Berpacu dengan Waktu

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif

Berpacu dengan waktu
Ilustrasi: Berpacu dengan Waktu - (Sumber: Arie/MMS)

MajmusSunda News, Rubrik OPINI, Kamis (31/07/2025) Esai berjudul “Berpacu dengan Waktu” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, ada masa dalam hidup ketika pagi terasa kekal—langit luas, langkah ringan, dan waktu seolah tak punya ujung. Namun, seiring usia menua, kita mulai mendengar detak jam seperti ketukan palu yang mengabarkan kefanaan.

Di titik ini, hidup tak lagi tampak sebagai jalan panjang yang terbentang tanpa batas, melainkan sebagai sekelebat cahaya di antara dua senyap. Seperti bianglala yang pernah mengangkasa. Namun, perlahan menurun ke batas putarannya, kita menyadari: segalanya fana dan waktu tak menoleh.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif, penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Betapa aneh perangai manusia: semakin renta raga, semakin rakus jiwa. Ketika kulit mengeriput dan langkah mulai gemetar, masih saja ada yang memekik haus akan kuasa, menggenggam harta dengan tangan gemetar seakan kematian bisa ditunda dengan rekening bank. Masih culas pada sesama, seakan tak cukup dosa yang dikoleksi sepanjang usia.

Telah menapaki senja, tapi masih lihai menjegal kawan dan memungut remah dari meja orang lapar. Mereka menua, tapi tak membijak. Berkepala perak, tapi berselera serakah. Lupa, bahwa hidup tak diukur dari panjang umur, tapi dari kedalaman makna.

Berbeda dengan mereka yang eling dan waspada—yang mengerti bahwa menjelang senja, bukan kekuasaan yang perlu dipeluk, melainkan keikhlasan untuk melepas. Mereka tak sibuk memamerkan capaian, sebab tahu bahwa keagungan sejati terletak pada keberanian mendengar suara nurani dan berkata benar, meski sunyi.

Bagi mereka, hidup bukan soal membuktikan diri pada dunia, tapi tentang menorehkan kebaikan yang tinggal sebagai gema dalam ingatan sejarah. Sebab kelak, ketika tubuh telah rebah dan nama tinggal di batu nisan, dunia tak akan mengingat seberapa tinggi dan lama jabatan yang pernah kau raih, atau seberapa rakus kau menimbun dunia.

Dunia hanya mengenang: apakah kehadiranmu membuat hidup sesama menjadi lebih bermakna? Bila jawabnya tak ditemukan, sekuat apa pun engkau mencengkeram dunia, engkau tetap pulang dengan tangan hampa.

Maka, sebelum langkah berhenti, mari diam sejenak—mendengar bisikan nurani yang lama terabaikan. Masih ada waktu untuk mengalihkan hidup dari mengejar gengsi menjadi memberi arti. Jangan sampai malam datang, lentera jiwa padam.

***

Judul: Berpacu dengan Waktu
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif, penulis – (Sumber: Istagram)

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *