MajmusSunda News, Jum’at (16/10/2026) – Artikel berjudul “Dana Darma Pancasila” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Yayasan Dana Darma Pancasila (DDP) adalah lembaga filantropi dan kecendekiaan yang memobilisasi sumber daya untuk mengarusutamakan Pancasila sebagai paradigma pembangunan Indonesia merdeka.

Para pendirinya merupakan gabungan dari para pengusaha nasional dan cendekiawan: Pontjo Sutowo, Aburizal Bakrie, Siswono Yudhohusodo, Wiwoho Basuki Tjokronegoro, Yudi Latif, Ahmad Zaky Siradj.
Lembaga ini didirikan atas kesadaran bahwa Pancasila tak cukup dipahami sebagai dasar filosofis yang abstrak. Pancasila juga tak cukup ditempatkan sebagai landasan normatif yang legalistik dan formalistik. Pancasila perlu dihidupkan sebagai ideologi kerja yang menjadi kerangka interpretasi untuk bertindak dalam usaha mewujudkan cita-cita nasional.
Untuk itu, DDP mendorong pemikiran dan aksi kebangsaan melalui tiga ranah peradaban: tata nilai mental-kultural, tata kelola kelembagaan sosial-politik, dan tata sejahtera perekonomian yang berkemakmuran dan berkeadilan.
Ketiga ranah itu menjadi
kerangka konseptual bagi upaya membangun kehidupan kewargaan yang kompeten, berkepribadian dan berintegritas; politik dan pemerintahan yang bersih, inklusif dan efektif; kemakmuran ekonomi yang inklusif dengan nilai tambah yang tinggi dan rantai nilai yang luas.
Sebagai lembaga filantropi, DDP menggalang dan menyalurkan sumber daya bagi pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat. Dukungan tersebut terutama diarahkan untuk memperkuat pemikiran dan pengamalan Pancasila.
Salah satu program unggulannya adalah dukungan penelitian bagi mahasiswa pascasarjana (S2 dan S3). Program ini ditujukan bagi mereka yang mengembangkan kajian tentang pemikiran dan pengamalan Pancasila.
DDP juga menyelenggarakan Sekolah Kebangsaan “Belajar Indonesia Merdeka” (BINEKA). Sekolah kader yang mempertemukan tunas pemimpin dari seluruh penjuru tanah air untuk belajar, bertukar pikiran, dan berjuang bersama menjadi Indonesia yang berjiwa merdeka berlandaskan Pancasila.
DDP berupaya membangun jaringan cendekia, inkubasi bisnis, pengembangan talenta, dan gerakan kebajikan Pancasila; melibatkan kerjasama penta helix sebagai ruang bertemunya inisiatif, pengetahuan dan pengalaman kebangsaan.
***
Judul: Dana Darma Pancasila
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












