Jojodog

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (18/10/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Jojodog” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Jojodog adalah istilah dari bahasa Sunda yang berarti bangku kecil, rendah, dan umumnya berkaki pendek yang digunakan sebagai tempat duduk tunggal untuk satu orang. Perabot tradisional ini biasanya diletakkan di dapur (khususnya dapur rumah perkampungan zaman dulu yang masih menggunakan tungku kayu/hawu) atau di teras rumah.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Karakteristik jojodog. Bahan mayoritas terbuat dari kayu utuh, papan sisa, atau bambu . Ukuran sangat rendah, tingginya biasanya hanya berkisar antara 15 hingga 30 sentimeter saja. Bentuk umumnya berbentuk kotak persegi atau persegi panjang sederhana tanpa sandaran punggung maupun tangan.

Fungsi dan filosofi. Karena ukurannya yang kecil dan ringan, jojodog sangat mudah dipindahkan ke mana-mana (portable). Biasanya dipakai saat memasak di dekat lantai, mencuci pakaian, atau saat mengobrol santai di halaman rumah. Simbol kesederhanaan: Dalam budaya masyarakat Sunda, jojodog adalah simbol kehidupan yang sederhana, membumi (kolektif), dan akrab. Duduk di atas jojodog mencerminkan sikap tidak sombong karena posisi duduk yang sangat dekat dengan tanah.

Melihat jojodog bukan sekadar melihat sepotong kayu berkaki pendek untuk alas duduk. Dalam kearifan lokal budaya Nusantara (khususnya Sunda), jojodog menyimpan makna filosofis yang sangat dalam tentang hakikat kehidupan, kerendahan hati, dan cara manusia menempatkan diri di dunia.

Berikut adalah makna filosofis jojodog dalam kehidupan: Yang utama, Filosofi Kerendahan Hati (Andhap Asor / Membumi). Duduk di atas jojodog memaksa tubuh kita berada sangat dekat dengan tanah atau lantai.

Ini adalah simbol dari sikap membumi dan rendah hati. Jojodog mengajarkan manusia bahwa setinggi apa pun jabatan, kekayaan, atau status sosial kita, pada hakikatnya kita semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Duduk rendah di atas jojodog mengikis kesombongan dan keangkuhan diri.

Selanjutnya, Simbol Kesederhanaan dan Kebahagiaan Otentik. Jojodog dibuat tanpa sandaran empuk, tanpa ukiran mewah, dan sering kali hanya memanfaatkan sisa-sisa kayu atau bambu yang ada. Namun, perabot ini sangat fungsional dan kokoh.

Kehidupan yang tenang dan bahagia tidak melulu diukur dari fasilitas yang mewah atau “kursi” jabatan yang megah. Kebahagiaan otentik lahir dari kesederhanaan, rasa syukur, dan jiwa yang tangguh dalam menerima apa adanya kondisi kehidupan.

Kemudian, Jembatan Keakraban dan Kesetaraan (Demokratis). Zaman dahulu, ketika tetangga berkunjung ke dapur atau teras, mereka akan disuguhi jojodog untuk duduk bersama. Saat semua orang duduk di atas jojodog, tinggi kepala mereka sejajar. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih berkuasa.

Jojodog melambangkan kesetaraan manusia dan kehangatan hubungan sosial. Di atas jojodog, sekat-sekat kelas sosial mencair, memicu komunikasi yang jujur, akrab, dan tanpa jarak. Ini adalah ruang musyawarah warga yang paling murni.

Lalu, Sikap Fleksibel dan Adaptif (Pragmatis). Jojodog itu ringan, tidak memakan tempat, dan mudah dibawa ke mana saja—baik ke dapur, ke kebun, maupun ke depan rumah. Manusia harus memiliki jiwa yang fleksibel dan adaptif seperti jojodog. Di mana pun kita ditempatkan, dalam situasi sesulit apa pun, kita harus bisa membawa manfaat, kuat menahan beban, dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tanpa banyak mengeluh.

Jojodog dapat menjadi simbol tamparan sekaligus kompas moral bagi para pemimpin bangsa karena setiap jengkal bentuk fisik dan fungsinya mengajarkan esensi kepemimpinan yang membumi, prorakyat, dan tanpa sekat. Ketika seorang pemimpin menyerap filosofi perabot rendah ini, orientasi kekuasaannya akan bergeser dari sekadar mengejar kehormatan menjadi pelayan rakyat sejati.

Berikut adalah bagaimana filosofi jojodog dapat mengilhami para pemimpin bangsa untuk tampil bersahaja: Pertama, Menyadari Posisi “Duduk Rendah” di Tengah Rakyat. Kursi jabatan tinggi sering kali membuat pemimpin terjebak dalam menara gading yang membuatnya abai terhadap realitas di akar rumput. Jojodog yang pendek mengilhami pemimpin untuk selalu berani turun ke bawah (blusukan) dan menyejajarkan diri dengan rakyat. Pemimpin yang bersahaja tidak canggung duduk sama rendah agar bisa mendengarkan keluh kesah, tangisan, dan aspirasi masyarakat tanpa sekat protokoler yang kaku.

Kedua, Memotong Ego Singgasana Mewah. Dalam budaya kekuasaan, kursi mewahsering kali memicu kesombongan, kultus individu, dan jarak sosial. Jojodog mengajari para pejabat bahwa jabatan itu sementara dan hakekatnya hanyalah sebuah alat bantu kerja, bukan simbol status untuk pamer kemewahan. Pemimpin yang terilhami oleh jojodog akan tampil dengan gaya hidup yang hemat, tidak bermewah-mewahan menggunakan fasilitas negara, dan fokus mengalokasikan anggaran untuk kesejahteraan rakyat (seperti program pemenuhan gizi dan pengentasan kelaparan) daripada mempercantik fasilitas kantornya.

Ketiga, Bersikap Fleksibel, Tangguh, dan Siap Bekerja di Mana Saja. Jojodog diletakkan di dapur yang penuh asap, di teras yang berdebu, atau di kebun yang becek dan ia tetap kokoh menahan beban. Ini mengilhami pemimpin untuk tidak menjadi “pemimpin salon” yang hanya mau bekerja di ruangan ber-AC yang nyaman. Pemimpin yang bersahaja harus tangguh menghadapi krisis, adaptif, dan siap turun ke medan sesulit apa pun demi memastikan roda pemerintahan dan pelayanan publik berjalan dengan baik.

Keempat, Menjunjung Tinggi Kesetaraan dan Demokrasi Murni. Saat mengobrol sambil duduk di atas jojodog, semua kepala manusia berada pada tinggi yang sejajar. Filosofi ini mengajarkan pemimpin bangsa untuk menghargai kesetaraan hukum dan hak setiap warga negara. Pemimpin yang bersahaja tidak akan antikritik; mereka memandang kritik dari masyarakat kecil memiliki bobot yang sama pentingnya dengan saran dari sesama elite politik. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *