) menyampaikan tentang ” Mitigasi Bencana Hidrometeorologis di Jawa Barat”, Usaman Makardi (Kordinator forum Posgab Siaga Bencana Jawa Barat) menyampaikan “Kesiapan Relawan Dalam Menghadapi Bencana Hidrometerologis Di Jawa Barat”. Dr.Dani Ramdan (Mantan Kalak BPBD Jawa Barat) sebagai moderator dalam diskusi tersebut.

Intinya dalam diskusi tersebut beberapa pihak dan lembaga yang peduli pada lingkungan yang ada di Jawa Barat sudah melakukan komunikasi, bersinergi dan perencanaan menghadapi bila bencana Hidrometerologis terjadi di Jawa Barat. Harapan dari diskusi semua narasumber dan masyarakat antara pemerintah dan lembaga-lembaga yang peduli dapat saling berkordinasi untuk persiapan dalam proses mitigasi bencana atau sesudah bencana agar masyarakat dapat ternaungi dan terhindar dari korban bencana yang merengut harta dan nyawa.

Bandung Selasa 30 Desember 2025.
Anggara 3s pon,Yesta 1962 Caka Sunda

 

YAYASAN SUNDA13BUHUN

 

*****

Judul: ANTISIPASI BENCANA HIDROMETEOROLOGIS JAWA BARAT

Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati, Seniman, Spritualitas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *