Usaha Ternak Ayam BUMDes BJB Cihanjuang, Ikhtiar Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa

Oleh: Rameli Agam

Usaha Ternak
Usaha peternakan ayam potong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berkah Jaya Bersinar (BJB) Cihanjuang di Kampung Sawah Lega, Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Kamis

MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (17/10/2026) – Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat desa menjadi salah satu ikhtiar memperkuat ekonomi lokal yang berkelanjutan. Dengan prinsip pelibatan dan partisipasi masyarakat, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berkah Jaya Bersinar (BJB) Cihanjuang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, mengembangkan usaha ternak ayam pedaging (broiler).

Menempati lahan di Kampung Sawah Lega, kandang ternak ayam BUMDes BJB Cihanjuang berukuran 10 m × 50 m dan terdiri atas dua lantai. Kandang yang terbilang modern ini dilengkapi aneka peralatan elektrik, standar sanitasi sehat, dan berada di tengah perkebunan yang jauh dari permukiman. Kotoran ayam pun dimanfaatkan untuk pupuk.

Sesepuh BUMDes BJB Cihanjuang, H. Wahyudin, mengungkapkan bahwa sejak berdiri sekitar tujuh bulan lalu, usaha ternak ayam pedaging ini telah lima kali panen. Untuk sekali masa ternak, terdapat 5.000 bibit ayam atau day-old chick (DOC) yang didapat dari penyedia DOC di sekitar Bandung.

“Anak ayam itu kemudian dibudidayakan khusus selama 30–45 hari untuk diproduksi sebagai ayam potong atau daging. Saat awal, berat badannya berkisar antara 30 hingga 40 gram per ekor,” ujarnya saat ditemui di lokasi peternakan, Kamis (8/10/2026).

Terkait kondisi fisik DOC yang baik, dia menuturkan bahwa secara umum anak ayam itu terlihat lincah, aktif, bernapas stabil, serta memiliki bulu yang kering, bersih, dan seragam. Demikian pula, matanya cerah serta paruh dan kakinya kuat.

“Di masa awal pembudidayaan, sangat penting untuk menjaga pemberian energi dan pengaturan suhu. Kondisi ayam di awal-awal masa DOC memerlukan penghangat karena belum mampu mengatur suhu tubuhnya sendiri. Adapun pakannya, yakni makanan konsentrat atau mako,” katanya.

Selama lima kali masa panen, setiap panen dari 5.000 ekor ayam itu rata-rata menghasilkan 8 ton. Ayam-ayam itu diterima oleh para pengusaha ayam potong di beberapa daerah di Bandung Raya dengan rata-rata harga Rp21.000–Rp22.000 per kilogram.

“Setelah dikurangi biaya produksi seperti pakan, pemakaian air dan listrik, upah pegawai, dan operasional lainnya, alhamdulillah ada keuntungan sekitar Rp1,5 juta,” ucap H. Wahyudin.

Sementara itu, Kepala Desa Cihanjuang, Gagan Wirahma, menyatakan bahwa BUMDes berfungsi sebagai lembaga ekonomi dan pelayanan umum serta penggerak potensi desa yang dikelola bersama oleh pemerintah desa dan masyarakat.

Keberadaan BUMDes BJB Cihanjuang diharapkan dapat lebih memaksimalkan pengelolaan potensi desa, sumber daya alam dan SDM, juga aset-aset desa agar memiliki nilai ekonomis.

“Hasil dari BUMDes ini merupakan salah satu pendapatan asli desa yang dimanfaatkan kembali untuk kemajuan desa,” ujarnya.

Adapun Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Cihanjuang, Iman Taufik Safari, menilai bahwa meski terbilang baru melangkah, BUMDes BJB Cihanjuang sudah menampakkan kemajuan yang menjanjikan.

“Selain penyerapan kerja warga lokal, perputaran potensi nilai ekonomi dan jaringannya pun bertahap terlihat semakin berkembang,” tuturnya.

Judul: Usaha Ternak Ayam BUMDes BJB Cihanjuang, Ikhtiar Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa
Penulis: Rameli Agam
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *