Berinovasi Hari Ini, Menutrisi Hari Esok

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Rabu (21/10/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Berinovasi Hari Ini, Menutrisi Hari Esok” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Tema resmi Hari Pangan Sedunia 2026 dari FAO adalah “Innovate today. Nourish tomorrow”. Atau diartikan “Berinovasi hari ini. Menutrisi hari esok”. Itu tema global, termasuk yang dipakai Indonesia. Peringatan Hari Pangan Sedunia jatuh setiap 16 Oktober.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Untuk 2026, fokus temanya adalah peran inovasi, sains, dan teknologi untuk membangun sistem pangan yang lebih efisien, inklusif, tahan iklim, dan berkelanjutan — mulai dari benih tahan kekeringan, vertical farming, rantai pasok rendah limbah, sampai protein alternatif.

“Berinovasi hari ini, menutrisi hari esok”. Ungkapan ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah seruan bertindak (call to action) global yang memiliki makna filosofis dan taktis yang sangat mendalam:

1. Inovasi sebagai Kunci Menghadapi Krisis Global (“Berinovasi Hari Ini”).
Frasa pertama menekankan bahwa metode pertanian konvensional tidak lagi cukup untuk menghadapi tantangan zaman seperti perubahan iklim ekstrem (Super El Nino), penyusutan lahan, dan lonjakan populasi global. Kita dituntut untuk melahirkan solusi berwawasan ke depan sekarang juga.

Penggabungan sains dan teknologi modern (seperti pertanian presisi, kecerdasan buatan, bio-teknologi) dengan kearifan lokal. Contoh konkretnya di Indonesia adalah pemanfaatan varietas benih tahan kering dan optimalisasi teknologi pangan lokal (foodpreneurship).

2. Fokus Jangka Panjang pada Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas (“Menutrisi Hari Esok”). Kata kunci dalam tema ini adalah “Menutrisi”(Nourish), bukan sekadar “Memberi Makan” (Feed). Maknanya, target dunia bukan lagi sekadar memastikan perut masyarakat kenyang agar terhindar dari kelaparan, melainkan memastikan makanan yang diakses aman, beragam, berkualitas, dan kaya akan gizi. “Hari esok” merujuk pada investasi kesehatan generasi masa depan agar terbebas dari stunting dan malnutrisi.

3. Keberlanjutan Lingkungan (Sustainability). Berinovasi hari ini ditujukan untuk melindungi planet bumi agar tetap produktif di masa depan. Inovasi yang diciptakan harus ramah lingkungan (seperti pengurangan emisi karbon pertanian dan penghematan air). Tujuannya agar sistem pangan yang kita bangun saat ini tidak merusak alam, sehingga anak-cucu kita kelak (“hari esok”) masih memiliki sumber daya tanah dan air yang sehat untuk memproduksi makanan mereka sendiri.

Secara universal, ungkapan ini mengajarkan bahwa tindakan, investasi, dan teknologi pertanian yang kita pilih dan kembangkan hari ini akan menentukan kualitas hidup, ketahanan kesehatan, dan kelangsungan generasi penerus di masa depan.

Kondisi nyata implementasi semangat “Berinovasi hari ini, menutrisi hari esok” di Indonesia saat ini (September 2026)mencerminkan langkah agresif pemerintah dalam melakukan modernisasi teknologi pertanian sekaligus melakukan revolusi perbaikan gizi masyarakat secara masif.

Berikut adalah potret riil dari dua pilar utama tersebut di tanah air:
Pertama, kondisi “Berinovasi Hari Ini” (Sisi Pertanian Modern). Pemerintah dan para pelaku pertanian lokal tidak lagi bertumpu pada cara konvensional guna menghadapi ancaman iklim, melainkan menggeber pemanfaatan teknologi.

Di momen Hari Tani Nasional baru-baru ini, fokus utama kementerian adalah transformasi pertanian modern. Penyaluran alat mesin pertanian (alsintan) pintar, teknologi pompanisasi, hingga penggunaan varietas benih unggul lokal yang adaptif terhadap kekeringan (seperti riset benih bawang putih dan padi tahan cuaca ekstrem) sedang digencarkan untuk memperkuat swasembada pangan.

Kemudian, lahir berbagai terobosan kreatif yang didukung langsung oleh kepala negara, seperti konversi bonggol jagung tak terpakai menjadi briket arang energi, serta pemanfaatan pupuk berbahan dasar batu bara kalori rendah untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia impor. Selain itu, lewat pemanfaatan lahan rawa (Oplah) dan inovasi teknologi tanam, Indonesia mencatat rekor cadangan beras terbesar di gudang pemerintah yang kini menembus angka di atas 5,1 hingga 5,3 juta ton.

Kedua, kondisi “Menutrisi Hari Esok” (Sisi Kesehatan & SDM). Konsep “menutrisi” diterjemahkan secara nyata sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045.

Penguatan makan bergizi gratis (MBG). Ini menjadi program unggulan paling taktis saat ini. Kebijakan ini tidak lagi dipandang sekadar bansos makanan biasa, melainkan Program Investasi Nutrisi Generasi Emas. Program ini mengintegrasikan pasokan dari petani lokal langsung ke dapur-dapur komunitas agar anak sekolah, ibu hamil, dan balita mendapatkan pasokan gizi optimal serta seimbang.

Fokus pada titik krisis stunting. Evaluasi berkala yang melibatkan institusi seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengarahkan agar titik-titik penyaluran nutrisi difokuskan pada wilayah stunting hotspot dan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Pengukuran keberhasilan diukur langsung dari perbaikan status gizi penerima secara berkala. Keamanan pangan lokal. Kampanye pemanfaatan pangan lokal (seperti umbi-umbian nusantara, singkong, dan ubi jalar) diperkuat melalui standardisasi keamanan pangan yang ketat agar masyarakat terbiasa mengonsumsi makanan yang higienis, bergizi, dan minim kontaminasi zat berbahaya.

Secara keseluruhan, Indonesia saat ini sedang menyeimbangkan kedua aspek ini dengan sangat serius: teknologi di hulu (sawah) diciptakan seefisien mungkin agar menghasilkan bahan pangan berlimpah, sedangkan distribusi di hilir (piring makan) diatur seketat mungkin untuk mencetak generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, dan bebas dari kelaparan. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Berinovasi Hari Ini, Menutrisi Hari Esok
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *