Rully selaku Ketua Umum Angkatan Muda Siliwangi Menyampaikan Keprihatinannya yang Mendalam atas Insiden Penyerangan Bus Pemain Persib U-18

Rully
Ketua Umum PP AMS, Drs. Rully H. Alfiady

MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (17/10/2026) – Ketua Umum PP AMS, Drs. Rully H. Alfiady, saat ditemui jurnalis MajmusSunda News, menyampaikan keprihatinannya yang mendalam atas insiden penyerangan bus yang mengangkut para pemain Persib usia 18 tahun oleh oknum pendukung klub sepak bola lain. Ia menegaskan bahwa fanatisme terhadap olahraga tidak boleh mengalahkan nilai-nilai kemanusiaan serta merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Pertandingan olahraga dianggap sebagai hal yang wajar dengan dinamika kemenangan dan kekalahan sehingga tindakan destruktif maupun kriminal sama sekali tidak dapat dibenarkan. Ditegaskan pula bahwa peristiwa kekerasan semacam ini harus menjadi yang terakhir kalinya dan tidak boleh terulang kembali di Indonesia.

Rivalitas Lapangan dan Batas Kemanusiaan: Pesan Menohok dari Tragedi Penyerangan Bus Persib U-18

Fanatisme sepak bola di Tanah Air kembali menunjukkan sisi kelamnya. Insiden penyerangan terhadap bus yang membawa para penggawa Persib usia 18 (U-18) oleh oknum suporter dari salah satu klub di Indonesia menjadi kabar duka sekaligus tamparan keras bagi dunia olahraga nasional. Tindakan kekerasan ini terasa jauh lebih menyayat hati karena menyasar atlet-atlet muda yang sedang meniti karier di tingkat pembinaan—generasi penerus yang seharusnya dilindungi dan dipupuk, bukan diintimidasi dengan teror trauma psikologis.

Menanggapi peristiwa memprihatinkan tersebut, Rully selaku Ketua Umum Angkatan Muda Siliwangi (AMS) menyuarakan penyesalan yang sangat mendalam. Di tengah keprihatinan atas tindakan tidak bertanggung jawab oknum suporter tersebut, beliau mengetuk kesadaran publik untuk merenungkan kembali fondasi dasar berolahraga dan berbangsa yang kian tergerus emosi sesaat.

Peristiwa ini mengusik nurani dan memaksa kita untuk kembali merenungkan batas yang tegas: di manakah titik henti antara rasa cinta pada klub kesayangan dan penghormatan terhadap nilai-nilai dasar kemanusiaan?

Kemanusiaan dan Persatuan di Atas Fanatisme Sepak Bola

Dukungan dan kecintaan terhadap klub sepak bola atau cabang olahraga apa pun tidak boleh mengikis rasa kemanusiaan, apalagi merusak fondasi persatuan bangsa. Ketika rasa benci mengaburkan akal sehat hingga anak-anak muda di tim U-18 dijadikan sasaran amuk massa, fanatisme telah berubah menjadi penyakit sosial yang berbahaya. Fanatisme buta kerap membuat sebagian orang lupa bahwa sepak bola hanyalah sebuah permainan, sementara persaudaraan sebagai sesama warga negara adalah hal yang abadi.

Pesan reflektif ini ditegaskan secara menohok oleh Rully saat menyoroti batas moral yang tak boleh dilanggar dalam mendukung tim kesayangan:

“Kecintaan kita terhadap sepak bola, olahraga apa pun, jangan sampai menghilangkan sisi kemanusiaan kita. Jangan sampai menghilangkan atau merusak persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa,” ujar Rully.

Mengorbankan rasa kemanusiaan serta merusak persatuan dan kesatuan bangsa demi membela klub olahraga adalah sebuah kekeliruan besar. Olahraga diciptakan untuk membina jiwa, membangun karakter atlet muda, dan merajut kebersamaan. Ketika fanatisme berujung pada ancaman keselamatan jiwa, esensi dari olahraga itu sendiri telah runtuh. Persatuan bangsa jauh lebih berharga daripada rivalitas dalam bentuk apa pun.

Rivalitas Berakhir Saat Peluit Panjang Ditiup

Hakikat dari sebuah kompetisi olahraga adalah ruang persaingan yang memiliki aturan dan batasan waktu yang jelas. Dalam setiap pertandingan, hasil menang atau kalah adalah hal yang wajar dan menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika olahraga itu sendiri.

Mengingatkan kembali hakikat dasar berolahraga yang kini sering dilupakan, Rully menggarisbawahi batas logis dari sebuah pertandingan:

“Bahwa kompetisi dalam olahraga itu biasa, ada waktunya, ada kalah dan menang. Setelah itu, ya selesai,” ujar Rully.

Setelah pertandingan usai dan peluit panjang ditiup, seluruh rivalitas yang ada di dalam lapangan seharusnya langsung berakhir. Ketika kompetisi selesai, semua pihak kembali pada status dasar mereka sebagai warga bangsa dan saudara sesama anak negeri.

Dibutuhkan kedewasaan dalam bersikap untuk menerima apa pun hasil pertandingan. Membawa kebencian, emosi, atau dendam ke luar area lapangan—apalagi melampiaskannya secara brutal kepada tim pembinaan usia muda—merupakan bentuk ketidakdewasaan yang tidak memiliki tempat dalam dunia olahraga.

Hentikan Tindakan Destruktif dan Kriminal—Ini Harus Jadi yang Terakhir

Harus ada garis batas yang jelas dan tegas antara “bentuk dukungan kepada tim” dan “tindakan kejahatan kriminal”. Aksi perusakan dan penyerangan fisik terhadap bus pemain bukanlah cerminan dari budaya suporter, melainkan tindakan destruktif yang mengarah pada ranah kriminalitas. Kita sebagai warga bangsa dan sesama saudara tidak sepatutnya melakukan hal-hal yang menimbulkan kerusakan maupun tindakan destruktif yang mencoreng wajah sepak bola Tanah Air.

Dengan nada penuh keprihatinan sekaligus ketegasan, Rully menyerukan agar aksi kekerasan ini dihentikan untuk selamanya:

“Saya kira ini cukup yang terakhir. Jangan sampai terjadi lagi oleh pihak mana pun, oleh siapa pun, kepada siapa pun di bumi Indonesia ini,” ujar Rully.

Aksi penyerangan terhadap bus pemain Persib U-18 harus menjadi titik balik dan momentum pembenahan total. Garis tegas harus ditarik: kekerasan bukanlah bagian dari sepak bola. Penyerangan destruktif ini harus menjadi peristiwa terakhir dan tidak boleh lagi terjadi kepada siapa pun, oleh siapa pun, serta oleh pihak mana pun di Tanah Air.

Tragedi penyerangan bus penggawa Persib U-18 memberikan pelajaran berharga bahwa fanatisme yang tidak terkendali hanya akan membuahkan kerusakan dan rasa malu. Olahraga sejatinya hadir untuk menyatukan dan mendidik, bukan memecah belah atau mengancam masa depan atlet-atlet muda kita. Sudah saatnya seluruh elemen pencinta sepak bola dan masyarakat luas kembali memegang teguh nilai kemanusiaan, kedewasaan, serta rasa persaudaraan di atas segala jenis rivalitas olahraga.

Sebagai renungan bersama, bagaimanakah kita dapat terus menikmati dan mendukung sepak bola dengan penuh semangat tanpa harus kehilangan akal sehat dan merusak rasa kemanusiaan serta persatuan kita sebagai sesama bangsa Indonesia?

Judul: Rully selaku Ketua Umum Angkatan Muda Siliwangi Menyampaikan Keprihatinannya yang Mendalam atas Insiden Penyerangan Bus Pemain Persib U-18
Jurnalis: Asep AZM/Jumari
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *